Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno Meninggal Dunia di usia 90 Tahun
Dilihat : 18
Senin pagi, 2 Maret 2026, Indonesia kembali berduka. Wakil
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno,
menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD)
Gatot Soebroto, Jakarta pada pukul sekitar 07.00 WIB, di usia 90
tahun.
Sebagai tokoh militer sekaligus negarawan, berita ini
disampaikan kepada publik melalui pernyataan resmi dari keluarga dan pejabat
pemerintah, serta dibenarkan oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi,
yang menyatakan rasa dukacita yang mendalam atas kepergian beliau.
Try Sutrisno bukan hanya sekadar nama dalam daftar tokoh
nasional, ia adalah figur yang memiliki peranan penting dalam sejarah
kontemporer Indonesia. Lahir di Surabaya pada 15 November 1935,
kariernya menapaki puncak militer hingga jabatan Wakil Presiden. Sebelum
memegang kursi wapres, Try dikenal sebagai Panglima Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia (ABRI) dan panglima militer yang disiplin serta teguh
menjunjung ideologi Pancasila.
Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, Try dipercaya
menjabat sebagai Wakil Presiden RI periode 1993–1998 — masa yang penuh
dinamika politik nasional sebelum era reformasi.
Kisah inspiratif dari perjalanan hidup Try Sutrisno, Wakil Presiden ke-6 RI, yang banyak dikenang sebagai prajurit sekaligus negarawan yang sederhana dan tegas.
1. Dari Anak Surabaya ke Pucuk Pimpinan Militer
Lahir di Surabaya pada 15 November 1935,
Try Sutrisno tumbuh di masa sulit pascakemerdekaan. Ia bukan berasal dari
keluarga elite politik. Karier militernya dimulai dari bawah, ditempa dalam
berbagai penugasan lapangan yang keras.
Inspirasi:
- Kesuksesan tidak selalu lahir dari privilese, tetapi dari ketekunan dan disiplin yang konsisten.
- Ia membuktikan bahwa kepemimpinan dibangun lewat proses panjang, bukan jalan pintas.
2. Disiplin Tanpa Kompromi
Sebagai Panglima ABRI sebelum menjadi Wakil Presiden, Try dikenal tegas terhadap kedisiplinan prajurit. Ia sering menekankan bahwa kekuatan militer bukan hanya soal senjata, tetapi tentang moral dan tanggung jawab terhadap rakyat.
ia kerap mengingatkan bahwa prajurit adalah
“tentara rakyat” — bukan penguasa rakyat.
Inspirasi:
- Kepemimpinan sejati adalah tentang tanggung jawab, bukan kekuasaan.
- Integritas lebih penting daripada popularitas.
3. Tetap Sederhana di Kursi Wakil Presiden (1993–1998)
Saat menjabat sebagai Wakil Presiden RI mendampingi Presiden Soeharto, Try Sutrisno dikenal tidak gemar tampil berlebihan. Gaya komunikasinya lugas, tidak retoris, dan lebih banyak bekerja dalam diam.Banyak staf dan kolega mengenangnya sebagai pribadi yang tepat waktu, tidak suka pemborosan, menjaga etika birokrasi.
Inspirasi:
- Jabatan tinggi tidak harus mengubah karakteR
- Kesederhanaan adalah bentuk kekuatan yang jarang disadari
4. Loyalitas pada Negara di Masa Sulit
Masa jabatan beliau berakhir menjelang era
Reformasi 1998—periode paling turbulen dalam sejarah modern Indonesia. Dalam
situasi penuh tekanan politik dan sosial, ia tetap menjaga stabilitas sesuai
perannya sebagai wakil presiden.
Walau era tersebut penuh kontroversi dalam
sejarah nasional, banyak pihak menilai Try tetap menjaga sikap kenegarawanan
dan tidak mencari keuntungan pribadi setelah tidak lagi menjabat.
Inspirasi:
- Tidak semua badai bisa kita kendalikan, tetapi sikap kita dalam badai itulah yang menentukan karakter
5. Menghabiskan Masa Tua dengan Tenang
Setelah purna tugas, Try Sutrisno tidak
aktif mengejar panggung politik. Ia lebih banyak menjadi tokoh senior yang
memberikan pandangan kebangsaan saat dibutuhkan.
Sikap ini menunjukkan bahwa baginya,
pengabdian tidak selalu berarti tampil di depan layar.
Inspirasi:
- Mengabdi tidak harus selalu terlihat.
- Kehormatan sejati lahir dari konsistensi, bukan sorotan.
Dari
kisah hidupnya, kita bisa memetik beberapa nilai utama:
·
Disiplin adalah fondasi kesuksesan.
·
Jabatan adalah amanah, bukan kemewahan.
·
Kesederhanaan memperkuat wibawa.
·
Pengabdian pada negara melampaui kepentingan
pribadi.
Kehilangan sosok besar seperti Try Sutrisno selalu
menimbulkan reaksi luas dari berbagai kalangan. Pimpinan negara, termasuk
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan pimpinan lembaga legislatif,
menyampaikan ucapan belasungkawa dan penghormatan tinggi. Mereka memuji jasa
almarhum sebagai tokoh senior negara yang memberikan banyak kontribusi
bagi bangsa dan negara.
Pemerintah Indonesia juga memastikan bahwa prosesi
penghormatan terakhir akan dilakukan dengan upacara militer, sesuai dengan
kehormatan jabatan dan dedikasi beliau selama hidupnya. Kepergian Try Sutrisno
menandai tutupnya babak penting dalam sejarah politik dan militer Indonesia
abad ke-20. Tak hanya sebagai wakil presiden, beliau adalah simbol ketegasan,
persatuan, dan dedikasi – baik di medan militer maupun dalam pemerintahan sipil.
Banyak mengenangnya sebagai figur yang sederhana namun kuat, sosok yang tidak
hanya menjadi pemimpin tetapi juga teladan bagi generasi penerus.
Keluarga besar almarhum dalam pesan yang disampaikan juga
meminta publik untuk mendoakan agar Try Sutrisno diberi tempat terbaik di
sisi Tuhan Yang Maha Esa, meminta maaf atas segala kesalahan beliau semasa
hidup, dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama memberi penghormatan terakhir
sebagai bentuk rasa hormat kepada jasa beliau selama ini.