SUDAHKAH AKU DIRAYAKAN?
Dilihat : 2
Abstrak
Elle Anggala, seorang pria berusia 18 tahun yang lahir pada 14 Februari, tumbuh dengan keinginan sederhana yang diam-diam terasa begitu sulit untuk diungkapkan: ingin diingat, ingin dirindukan tanpa harus menghilang, dan ingin dirayakan tanpa harus meminta. Pada malam ulang tahunnya, ketika dunia seolah sibuk merayakan cinta, Elle justru terjebak dalam kesunyian yang tidak mampu ia jelaskan. Dari penantian sederhana itu, Elle mulai mempertanyakan banyak hal: apakah dia sepenting itu untuk diingat, apakah dia pantas untuk menerima semua yang dinantikan itu?
Sudahkah Aku Dirayakan? Adalah pertanyaan Elle yang lahir dari perasaannya yang sangat ingin kehadirannya dihargai dan dianggap ada. Sering dianggap sepele namun kisah tentang kesepian yang tersembunyi di balik tawa, tentang harapan kecil yang terasa memalukan untuk diminta, dan tentang perasaan yang begitu rumit hingga satu-satunya cara untuk mengungkapkannya hanyalah dengan diam selalu berhasil membuat semua yang mengalaminya jatuh dalam keputus asaan, apakah Elle bisa pulih dari semua ini? semoga.
Orientasi
Elle Anggala adalah seorang pria berusia 18 tahun, lahir pada 14 Februari 2009, tepat ketika sebagian orang merayakan cinta dengan bunga, hadiah, dan kalimat-kalimat manis. Ia merupakan putra dari Sambe Anggala dan Mumma Syafra, kedua orang tuanya begitu menyayangi Elle memberi pendidikan yang cukup, memenuhi semua kebutuhannya, tetapi apa yang mereka sedari mereka sudah membuat kepribadian Elle menjadi manusia yang tidak pernah merasa cukup. Elle bukan tidak bersyukur tetapi dia kehilangan tempat untuk pulang, tidak ada ruang yang diberi untuk mengutarakan apa yang dirasakannya, dia butuh di dengarkan juga, lelah di tuntut. “Ayah, Ibu aku lelah, tolong dengarkan aku...” Pada akhirnya aku memilih untuk kuliah jauh dari rumah, Elle menghabiskan hari-harinya di kamar kosnya yang sederhana di kota Makassar, ditemani tugas-tugas yang menumpuk padat ternyata dewasa ini sangat mengerikan ya, dibalik semua itu dia selali menyembunyikan kesedihan, dan membiasakan diri menghadapi banyak hal sendirian di tengah kesehariannya yang padat dengan jadwal kuliah.
Di balik sikapnya yang tampak biasa saja, Elle adalah seseorang yang menyimpan banyak perasaan. Ia bukan tipe orang yang mudah meminta perhatian, apalagi mengungkapkan bahwa dirinya sedang membutuhkan seseorang. Ia lebih sering menjadi pendengar bagi cerita orang lain. Namun, diam-diam, ia juga ingin merasakan hal yang sama: diingat, di dengar, dicari, dan dianggap penting.
Cerita ini dimulai pada malam ulang tahunnya yang ke-18. Di kamar kos yang sepi, ditemani suara kendaraan, percakapan orang-orang, dan riuh pikuk Makassar yang belum benar-benar terlelap, Elle duduk dengan ponsel di tangan. Jam menunjukkan pukul 00.00. Ia menunggu, berharap nama-nama yang selama ini ia anggap dekat akan muncul di layar. Akan tetapi, menit demi menit berlalu, tidak ada satu pun yang mengucapkan selamat ulang tahun untuknya.
Malam itu, Elle tidak menangis. Ia hanya terdiam, menatap layar ponselnya. Untuk kesekian kalinya ulang tahunnya terasa seperti hari biasa yang kebetulan memiliki tanggal istimewa dan kembali mengingatkannya pada luka lama yang masih terus di pendam jauh di lubuk hatinya. Dan di tengah suara Kota Makassar yang begitu ramai, Elle mulai menyadari bahwa seseorang bisa merasa sangat sendirian bahkan ketika dunia di sekelilingnya tidak pernah benar-benar sunyi.
SUDAHKAH AKU DIRAYAKAN?
“Ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan, bukan karena terlalu rumit untuk dimengerti, tetapi karena diri sendiri tidak tahu bagaimana cara untuk meminta.”
Empat Belas Februari
Jam 00:00. Kota Makassar masih berisik dengan suara kendaraan yang berlalu lalang. Suara kendaraan juga sesekali terdengar dari jalanan di luar kamar kosku. Motor-motor melintas tanpa jeda, obrolan orang-orang dari warung di ujung gang terdengar samar, dan entah dari mana, seseorang tertawa begitu keras seolah malam ini adalah malam paling menyenangkan dalam hidupnya. Sementara itu, aku sibuk dengan ponsel ku, bolak balik membuka aplikasi menunggu notif-notif yang menjadi harapku malam itu di hari bahagia ku. di kamar ku yang sedikit sesak tidak sempat ku bersihkan, setelah pulang kuliah akulangsung membaringkan badanku ke atas kasur tidak sempat berganti pakaian, buku-buku kuliah menumpuk di atas meja kecil, dan kipas angin tua di dekat pintu berputar dengan suara berdecit, aku tidak menghiraukan suara kipas itu karena begitu lelah rasanya setelah melakukan banyak aktivitas hari ini. Udara malam terasa lembap. Lampu kamar berwarna kekuningan, membuat semuanya tampak lebih muram dari pada biasanya.
Hari ini, 14 Februari hari ulang tahunku yang kedelapan belas. Aku menatap layar ponsel ku, bolak balik aku melihatnya berharap ada pesan ucapan selamat ulang tahun malam itu. Aku membuka Instagram, lalu kembali ke WhatsApp. Pikirku “jangan-jangan seseorang sedang mengetik, atau ngetag di story. Sebagai teman yang baik aku juga harus balas cepat biar menghargai ucapan dan effort mereka repot-repot buat ngucapinnya sampai tengah malam begini. Aku tahu, harapan-harapan itu terdengar bodoh. Namun, bukankah manusia memang sering kali hidup dengan hal-hal bodoh yang mereka harapkan? Aku menarik napas, lalu tersenyum tipis kepada diri sendiri. Ah aku lupa mengucapkan sesuatu.
“Selamat ulang tahun, Elle, terima kasih Tuhan.” Lalu dengan pelan Elle mencoba menarik nafas memejamkan mata dan memanjatkan doa syukurnya atas penyertaan Tuhan selama 18 tahun hidupnya, dia berbisik pelan sambil memeluk diriku sendiri erat. Malam ini suaranya terdengar begitu asing di kamar yang sempit itu, bergema sedikit serak menahan rasa rindu dan sesak. Setelah berdoa Elle kembali melihat jam di handphonenya sudah pukul 00.07. Sudah tujuh menit berlalu ternyata tidak ada satu pesan pun yang masuk.
“Yang kunanti seperti hanya hayalan yang sangat mustahil untuk menjadi nyata. Dan benar saja tidak ada.” Ucap Elle sambil memejamkan mata. Lalu ia merasa sangat gelisah dalam hatinya.
“Aku tidak pernah meminta hadiah mahal. Tidak pernah berharap seseorang datang membawa kue besar dengan lilin menyala. Aku bahkan tidak membutuhkan unggahan foto dengan tulisan panjang tentang betapa berartinya diriku bagi mereka. Aku hanya ingin....” Elle goyah dia mencoba menahan ar matanya namun tetap saja tidaj bisa terbendung lagi, namun iya mencoba menahannya kembali.
“satu pesan. Satu saja. Pesan sederhana yang mengatakan bahwa mereka mengingat hari ketika aku dilahirkan. Sesederhana itu, bukan?” Dari raut wajahnya Elle merasa sangat kecewa. Matanya sayu dan rambutnya yang masih acak-acakan.
“Aku tidak marah pada mereka, aku hanya kecewa pada diriku sendiri. Mengapa harus mengharapkan yang tidak pasti?”
Setelah bergulat lama dengan perasaan dan pikirannya dia berdiri membuka gorden kamarnya yang berhadapan langsung dengan lampu jalanan yang ada di seberang rumahnya. Sontak cahaya itu masuk menyinari kamarnya, nampaklah wajah Elle pria yang baru genap berusia 18 tahun malam itu. Bukannya memperlihatkan wajahnya yang bahagia justru di hari bahagia itu ia justru menunjukkan muka muram sedih. Sambil menatap kebawah melihat tetangganya yang masih berkumpul tertawa, dilubuk hatinya dia merasa sangat iri sekaligus kesepian sakit hati dan marah dalam waktu yang bersamaan.
Kota yang Tidak Pernah Sepi
Jam 00:51. “Aku bertanya-tanya, berapa banyak orang di kota ini yang sedang merayakan sesuatu malam ini? Berapa banyak yang sedang menerima ucapan selamat, pelukan hangat, atau pesan panjang dari seseorang yang menyayangi mereka?” Dia masih berdiri, diam.
“Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Sesuatu yang tidak bisa kutunjukan seperti ada yang tidak pernah selesai.” Ekspresinya nampak kebingungan kali ini.
Lelah berdiri Elle mulai berjalan kedapur menuang segelas air, segelas lagi, sampai 3 gelas tidak dirasanya sekarang gelas yang di pegangnnya sudah gelas ke 4.
Selesai dengan persoalan gelas tadi. Elle kembali duduk di atas kasur, membuka kembali hpku dan melihat kembali foto kecilnya, sedikit bernostalgia ternyata waktu sudah membawanya sejauh ini. keasikan melihat beberapa foto ada satu foto yang terselip di galeri, beberapa hari kemarin ibunya mengirim beberapa foto. Dan itu membawanya pada cerita masalalu yang berhasil membuatnya merasa sesak malam itu.
“Aku teringat pada kenangan masa kecil ku yang begitu jauh dari orang tua, waktu aku berusia 5 tahun, aku pernah tinggal bersama nenek dan kakek ku, samar-samar di ingatanku namun kenangan ini terasa begitu menyakitkan. 14 februari malam itu sangat membekas di hatiku, aku berharap orang tua ku datang memelukku erat malam itu namun mereka tidak ada, dan itu kali pertama ulang tahun kurayakan tanpa ucapan selamat dan doa syukur bersama mereka. Kakek dan nenek malam itu tertidur pulas setelah seharian bekerja di ladang, aku paham itu tetapi Elle kecil butuh ucapan selamat dan pelukan hangat. Tetapi tidak ada. Hingga hari ini”
Malam ini, aku ingin sekali sebuah pelukan hangat, ingin sekali di ucapkan selamat setidaknya
Aku ingin seseorang mencariku.
Aku ingin seseorang mengingat bahwa aku ada.
Namun, keinginan itu terdengar begitu kekanak-kanakan.
Bukankah aku sudah delapan belas tahun?
Bukankah seharusnya aku sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa orang-orang memiliki kehidupan masing-masing?
Elle terkekeh tertawa pada pikirannya. Seolah malam ini menjadi malam yang paling sial.
“Bodoh amat dengan semua ini.” Elle benar-benar sudah muak dengan semua ini.
Elle membaringkan badannya keatas kasurnya, hingga akhirnya air mata yang terbendung itu keluar sudah. Elle terisak pelan menutup mukanya dengan bantal.
Di dunia dewasa ini kita memang bukan lagi anak kecil yang mengharapkan perhatian. Namun kadang, menjadi dewasa berarti belajar menyembunyikan semua itu. Berat ya? Semangat.
01.17 - Rumah
Aku membuka galeri ponsel dan menemukan foto lama bersama kedua orang tuaku.
Ada Umran Anggala, ayahku, dengan wajah yang selalu berusaha terlihat tegar. Ada Mumma Syafra, mamaku, dengan senyuman manisnya. Aku sangat menyanyangi mereka, sebagai anak tunggal aku selalu mendapat kecukupan dari kedua orang tua ku, dan itu yang membuat aku tidak berani mematahkan harapan mereka.
Kadang saat aku melakukan kesalahan yang paling pertama mereka singgung adalah biaya yang sudah di keluarkan mereka untuk ku, dan justru itu yang membuatku merasa berutang penuh pada perhatian mereka, dan mencoba menyembunyikan semua yang menjadi keluh kesahku. Entah kapan terakhir kami berkumpul bersama menonton film, bercanda, dan menikmati hari bersama.
*Elle terkekeh melihat jarinya dan menghitungnya dengan melipatnya.*
“ternyata momen itu masih terlalu sediki dari jari-jari tangan ku ini.”
Aku tidak tahu apakah itu benar-benar akan terjadi seperti yang kubayangkan.
Namun, membayangkannya saja sudah cukup membuat dadaku terasa sedikit hangat.
Aku juga mau di rayakan. Bukan hanya kue dan lilin yang begitu mewah dan meriah dengan makanan yang disajikan di meja makan, melainkan perasaan bahwa di suatu tempat, aku tidak perlu berusaha menjadi seseorang yang akhirnya di rayakan.
Aku mau, sangat mau hanya saja tidak bisa.
*Setelah mengucapkannya, Elle menunduk cukup lama air matanya mulai membasahi pelipis matanya lagi.*
“Ah, aku sudah berjanji tahun lalu kalau aku tidak ingin menangis hanya karena ulang tahun lagi di tahun-tahun berikutnya. Tahun ini masih sama juga ya.”
Setidaknya, itulah yang terus kukatakan kepada diri sendiri.
Padahal, mungkin aku bukan menangisi ulang tahunku.
Mungkin aku sedang menangisi semua hal yang selama ini kupendam, lalu menemukan satu malam yang membuat semuanya terasa terlalu berat untuk disimpan sendirian.
“Aku ingin dirayakan....” ucap Elle sambil menatap langit-langit kamar kostnya.
01.42 - Tidak Ada
Pukul satu lewat empat puluh dua menit.
Setelah bergulat dengan pikirannya, Elle mulai berdiri kembali berjalan pelan ke kamar mandi untuk membasuh matanya.
“tutt..” suara handphone Elle berbunyi
*Tidak perduli pada mukanya yang masih basah, Elle buru-buru membuka hendphonenya.*
*Ternyata hanya notif aplikasi biasa. Sirnah sudah harapan Elle, dia kembali lesu berjalan pelan meletakkan handphonenya kembali ke kasur dan membasuh kembali mukanya.*
“Hahaha, ternyata terlalu berharap membuat kita bodoh ya?” Elle terkekeh malu kepada harapannya beberapa menit yang lalu.
Aku meletakkan ponsel kembali, kemudian mengambil handuk kering untuk mengeringkan wajah ku yang masih basah.
Untuk kesekian kalinya aku merasakan ini, sudah biasa tapi entah mengapa rasanya masih sellalu menyakitkan.
Padahal, malam ini aku ingin merayakannya bersama ayah dan ibu tetapi pupus sudah harapan ini. Tidak ada dering telepon yang berbunyi. Bodohnya aku masih mengharapkan itu di tengah malam.
Aku mengambil buku catatan di atas meja. Entah sejak kapan aku mulai terbiasa menulis ketika tidak tahu harus berbicara kepada siapa. Hanya ini yang membuat pikiran dan hati ku tenang kembali.
Pada halaman kosong, kutuliskan sebuah kalimat.
Sudahkah aku dirayakan?
Aku berhenti.
Memandangi tulisan itu.
Lalu menambahkan kalimat lain.
Seperti anak-anak yang lain......
Air mata ku menetes kembali tidak sanggup menulis kata berikutnya.
Aku ingin merayakan semua ini dengan penuh tawa dan suka, memang ini terdengar aneh dan sangat kekanak-kanakan sekali, tetapi aku merasa ini yang selalu membuatku menangis di tanggal kelahiran ku. Yang awalnya aku harap bisa menangis karena bahagia, tetapi malahan hanya menangis karena luka saja yang aku dapati. Bisakah kalian memeluk ku? Aku sangat kedinginan disini.
*Setelah mengutarakan semua yang dia rasakan Elle mengusap matanya yang kembali basah karena air matanya.*
Aku kembali membaca halaman-halaman yang ku tulis di setiap hari ulang tahun ku dulu, semua tidak pernah berubah harapannya selalu sama, dan ya harapannya selalu “semoga tahun depan dirayakan.”
Selama ini aku mengira yang kuinginkan hanyalah ucapan ulang tahun. Ternyata, ada sesuatu yang jauh lebih besar di baliknya.
Aku ingin menjadi seseorang yang berarti untuk dirayakan.
Bagaimana caranya?
Aku menutup buku itu.
Lalu, akhirnya, aku menangis.
Hanya beberapa tetes air mata yang jatuh begitu saja, seolah tubuhku sudah terlalu lelah untuk terus mempertahankan sesuatu yang bahkan tidak bisa kupahami.
“Bodoh,” gumamku kepada diri sendiri.
Namun, kali ini, aku tidak benar-benar percaya pada kata itu.
Aku tahu bahwa menginginkan kasih sayang bukanlah sesuatu yang memalukan.
Hanya saja, aku belum terbiasa mengakuinya.
02.00 - Selamat Ulang Tahun, Elle
Pukul dua dini hari.
Kota Makassar kini sunyi sepi tidak ada lagi suara kendaraan. Seolah sekarang kota ini ikut sunyi dan sepi.
Aku merebahkan tubuh di kasur, menarik selimut sampai ke dada, lalu menatap langit-langit kamar yang mulai kuhafal setiap retaknya.
Delapan belas tahun.
Aku sudah hidup selama delapan belas tahun, tetapi malam ini aku merasa seperti anak kecil yang berdiri di depan sebuah pintu, melihat tawa bahagia dari orang-orang di balik pintu itu, berbanding terbalik dengan ku.
Aku menarik napas panjang.
“Selamat ulang tahun, Elle Anggala.”
Kali ini, suaraku terdengar lebih jelas.
“Terima kasih delapan belas tahun ini sudah bertahan Elle. Jangan benci dirimu sendiri ya karena harapan-harapan mu belum terpenuhi.”
Aku terdiam. Kata-kata sederhana yang ingin sekali aku dengar.
Kalimat itu terasa menyakitkan, tetapi ada kejujuran di dalamnya yang selama ini selalu kuhindari.
Aku tidak tahu apakah besok aku akan merasa lebih baik. Aku tidak tahu kapan harapan-harapan ku ini akan terkabul. Jika memang tidak bisa, semoga kisah ini tidak terjadi kepada anak-anak ku nanti.
Mungkin aku akan menyimpannya seperti banyak hal lain yang tidak pernah berhasil kujelaskan.
“Aku sangat lelah sekali.”
Sebelum akhirnya memejamkan mata, aku kembali memikirkan satu pertanyaan yang kutulis di buku catatan tadi.
Sudahkah aku dirayakan?
Aku ingin menjawabnya dengan sesuatu yang menenangkan.
Aku ingin mengatakan bahwa tentu saja aku pernah dirayakan, bahwa aku disayangi, bahwa aku hanya sedang mengalami malam yang buruk dan tidak seharusnya membiarkan satu malam menentukan bagaimana aku memandang diriku sendiri.
Tetapi malam ini, aku belum sanggup.
Malam ini, aku hanya tahu bahwa aku sedang sedih.
Dan mungkin, untuk sekali saja, aku tidak perlu mencari alasan agar kesedihan itu terdengar masuk akal.
Aku memejamkan mata.
*Akhirnya Elle tertidur lelap. Meninggalkan sebuah pertanyaan yang tidak pernah usai dalam hidupnya. Sungguh malang sekali, manusia yang di dewasakan dunia ini masih memiliki satu harapan yang tidak pernah di dapati dimana pun.*
Semua manusia ingin di rayakan, ingin di mengerti, ingin di anggap ada, hanya saja dimana dan kapan kita emndapatkan itu tergantung bagaimana rasa syukur kita menerimanya.
Kadang kita sudah mendapatkannya namun kita tidak memahaminya. Kadang juga kita belum mendapatkannya namun kita merasa sudah memilikinya.
Hingga akhirnya
Di dalam kamar kos yang menjadi saksi bisu, seorang anak berusia delapan belas tahun mencoba menerima kenyataan bahwa tidak semua harapan akan menemukan jalannya pulang.
Dia sudah begitu lelah menunggu sesuatu yang bahkan tidak berani diminta.
Barangkali, suatu hari nanti, dia akan memahami perasaan ini.
Barangkali, suatu hari nanti, Elle akan menemukan tempatnya untuk pulang.
Dan entah mengapa, dari semua hal yang sulit dijelaskan, ada satu hal yang paling ingin ditanyakan namun selalu sulit untuk dimengerti.
Dan tidak pernah menemukan jawaban. Karena hanya mereka yang membuatku seperti ini yang dapat menyembuhkannya.
“Selamat Ulang Tahun untuk Elle Anggara.”
_ Tamat.