“Kita Berkebaya” — Sebuah Gerakan yang Lebih dari Sekadar Busana
Dilihat : 594

Pada acara Pos Bloc Jakarta akhir pekan lalu, aroma
nostalgia langsung menyergap: alunan gamelan pelan, para perempuan berseliweran
dalam aneka ragam kebaya, dan stan-stan UMKM lokal yang memamerkan bordir
tangan, kain batik, dan aksesori etnik. Ini bukan sekadar festival fesyen — ini
adalah Kebaya Fest 2025, dan saya bisa merasakannya sejak langkah
pertama: ini adalah tentang kebangkitan perempuan Indonesia.
Dengan tema “Kita Berkebaya”, festival ini bukan
hanya merayakan kebaya sebagai busana tradisional, tetapi juga sebagai identitas,
perlawanan lembut, dan alat pemberdayaan.
Hari pertama dibuka dengan Tarian Kebaya Serumpun.
Bayangkan perempuan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand menari
bersama dalam kebaya khas mereka — simbol persatuan budaya Asia Tenggara yang
kini diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
Hari kedua menyentuh hati saya: talkshow bertema "Kebaya:
Dari Lemari Nenek ke Rak Startup" membahas bagaimana kebaya kini
dihidupkan ulang oleh desainer muda dan pelaku UMKM. Bahkan ada cerita dari Bu
Marni, penjahit rumahan dari Klaten, yang kini menerima pesanan daring dari
luar negeri berkat Instagram dan komunitas #KitaBerkebaya.
Hari ketiga? Luar biasa. Fun bike berkebaya! Saya,
dan ratusan peserta lain, bersepeda keliling Jakarta mengenakan kebaya. Berat?
Tidak. Justru terasa menyenangkan, ringan, dan... sangat membanggakan.
Lebih dari sekadar perayaan, Kebaya Fest 2025 juga
menjadi panggung bagi puluhan UMKM perempuan yang menjajakan produk:
dari kain batik tulis, bros handmade, hingga sepatu bordir buatan tangan.
Beberapa bahkan mengadakan workshop menjahit kebaya dan
membuat tas kebaya. Salah satu peserta, Dian (22 tahun), mahasiswi desain,
berkata, “Saya baru sadar bahwa saya bisa membangun brand saya sendiri dari
tradisi.”
Bayangkan—sebuah acara budaya yang bisa membuka jalan usaha,
membuka obrolan soal emansipasi, dan membuat anak muda kembali mencintai wastra
lokal.
Bagi saya pribadi, Kebaya Fest 2025 meninggalkan lebih dari
sekadar kesan visual. Ia memberi pelajaran: bahwa pemberdayaan perempuan
tidak harus bersuara lantang, kadang cukup lewat lipatan kain, jahitan penuh
cinta, dan kebanggaan memakai warisan leluhur.
Kita berkebaya bukan karena tren, tapi karena kita tahu
siapa kita — dan ke mana kita ingin membawa budaya ini.
- Workshop bordir kebaya bersama desainer
muda lokal.
- Peserta Fun Bike berkebaya melintas di
Jalan Medan Merdeka.
Kebaya Fest 2025 bukan hanya ajang budaya — ini adalah pergerakan sosial halus tapi kuat, dan saya bangga bisa menjadi bagian kecil darinya. Semoga tahun depan lebih banyak perempuan bergabung. Bukan sekadar mengenakan kebaya, tapi ikut menjahit ulang harga diri dan masa depan Indonesia.