Di Balik Gempa NTT: Fakta Tektonik yang Jarang Diketahui
Dilihat : 21
Fakta-Fakta Gempa di NTT: Mengapa Nusa Tenggara Timur Rawan Gempa?
Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu wilayah Indonesia yang memiliki aktivitas kegempaan cukup tinggi. Kondisi ini tidak terlepas dari posisi geografis NTT yang berada di kawasan tektonik aktif, dengan sejumlah sumber gempa di sekitar wilayah tersebut.
Bagi masyarakat NTT, gempa bumi bukan sekadar fenomena alam yang jarang terjadi. Aktivitas gempa dapat muncul dari zona subduksi, patahan naik busur belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust, serta sesar-sesar aktif di daratan.
1. NTT Berada di Kawasan Tektonik Aktif
Salah satu alasan utama NTT rawan gempa adalah keberadaan zona pertemuan lempeng tektonik di sekitar wilayahnya. Aktivitas pergerakan lempeng dapat menghasilkan pelepasan energi yang kemudian dirasakan sebagai guncangan gempa.
BMKG menyebut sumber gempa di NTT dan sekitarnya dapat berasal dari zona subduksi, Flores Back Arc Thrust, serta sesar-sesar aktif di daratan.
2. Ada Gempa Dangkal yang Bisa Menimbulkan Guncangan Kuat
Gempa dangkal menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai. Gempa dengan kedalaman relatif dangkal dapat menghasilkan guncangan yang kuat di wilayah sekitar episenter.
Sebagai contoh, gempa M5,5 di sekitar Kabupaten Kupang pada 26 Juli 2026 menurut BMKG merupakan gempa dangkal akibat aktivitas subduksi dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault. Gempa tersebut dirasakan hingga skala V MMI di sejumlah wilayah Kabupaten Kupang.
3. Gempa di NTT Tidak Selalu Berpotensi Tsunami
Tidak semua gempa bumi di NTT otomatis menyebabkan tsunami. Potensi tsunami sangat bergantung pada lokasi gempa, kedalaman, magnitudo, mekanisme sumber, serta apakah gempa tersebut menyebabkan perubahan atau perpindahan dasar laut secara signifikan.
Contohnya, BMKG menyatakan gempa M5,5 di sekitar Kupang pada Juli 2026 tidak berpotensi tsunami.
Namun, masyarakat pesisir tetap perlu memahami jalur evakuasi dan mengikuti informasi resmi apabila terjadi gempa kuat di laut.
4. Sumba dan Kupang Termasuk Wilayah yang Pernah Mengalami Gempa Signifikan
Aktivitas gempa di NTT dapat ditemukan di berbagai wilayah. Pada 12 Juli 2026, misalnya, gempa M5,3 mengguncang sekitar Sumba Barat. BMKG mencatat gempa tersebut merupakan gempa dangkal akibat aktivitas subduksi dengan mekanisme thrust. Guncangan mencapai IV MMI di Kota Waibakul dan Kota Tambolaka.
Sementara itu, pada 26 Juli 2026, gempa M5,5 terjadi sekitar Kabupaten Kupang dan dirasakan hingga sejumlah wilayah di NTT.
5. Ada Sumber Gempa dari Arah Selatan dan Utara NTT
Sistem tektonik di kawasan NTT cukup kompleks. Di bagian selatan terdapat zona subduksi, sedangkan di bagian utara terdapat sistem patahan naik busur belakang yang dikenal sebagai Flores Back Arc Thrust.
Kombinasi berbagai sumber gempa tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan wilayah Nusa Tenggara memiliki tingkat kegempaan yang tinggi.
6. Gempa Tidak Bisa Diprediksi Secara Tepat
Salah satu fakta penting yang perlu diketahui masyarakat adalah gempa bumi belum dapat diprediksi secara tepat kapan, di mana, dan berapa besar kekuatannya akan terjadi.
Karena itu, langkah yang paling penting bukan menunggu prediksi gempa, tetapi meningkatkan kesiapsiagaan. Masyarakat perlu mengetahui lokasi aman di dalam rumah, memahami jalur evakuasi, serta mengikuti informasi dari lembaga resmi seperti BMKG.
7. Kesiapsiagaan Menjadi Kunci
Menghadapi risiko gempa di NTT membutuhkan kesiapan masyarakat. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Mengetahui jalur evakuasi di lingkungan tempat tinggal.
- Mengamankan benda berat yang mudah jatuh saat gempa.
- Menyiapkan tas siaga bencana.
- Mengetahui titik kumpul keluarga.
- Memastikan bangunan memiliki konstruksi yang aman.
- Tidak mudah percaya pada informasi gempa yang belum terverifikasi.
- Mengikuti informasi resmi BMKG ketika terjadi gempa.
Jika berada di dalam bangunan saat gempa, lindungi kepala dan tubuh, berlindung di tempat yang aman, serta hindari benda yang berpotensi jatuh.
Kesimpulan
NTT merupakan wilayah yang rawan gempa karena memiliki kondisi tektonik yang kompleks. Zona subduksi, Flores Back Arc Thrust, dan sejumlah sesar aktif menjadi sumber aktivitas gempa di wilayah tersebut.
Gempa dapat terjadi dengan kekuatan dan kedalaman yang berbeda-beda. Bahkan pada 2026, BMKG masih mencatat sejumlah gempa yang dirasakan masyarakat di wilayah NTT, termasuk gempa di Sumba Barat dan Kabupaten Kupang.
Oleh karena itu, memahami fakta-fakta gempa di NTT bukan untuk menimbulkan kepanikan, tetapi untuk meningkatkan kewaspadaan. Kesiapsiagaan, bangunan yang aman, jalur evakuasi, dan informasi resmi merupakan bagian penting dalam mengurangi risiko ketika gempa terjadi.