UNTUNGNYA, KU TAK PILIH MENYERAH
Dilihat : 6
Sepenggal lirik lagu Bernadya ini sangat relate dengan kisah hidupku yang mungkin bagi banyak orang sangat berat dan hampir mustahil bias bertahan hidup hingga dewasa. Ditengah tekanan hidup dan kebohongan bertubi-tubi dari keluargaku sendiri, aku memilih untuk tetap bertahan hidup dan tak menyerah.
Namaku Vale, seorang remaja paruh baya, yang dibilang muda juga tidak, dibilang tua juga belum. Tergantung perspektif atau sudut pandang yang digunakan orang saja. Aku lahir dari ibu dan ayah yang tidak menikah. Ya, mereka tidak menikah. Lebih tepatnya hampir menikah, tapi tidak jadi. Yang lebih gilanya lagi, aku adalah anak kedua.
Awalnya kehidupanku seperti kehidupan anak lain pada umumnya, dirawat disebuah rumah, ada ‘ayah dan ibu’. Hingga pada suatu hari, ketika aku SMP kelas 2, aku diberitahu seorang dari keluargaku. Dia yang awalnya aku kira adalah kakak, ternyata dia adalah tanteku. Tante Dani Namanya. Dia yang memberitahuku tentang jatidiriku yang sebenarnya. Ternyata selama ini aku dirawat dirumah yang penuh kebohongan. Yang berperan menjadi ayah ibuku ternyata sebenarnya adalah kakek dan nenekku. Yang aku kira dia adalah kakak laki-lakiku, ternyata dia adalah bapak kandungku.
Cukup kaget dan sedikit hancur hatiku karena ternyata selama ini aku dibohongi. Tapi, lagi-lagi, untungnya, kegiatanku kala itu cukup banyak, sehingga menyita cukup banyak waktu dan pikiranku, perihal kebohongan itupun tak lagi mengganggu pikiranku. Walau, kadang aku masih merasa marah. Dan satu hal lagi yang membuatku kaget pada saat itu adalah, ternyata aku memiliki kakak kandung lelaki yang tinggal bersama keluarga lain. Dia diasuh oleh orang yang bahkan tidak ada hubungan darah sama sekali dengan keluargaku. Disini aku merasa, ternyata aku tidak sendirian.
Waktu terus berjalan, beberapa pertanyaan mulai singgah dipikiranku. Salah satunya adalah ‘siapa ibu kandungku?dimana dia?sedang apa dia sekarang?bagaimana keadaannya?’. Setelah pembongkaran jatidiriku tersebut, cukup lama tidak ada cerita apapun berkait dengan keluarga. Tapi aku mengalami dinamika kehidupan. Aku mulai mencari keberadaan Tuhan. Singkat cerita aku mulai mempelajari keyakinan lain. Bertahun-tahun aku berada di jalan yang ‘lain’ ini. Jujur, aku merasa sangat nyaman. Aku menemukan Tuhan disini. Aku mencurahkan kegelisahanku dan pertanyaanku kepada Tuhan yang baru aku kenal ini. Lebih dari sepuluh tahun aku berada di jalan yang ‘lain’ ini, tanpa seorangpun dari keluarga yang tahu.
Mengapa aku menyembunyikan ‘ini’ dari keluargaku? Jawabannya mudah. Karena aku merasa dibohongi berpuluh tahun oleh keluarga. Mereka menutupi aib itu semua kepadaku tanpa memberikan penjelasan sedikitpun. Jadi aku merasa aku juga punya hak dan boleh menutupi ‘jalan lainku’ ini. Kedengarannya memang penuh amarah kan? Ya memang, ada amarah dalam hatiku yang tertahan selama puluhan tahun. Tapi keputusanku untuk mengambil ‘jalan lain’ ini bukan didasari atas kemarahanku. Ini murni pilihanku.
Hingga tiba waktunya aku bertemu jodohku dan kami akan menikah. Tentu saja aku harus jujur pada keluargaku bahwa aku telah berpindah keyakinan. Mereka kaget dan marah. Mereka kecewa. Lalu, akupun akhirnya meluapkan perasaanku yang terpendam selama puluhan tahun kepada mereka. Pada moment tersebut aku bilang ‘harusnya aku yang lebih marah karena puluhan tahun aku dibohongi. Harusnya aku punya hak untuk berbicara dan memilh. Kenapa aku tak boleh mengutarakan pendapat? Kenapa aku tak boleh marah? Bukankah aku juga manusia biasa yang berhak dan boleh marah?’.
Seharusnya kalian sebagai orang tua jangan merasa selalu paling benar, tidak pernah salah. Harusnya kalian belajar mengucapkan maaf kepada siapapun, terutama kepada yang lebih muda. Harusnya kata maaf itu kalian ucapkan kepadaku. Tapi yang terjadi kemarin apa?? Kalian malah melindungi dan menutupi aib yang dilakukan oleh bapakku. Kalian melindungi dia. Kalian bahkan marah pada pilihanku. Seolah yang aku lakukan lebih buruk daripada yang dilakukan bapakku. Padahal yang dilakukan bapakku sangat tidak bertanggung jawab dan berpotensi merusak mental anak seumur hidup. Tidakkah kalian berpikir sampai disitu? Sekali lagi, kalian generasi yang lebih tua harusnya belajar minta maaf kepada yang lebih muda.
Dan, untungnya, Ku tak pilih menyerah pada kisah yang berat ini. Untungnya, aku masih bias memaafkan semua yang terjadi padauk. Dan untungnya, setelah menikah kehidupanku jauh lebih baik dan aku merasa dihargai oleh keluarga baruku.
Penggalan lagu Bernadya yang aku pilih sebagai judul ini, sangat relate dengan kehidupanku. Untungnya, ku tak pilih menyerah. Untungnya ku bisa rasa hal-hal baik yang datangnya belakangan.