Enam Gunung di Indonesia Kompak Erupsi, Apakah Saling Berkaitan?
Dilihat : 4
Enam Gunung di Indonesia Kompak Erupsi, Apakah Saling Berkaitan?
Indonesia kembali menjadi perhatian setelah sejumlah gunung api mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan. Fenomena ini membuat masyarakat bertanya-tanya, apakah erupsi beberapa gunung di Indonesia tersebut saling berkaitan atau menjadi tanda adanya aktivitas besar di bawah permukaan bumi?
Pada 31 Agustus 2026, tercatat enam gunung api di Indonesia mengalami erupsi, yaitu Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara.
Fenomena gunung erupsi secara bersamaan tentu menarik perhatian. Namun, masyarakat tidak perlu langsung mengaitkannya dengan satu penyebab atau menganggap semua gunung tersebut memiliki jalur magma yang sama.
Enam Gunung Api Erupsi Bersamaan
Keenam gunung tersebut berada di wilayah Indonesia yang berbeda. Gunung Ibu berada di Maluku Utara, Semeru di Jawa Timur, Lewotobi Laki-laki dan Ili Lewotolok berada di Nusa Tenggara Timur, Anak Krakatau berada di Selat Sunda, sedangkan Sinabung berada di Sumatera Utara.
Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG, erupsi yang terjadi dalam waktu berdekatan tersebut merupakan bagian dari dinamika vulkanik masing-masing gunung. Tidak ditemukan bukti bahwa keenam gunung tersebut sedang mengalami satu proses geologi yang sama atau saling memicu.
Indonesia sendiri berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire dan memiliki banyak gunung api aktif. Kondisi tersebut membuat aktivitas erupsi pada beberapa gunung dalam waktu yang berdekatan bukan sesuatu yang mustahil.
Mengapa Banyak Gunung Bisa Erupsi Hampir Bersamaan?
Setiap gunung api mempunyai sistem vulkanik atau “dapur magma” sendiri. Tekanan magma, gas vulkanik, aktivitas hidrotermal, serta kondisi di dalam tubuh gunung dapat berkembang dengan mekanisme yang berbeda-beda.
Artinya, ketika beberapa gunung mengalami erupsi pada waktu yang hampir bersamaan, hal tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya satu sumber magma yang menghubungkan semuanya.
PVMBG menjelaskan bahwa proses menuju erupsi pada setiap gunung berbeda. Pemantauan dilakukan melalui berbagai parameter, termasuk aktivitas kegempaan, deformasi tubuh gunung, perubahan suhu, dan pelepasan gas.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak mudah percaya pada informasi yang menyebut bahwa erupsi sejumlah gunung merupakan akibat satu gempa atau satu jalur magma raksasa tanpa dukungan data ilmiah.
Gunung Anak Krakatau Jadi Perhatian
Salah satu gunung yang aktivitasnya menjadi perhatian adalah Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Badan Geologi melaporkan bahwa Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Aktivitas erupsi telah berlangsung sejak Juli 2026 dan terus dipantau secara intensif. Pada 5 September 2026, Anak Krakatau bahkan mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh dan fenomena semburan yang menyerupai lava fountain atau air mancur lava.
Aktivitas Anak Krakatau juga berdampak terhadap transportasi udara. Abu vulkanik yang menyebar ke sejumlah wilayah menyebabkan gangguan penerbangan dan penutupan sementara sejumlah bandara pada 6–7 September 2026.
Meski demikian, Badan Geologi menyatakan bahwa kondisi pertumbuhan tubuh Anak Krakatau pascaerupsi 2018 masih relatif kecil dan berdasarkan evaluasi saat ini tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Masyarakat tetap diminta mengikuti rekomendasi resmi dan menjauhi zona bahaya.
Apakah Erupsi Bersamaan Berbahaya?
Erupsi gunung api selalu memiliki potensi bahaya. Namun, tingkat bahayanya bergantung pada karakter masing-masing gunung dan jenis aktivitas yang terjadi.
Bahaya yang mungkin muncul antara lain:
- Abu vulkanik.
- Lontaran batu pijar.
- Lava.
- Awan panas.
- Gas vulkanik.
- Lahar hujan.
- Gangguan penerbangan akibat abu vulkanik.
Untuk Anak Krakatau, Badan Geologi merekomendasikan masyarakat dan wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Sementara itu, masyarakat di sekitar gunung api lainnya juga harus mengikuti radius dan rekomendasi bahaya yang ditetapkan berdasarkan pemantauan terbaru.
Indonesia Memang Negara dengan Banyak Gunung Api Aktif
Fenomena beberapa gunung erupsi dalam waktu yang berdekatan tidak terlepas dari kondisi geologi Indonesia. Letak Indonesia berada pada pertemuan beberapa lempeng tektonik dan kawasan Ring of Fire sehingga memiliki aktivitas vulkanik yang tinggi.
PVMBG menyebut Indonesia memiliki 127 gunung api aktif. Dengan jumlah sebanyak itu, secara statistik sangat mungkin terdapat beberapa gunung yang mengalami peningkatan aktivitas pada waktu yang berdekatan.
Karena itu, istilah “gunung kompak erupsi” memang menarik untuk pemberitaan, tetapi secara ilmiah bukan berarti gunung-gunung tersebut sedang bekerja sebagai satu sistem.
Jangan Panik, Tetap Pantau Informasi Resmi
Munculnya kabar beberapa gunung erupsi bersamaan tentu dapat menimbulkan kekhawatiran. Apalagi Indonesia memiliki pengalaman panjang dengan berbagai bencana gunung api.
Namun, masyarakat sebaiknya tidak panik dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Informasi mengenai status gunung, radius bahaya, potensi abu vulkanik, hingga rekomendasi evakuasi harus mengacu pada sumber resmi seperti PVMBG, Badan Geologi, BMKG, BNPB, dan BPBD setempat.
Masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api juga perlu memahami jalur evakuasi dan menyiapkan perlengkapan darurat, terutama masker untuk menghadapi hujan abu.
Fenomena enam gunung di Indonesia yang erupsi dalam waktu berdekatan memang menarik perhatian, tetapi bukan berarti keenam gunung tersebut saling terhubung atau saling memicu.
PVMBG memastikan bahwa erupsi tersebut merupakan dinamika vulkanik masing-masing gunung. Kondisi Indonesia sebagai negara yang memiliki banyak gunung api aktif membuat beberapa erupsi terjadi dalam periode yang sama bukan sesuatu yang mustahil.
Yang paling penting bagi masyarakat adalah tetap waspada tanpa panik, mengikuti rekomendasi petugas, menjauhi zona bahaya, dan selalu memperoleh informasi dari sumber resmi.
Dengan aktivitas vulkanik yang masih berlangsung di sejumlah wilayah, perkembangan gunung api di Indonesia tetap perlu dipantau dari waktu ke waktu.