Aktivitas Gunung Merapi Meningkat, Picu Hujan Abu

Dilihat : 21

Aktivitas Gunung Merapi kembali meningkat pada 13–14 April 2026. Gunung api yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan DI Yogyakarta ini meluncurkan guguran lava pijar yang memicu hujan abu di sejumlah wilayah.

Menurut laporan terbaru, hujan abu tipis terjadi di wilayah lereng, terutama di Boyolali dan Magelang.

Di wilayah Boyolali, hujan abu terpantau mengguyur Desa Tlogolele, Kecamatan Selo. Peristiwa ini dipicu oleh guguran lava pijar yang terjadi pada malam hari sebelumnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyebutkan bahwa aktivitas Merapi masih cukup tinggi. Bahkan, tercatat sekitar 13 kali guguran lava ke arah barat daya dengan jarak luncur hingga 1,8 kilometer.

Tak hanya Boyolali, hujan abu juga dilaporkan terjadi di 11 desa di Kabupaten Magelang, khususnya di Kecamatan Dukun dan Sawangan.

Fenomena ini terjadi setelah awan panas guguran meluncur hingga 2 kilometer dari puncak Merapi. Meski intensitasnya tergolong ringan, warga tetap diminta waspada terhadap dampak lanjutan.

 

Hujan abu vulkanik dapat menimbulkan berbagai dampak, antara lain:

  • Gangguan pernapasan
  • Penurunan jarak pandang
  • Kerusakan tanaman
  • Risiko longsor akibat tanah gembur

BPBD juga mengingatkan bahwa kondisi tanah di lereng Merapi menjadi lebih rentan longsor akibat aktivitas vulkanik yang meningkat. Pihak berwenang mengeluarkan sejumlah imbauan penting:

  • Hindari aktivitas di zona bahaya Merapi
  • Gunakan masker saat terjadi hujan abu
  • Waspada potensi lahar dingin saat hujan
  • Pantau informasi resmi dari instansi terkait

Selain itu, masyarakat diminta menjauhi aliran sungai yang berhulu dari Merapi karena berpotensi membawa material vulkanik berbahaya.

Saat ini, status Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga). Aktivitas magma yang masih berlangsung menunjukkan potensi erupsi lanjutan masih cukup tinggi.

Karena itu, warga di kawasan rawan bencana diminta tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan.

 

Hujan abu Merapi pada 14 April 2026 menjadi tanda meningkatnya aktivitas vulkanik yang perlu diwaspadai. Meski intensitasnya masih tergolong ringan, dampaknya tetap signifikan bagi masyarakat di sekitar lereng gunung.

Pemantauan terus dilakukan, dan masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti perkembangan informasi resmi demi keselamatan bersama.