SMARA - SEBELUM JAM DELAPAN

Dilihat : 5

Halo aku Kala, ada satu hal yang selalu ayah katakan kepadaku.                                                                                    “Sebelum jam delapan, kamu harus sudah ada di rumah.” Dulu, aku menganggapnya sebagai aturan yang menyebalkan. Terlalu banyak larangan, terlalu banyak pertanyaan, terlalu banyak alasan yang harus kuberikan setiap kali jarum jam mulai mendekati angka delapan.

Aku tidak pernah benar-benar mengerti mengapa pukul delapan begitu penting baginya. Sampai suatu hari, aku berharap bisa mendengar kalimat itu sekali lagi. Namun, rumah sudah terlalu sunyi. Hanya jam dinding yang masih berdetak seperti biasa.

19.30                                                                                                                                                                             2 minggu sebelum kejadian itu, aku masih menganggap peraturan sebagai masalah besar dalam hidupku.

Sore itu, aku bersama teman-temanku duduk di sebuah kafe dekat sekolah. Kami baru saja selesai kerja kelompok, meskipun lebih banyak mengobrol daripada mengerjakan. Belum sempat meneguk kopi yang kupesan, ponselku bergetar. Sebuah nama yang selalu muncul di layar membuatku menghela napas panjang.

(Ayah)

Aku menatap layar beberapa detik, lalu mengangkatnya.                                                               “Dimana?” tanyanya tanpa basa-basi.                                                                                                                        “di Cafe lagi sama teman-teman Yah.”  jawabku.

“Pulang jam berapa?”

Aku melirik jam di layarku 19.30    

“Sebentar lagi.”

“Sebentar itu jam berapa, Kala? Kamu tau sekarang jam berapa? Sudah malam cepat pulang.” Ayah terus berbicara, memperingatkanku untuk segera pulang. Aku bahkan belum sempat menjawab ketika telepon itu sudah ditutupnya.

“Kenapa Kal? Ayahmu lagi?” tanya Biandra.                       

Aku mengangguk.   

“Pulang aja dulu kalau gitu.” Sambungnya.

“Bukan masalah pulang atau nggak, Ndra. Aku cuma capek. Aku nggak pernah bisa pergi tanpa ditanyain terus. Teman-temanku bisa pulang sesuka mereka, sedangkan aku—”

Aku menghentikan kalimatku sendiri. Entah kenapa, membicarakan Ayah selalu membuatku semakin kesal. Biandra tidak menjawab. Dia hanya menatapku, lalu membantu memasukkan buku-buku ke dalam tasku. Aku pamit kepada mereka dan berjalan pulang. Sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan hal yang sama. Kenapa Ayah tidak pernah bisa sedikit saja melonggarkan aturannya? Kenapa semua harus sesuai dengan apa yang dia mau?

 

Sesampainya dirumah, jam menunjukkan pukul 19.58

Ayah duduk di ruang tamu. Televisi menyala, tapi aku tahu ayah tidak benar-benar menontonnya. Saat pintu terbuka, matanya langsung tertuju kepadaku.

“Dari mana saja?” Sambutnya.

“Kan tadi sudah bilang, sama teman-teman.” Aku menjawab dengan nada ketus.

“Ayah cuma tanya.”

Aku melepas sepatu, lalu berjalan melewatinya.

“Kalau sudah tahu aku sama teman-teman, kenapa harus ditanya lagi?”

“Kala.”

Aku berhenti.

“Ayah nggak suka kamu bicara seperti itu.”

Aku berbalik. “Terus aku harus bagaimana? Setiap hari aku harus menjelaskan semuanya. Aku sudah besar, Yah. Aku tahu kapan harus pulang.”

Ayah mematikan televisi.

“Kalau kamu sudah besar, harusnya kamu juga tahu cara menghargai orang tua.”

Aku tertawa kecil, bukan karena ada yang lucu, melainkan karena aku tidak tahu harus menjawab apa lagi.

“Kenapa Ayah selalu merasa paling benar?”

Pertanyaan itu membuat ruang tamu mendadak sunyi. Ayah menatapku cukup lama. Aku sempat berpikir dia akan menjelaskan sesuatu, atau setidaknya mencoba memahami apa yang kurasakan. Namun, dia hanya berkata, “Sudah. Masuk kamar. Besok kamu sekolah.” Seperti biasa, percakapan kami berakhir tanpa ada yang benar-benar mendengarkan. Aku masuk kamar dan menutup pintu sedikit lebih keras dari biasanya. Malam itu, aku tidur dengan keyakinan bahwa Ayah memang tidak akan pernah mengerti aku. Aku tidak tahu bahwa selama ini, kami sama-sama menunggu seseorang untuk mengalah lebih dulu.

Keesokan pagi, aku bangun dengan kepala yang masih terasa berat. Aku masih sangat kesal dengan kejadian tadi malam. Saat keluar kamar, ayah sudah berada di meja makan. Ada dua piring nasi goreng diatas meja, satu dihadapannya dan satunya di tempat dudukku.

“Sudah bangun? Sarapan dulu sebelum berangkat.”

 Aku menarik kursi tanpa menjawab. Aku mengambil sendok dan mulai makan. Ayah sesekali melihat jam tangannya.

“Nanti pulang sekolah langsung pulang kan?” aku berhenti mengunyah.

“Memangnya kenapa?” Jawabku dengan nada sedikit tinggi.

“Ayah cuma tanya.”

“Kalau aku ada kerja kelompok lagi?”

“Kerja kelompok bisa di sekolah. Nggak perlu sampai sore.”

Aku meletakkan sendokku.

“Yah, aku nggak mungkin setiap hari cuma sekolah terus pulang. Aku juga punya teman.”

“Ayah tidak pernah melarang kamu berteman, Kala.”

“Tapi ayah selalu membatasiku.” Timpalku.

Ayah terdiam sebentar. Aku pikir kali ini dia akan mencoba menjelaskan alasannya, tetapi ternyata tidak.

“Ayah sudah bilang apa yang boleh dan nggak boleh. Kamu tinggal ikuti.”

Aku menggeleng pelan. Belum juga berangkat sekolah, aku sudah kehilangan selera untuk melanjutkan percakapan. Aku tahu Ayah tidak akan mengubah keputusannya hanya karena aku mencoba menjelaskan keinginanku. Aku meletakkan sendokku. Lalu beranjak dari meja makan begitu saja.

“Aku berangkat.”

Ayah melirik piringku yang masih menyisakan nasi “Nasinya habiskan dulu.”

“Kenyang.”

Aku buru-buru mengambil tas lalu berjalan keluar sebelum ayah mengatakan sesuatu lagi.

 

Di perjalanan menuju sekolah, aku terus memikirkan percakapan tadi. Kadang aku bertanya-tanya, apa Ayah memang tidak pernah merasa bahwa aku sudah cukup besar untuk menentukan sesuatu sendiri? Atau memang baginya, menjadi orang tua berarti harus selalu didengarkan?

Aku tidak tahu.

Sesampainya di sekolah, aku berusaha melupakan percakapan tadi pagi. Namun, perkataan Ayah terus terngiang di kepalaku. Bahkan untuk hal sesederhana mengerjakan tugas bersama teman, aku harus memikirkan bagaimana caranya agar Ayah mengizinkan. Lama-lama, aku merasa pendapatku tidak pernah benar-benar dipertimbangkan. Rasanya seperti aku tidak pernah benar-benar dipercaya, padahal aku tidak pernah merasa melakukan sesuatu yang buruk.

Sesampainya di sekolah, aku berusaha melupakan semuanya. Aku tidak ingin suasana hatiku yang buruk merusak hariku sendiri. Apalagi hari itu Biandra sudah berjanji akan membantuku menyelesaikan tugas yang belum sempat kami kerjakan kemarin.

“Kala, nanti pulang sekolah ikut ke rumah Tanaya, ya,” kata Biandra saat kami berjalan menuju kelas. Aku mengangguk. “Iya, jadi.”

“Yakin? Bukannya Ayahmu selalu menyuruhmu langsung pulang?”

Aku meliriknya. “Aku bisa izin dulu.”

Biandra tidak berkomentar lagi. Mungkin dia tahu aku sedang tidak ingin membahas Ayah.

Sepanjang pelajaran, pikiranku beberapa kali melayang ke percakapan pagi tadi. Aku masih kesal, tetapi semakin kupikirkan, semakin aku ingin membuktikan bahwa aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku ingin Ayah berhenti memperlakukanku seperti anak kecil.

Saat bel pulang berbunyi, aku langsung membereskan buku-bukuku. Aku mengirim pesan kepada Ayah, memberi tahu bahwa aku akan mengerjakan tugas bersama teman-teman.

Balasannya datang beberapa menit kemudian. “Pulang langsung ke rumah.”                                              Aku membaca pesan itu berulang kali, berharap ada kalimat lain setelahnya. Barangkali izin, atau setidaknya pertanyaan tentang tugas yang harus kukerjakan.                                                                Namun, hanya itu jawabannya.                                                                                                                            Aku mengetik balasan, menghapusnya, lalu mengetik lagi.                                                                             “Inii tugas kelompok, Yah. Aku nggak bisa mengerjakannya sendiri.”                                                   Pesanku terbaca, tetapi tidak ada balasan.                                                                                                   “Kenapa?” tanya Biandra yang sudah berdiri di samping mejaku.                                                                     Aku menunjukkan layar ponsel kepadanya.                                                                                                                     “Ya sudah, kita kerjakan di rumahmu saja,” katanya. “Biar Ayahmu nggak khawatir.”                                  Aku menggeleng. “Kenapa harus selalu aku yang mengalah?”                                                               Biandra terdiam. Aku tahu dia tidak punya jawaban untuk pertanyaanku. Sejujurnya, aku juga tidak sedang mencari jawaban. Aku menatap layar ponsel sekali lagi, lalu memasukkannya ke dalam tas. Aku sudah mencoba meminta izin. Kali ini, aku memilih mengambil keputusan sendiri, meski aku tahu akibatnya mungkin tidak akan menyenangkan.

Akhirnya, aku memutuskan tetap pergi bersama mereka.

Aku tahu Ayah mungkin akan marah saat tahu aku tetap pergi. Namun, kali ini aku ingin menyelesaikan tugasku bersama teman-teman tanpa menghabiskan waktu untuk berdebat tentang hal yang sama.

Sore itu, aku memilih untuk tidak memikirkan apa yang akan terjadi nanti.        

Aku hanya ingin menikmati waktuku bersama teman-teman, seperti remaja lain pada umumnya.

Aku tidak menyangka, keputusan kecil itu akan membuat suasana rumah malam nanti berbeda dari biasanya.

 

Awalnya kami serius mengerjakan soal. Tapi kemudian Biandra mengeluh karena soal yang kami kerjakan terlalu sulit, membuat Tanaya gemas melihat tingkah Biandra.

“Kalau begini terus tugasnya gak bakal selesai.” kataku.

“Salah gurunya, kenapa kasi soal yang susah-susah” jawab Biandra.

Kami tertawa, untuk beberapa saat aku bisa melupakan masalah dirumah. Aku merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama teman-temanku tanpa memikirkan aturan ayah. Sampai aku melihat jam di dinding.

Pukul 19.20

Aku segera memasukkan buku-buku dan alat tulis yang tadi aku gunakan. Tugasnya memang belum selesai, tapi aku tidak ingin pulang terlalu larut.

“Mau pulang, Kal?” tanya Tanaya.

“Iya, aku takut kalau telat, bisa panjang urusannya.”

Biandra mengantarku sampai ke depan rumah Tanaya. Sebelum berpisah, dia sempat berkata, “Besok kalau ada tugas kelompok lagi, bilang aja. Kita bisa kerjakan di sini atau di sekolah.”

“Iya, makasih, Ndra.”

Aku berjalan pulang sendirian, sembari menyusun kalimat yang mungkin akan membuat ayah mengerti bahwa aku bukan bermaksud melanggar aturannya. Namun, semakin kupikirkan, aku merasa percuma. Pada akhirnya, Ayah juga akan tetap menganggapku salah.

Ketika tiba di rumah, jam menunjukkan pukul 19.50

Aku membuka pintu perlahan. Ayah duduk di ruang tamu, tetapi kali ini televisi mati. Di tangannya ada sebuah foto lama yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Aku berhenti di dekat pintu.

“Yah, itu foto siapa?”

Ayah tampak terkejut. Ia segera membalik foto itu dan meletakkannya di atas meja.

“Bukan apa-apa. Kamu sudah makan?”

Pertanyaanku tidak dijawab, malah diganti dengan pertanyaan lain. Aku sudah hampir terbiasa dengan kebiasaannya itu.

“Sudah tadi di rumah Tanaya.”

Ayah mengangguk singkat. “Lain kali kalau Ayah bilang pulang, jangan membuat Ayah menunggu.”  Aku melihat mata ayah sembab, seperti sedang habis menangis.

“Aku meletakkan tas di kursi. “Aku pulang sebelum jam delapan, kan?”

Ayah menatapku. “Kamu pikir semuanya cuma soal jam?”

Aku terdiam. Selama ini, justru Ayah yang selalu menjadikan pukul delapan sebagai batas yang tidak boleh kulewati.

“Kalau bukan soal jam, terus soal apa, Yah?” tanyaku.

Ayah tidak langsung menjawab. Matanya sempat beralih ke foto yang tergeletak di meja.

“Sudahlah, Kala. Kamu masih belum mengerti.”

Kalimat itu membuatku kembali kesal.

“Ya, karena Ayah nggak pernah mau menjelaskan!”

Aku mengambil tas dan berjalan menuju kamar sebelum percakapan itu berubah menjadi pertengkaran lain. Dari belakang, aku tidak mendengar Ayah memanggilku.

Malam itu, bayangan foto yang buru-buru disembunyikan Ayah terus muncul di pikiranku. Aku ingin tahu apa yang begitu penting hingga ia tidak mau menunjukkannya kepadaku. Namun, mengingat reaksinya tadi, aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Aku belum tahu siapa yang ada di dalam foto itu.

Yang kutahu, untuk pertama kalinya, aku mulai bertanya-tanya apakah aturan sebelum jam delapan sebenarnya menyimpan alasan yang tidak pernah ingin Ayah ceritakan.

 

Keesokan paginya, aku bangun awal dari biasanya. Bukan karena alarm tapi karena suara ayah sedang menelepon.

Aku tidak berniat menguping. Namun, langkahku terhenti ketika mendengar suara Ayah yang terdengar lebih pelan dari biasanya. Ia jarang berbicara selembut itu, apalagi sepagi ini.

“Iya, Bu. Aku masih menyimpannya,” kata Ayah pelan. “Aku juga masih ingat semuanya.”

Aku tidak bisa mendengar suara orang di seberang telepon.

Beberapa saat kemudian, Ayah kembali berbicara.

“Sudahlah, Bu. Jangan bahas itu lagi.”

Aku buru-buru berjalan ke dapur sebelum Ayah menyadari keberadaanku. Tak lama kemudian, aku mendengar langkahnya mendekat.

“Kamu sudah bangun?” tanyanya.

“Iya, Yah. Baru saja.”

Ayah mengangguk lalu mengambil gelas dari lemari. Aku memperhatikannya sebentar, masih teringat percakapan yang tidak sengaja kudengar tadi.

“Yah,” panggilku.

“Hm?”

“Tadi Ayah telepon siapa?”

“Nenek.”

“Oh.” Aku mengaduk sarapanku pelan. “Ngomongin apa?”

“Urusan orang tua.”

Aku mengangkat wajah. Jawaban itu lagi. Selalu ada hal yang menurut Ayah belum perlu kuketahui.

“Tadi aku dengar Ayah menyebut Ibu.”

Ayah meletakkan gelasnya di meja. Wajahnya berubah, meski hanya sebentar.

“Sudah, Kala. Sarapan dulu. Nanti kamu terlambat.”

Aku ingin bertanya lagi, tetapi akhirnya mengurungkan niat. Aku tahu percakapan itu tidak akan membawaku ke mana-mana.

 

Pagi itu, aku berangkat ke sekolah tanpa mendapatkan jawaban. Sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan percakapan tadi. Aku berpikir, pasti ada sesuatu yang disembunyikan ayah dariku. Tetapi semakin ia menghindar, semakin besar rasa ingin tahuku terhadap apa yang sebenarnya terjadi. Sampai disekolah, aku sejenak melupakannya. Hingga sore tiba, aku  pulang seperti biasa. Ketika membuka pintu, aku mendapati ayah duduk di sofa ruang tamu. Tubuhnya terlihat lemas, dan wajahnya terlihat pucat.

"Ayah belum makan?" tanyaku meletakkan tas

Ayah menggeleng pelan.

Aku berjalan ke dapur, mengambilkan makan, lalu kembali ke ruang tamu. Aku meletakkan piring di hadapannya, aku tersadar bahwa tangannya sedikit gemetar.

"Ayah sakit?"

"Nggak, cuma kurang tidur."

"Kalau sakit, bilang. Jangan keras kepala Ayah."

Ayah menatapku, sudut bibirnya sedikit terangkat. Senyumnya terlihat lelah.                                        "Iya, nanti ayah istirahat." Aku mengangguk, lalu membawa tasku ie kamar. Seharusnya aku duduk lebih lama bersemangat, menanyakan keadaannya, atau sekedar menemaninya makan. Namun, aku masih menyimpan kekesalan.

Malam itu aku mendengar suara batuk dari kamar Ayah. Aku sempat membuka pintu kamarku, menoleh ke kamarnya, lalu kembali menutupnya.

Besok saja, pikirku.

 

Sejak pagi itu, aku mulai sering memperhatikan Ayah.

Bukan karena ingin tahu semua urusannya, melainkan karena percakapan yang kudengar kemarin terus terlintas dibenaku. Namun setiap kali aku mencari tahu, aku tidak mendapatkan jawaban apa-apa. Beberapa hari kemudian, aku pulang lebih awal. Biandra membatalkan rencana kami karena dia harus membantu ibunya. Aku tidak memberi tahu Ayah, bahwa aku akan pulang cepat. Kupikir, untuk sekali ini aku busa memberikan kejutan kecil dengan tiba di rumah sebelum ia mengirimkan pesan kepadaku.

Ketika aku membuka pintu, rumah sepi. Aku meletakkan tas, lalu berjalan ke dapur mengambil

minum. Saat melewati lemari pandanganku kembali ke bingkai foto itu.

Kali ini aku berhenti.

Aku tak tahu mengapa foto itu terus menerus menarik perhatianku. Aku mendekat dan mengambilnya. Difoto itu ada Ibu yang berdiri di samping Ayah. Mereka terlihat lebih muda. Aku membalik bingkainya.

“Sedang apa?”

Aku hampir menjatuhkan bingkai itu.

Ayah berdiri di

 pintu dengan kemeja yang belum sempat diganti.

“Lihat foto.” Jawabku.

“Taruh kembali.”

Nadanya tidak keras, tetapi membuatku menurut. Aku mengembalikan bingkai itu ke tempat semula.

“Kenapa? Aku Cuma lihat.”

“Ayah tahu.”

“Terus kenapa nggak boleh?”

Ayah menghela napas sembari menaruh kunci mobil diatas meja.

“Tidak semua hal harus kamu tahu sekarang, Nak.”

Aku menahan napas, mencoba meredam rasa kesal yang mulai muncul.

“Kalau bukan sekarang, kapan Yah?”

“Nanti kalau kamu sudah mengerti.”

Aku tertawa kecil, bukan karena ada sesuatu yang lucu.

“Gimana aku bisa mengerti kalau ayah  nggak pernah mau cerita?”

Wajahnya berubah. Aku mengira dia akan membalas perkataanku. Tetapi dia hanya menghela napas dan melewatiku begitu saja.

“Jangan mulai lagi, Kala.”

 

Aku tidak mengejarnya.

Sore itu kami makan malam tanpa banyak bicara. Ayah menanyakan kegiatanku disekolah, aku menjawab seperlunya.

Semuanya kembali seperti semula, seolah tidak pernah terjadi pertengkaran.

Malamnya, aku hendak tidur, terdengar suara batuk dari kamar Ayah.

Aku berjalan ke depan pintunya.

“Ayah?”

Tidak ada jawaban selama beberapa detik.

“Iya, kenapa?”

Aju bersandar pada kusein pintu. “Ayah sakit?”

“Enggak, Cuma kecapekan.”

“Ya sudah. Jangan tidur terlalu malam.”

Ayah tersenyum tipis “Iya kamu juga.”

 

Aku kembali ke kamar.

Waktu itu, aku tidak tahu bahwa suatu hari nanti, kalimat sesederhana itu terasa berbeda.

 

Hari – hari setelahnya berjalan seperti biasa.

Aku pergi ke sekolah, mengerjakan tugas, menghabiskan waktu dengan teman-temanku, lalu pulang sebelum jam delapan. Ayah juga seperti biasa, tidak banyak bicara, mudah khawatir, dan selalu memastikanku pulang sebelum jam delapan. Hanya belakangan ini ia terlihat sangat lelah.

Beberapa kali aku mendapati Ayah tertidur di sofa dengan televisi masih menyala. Aku selalu bertanya tentang apa yang terjadi kepadanya tetapi Ayah selalu menjawab “Cuma kecapekan”

Kekhawatiranku mulai muncul.

Sampai suatu sore, aku pulang, mendapati rumah dalam keadaan gelap. Aku pikir Ayah sedang lembur dikantor.

Aku mengeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan kepadanya.

“Ayah dimana?”                                                                                                                                                                             “Ayah lembur?”

 

Aku mengganti pakaianku, menyiapkan makan malam, lalu duduk diruang tengah. Pukul enam lewat. Aku mulai gelisah, tidak biasanya Ayah belum pulang jam segini. Ia bahkan tidak membalas pesanku.

Pukul tujuh lewat ponsel ku berdering. Bukan dari Ayah, melainkan panggilan dari nomor yang tidak kukenal.

“Halo?” Sambutku.

“Selamat sore, in dengan keluarga Bapak-“

Aku tidak ingat seluruh percakapan dengan jelas. Yang kuingat hanya beberapa kalimat pendek, suara orang yang sedang menjelaskan sesuatu, tanganku mendadak dingin saat mendengarnya.

 

Ayah dibawa kerumah sakit.

Aku tidak sempat mengganti pakaianku.

Sepanjang jalan aku terus menghubunginya tetapi tidak diangkat. Aku terus menerus mengirimkan pesan kepadanya meskipun aku tahu tidak ada jaminan ia akan membalasnya.

“Yah aku sedang kesana sekarang”

“Ayah, jawab teleponku”

“Yah”

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku merasa semua yang hal mendadak tidak berarti. Aku hanya ingin Ayah mengangkat teleponku dan mengatakan bahwa semua baik-baik saja, dan aku tidak perlu khawatir, bahwa besok pagi ia akan kembali mengingatkanku untuk membawa bekal.

Namun, tidak ada jawaban. Ketika aku tiba, Nenek sudah ada disana. Aku tudaj pernah melihat wajah setegang itu. Ia berdiri dekat pintu, menggenggam tas kecil. Begitu melihatku langsung memelukku.

“Nek, Ayah mana?” Nenek tidak menjawab .

“Nek?”

Ia mengusap punggungku pelan. “Kita tunggu sebentar yo, nak.”  Aku melepas pelukannya dan menatap pintu yang ada dihadapan kami. Aku ingin masuk melihat Ayah. Ingin memastikan sendiri bahwa ia hanya kelelahan seperti yang biasa ia katakan.

Tetapi aku tidak diizinkan masuk.

Waktu berjalan lambat. Aku duduk dikursi tunggu dengan kedua tangan saling menggenggam. Nenek duduk di sampingku, sesekali mengusap bahuku tanpa mengatakan apa-apa.

Jam di dinding menunjukkan pukul delapan lewat tujuh menit ketika seorang dokter akhirnya menghampiri kami. Aku langsung berdiri. Nenek ikut berdiri bangkit dari kursi, sementara aku membaca sesuatu dari wajah dokter itu. Entah mengapa, aku berharap ia akan tersenyum dan mengatakan bahwa Ayah hanya perlu beristirahat.

Namun, ia tidak tersenyum.

Dokter itu berbicara kepada nenek terlebih dahulu. Suaranya pelan, terasa pelan untuk bisa kutangkap seluruhnya. Aku hanya mendengar beberapa kata sebelum Nenek menutup mulutnya dengan satu tangan. Aku menatap mereka  bergantian.

“Nek?”

Nenek menoleh kepadaku. Matanya mulai basah.

“Kala, nak...”

Aku menggeleng sebelum ia sempat melanjutkan.

“Enggak, Ayah kenapa?”

“Ayahmu sudah nggak ada.”

Aku terdiam.

Kalimat itu sederhana, tetapi aku tidak tahu bagaimana empat kata bisa mengubah begitu banyak hal dalam satu waktu. Aku menoleh ke arah pintu. Dibaliknya, Ayah berada di suatu tempat yang tidak bisa kujangkau. Beberapa menit lalu, aku masih sangat berharap, Ayah keluar dan menyuruhku berhenti mondar-mandir.

Aku melihat jam dinding lagi

 

Pukul delapan lewat dua belas menit.

Ayah pergi setelah jam delapan. Seharusnya aku marah. Seharusnya aku meneleponnya dan bertanya, ke mana saja Ayah sampai tidak pulang tepat waktu? Bukankah Ayah selalu memarahiku untuk hal yang sama?

Aku ingin mengatakan itu kepadanya. Aku ingin memarahinya, seperti yang selalu ia lakukan kepadaku setiap kali aku pulang terlambat.

Tapi kali ini, aku tidak tahu harus menyampaikan kemarahan itu kepada siapa.

Bahkan pada saat begini, aku masih saja mengingat peraturan selama bertahun-tahun yang membuatku kesal. Angka di jam itu menarik pikiranku saat ketika Ayah menungguku pulang, pesan-pesan singkatnya, suaranya yang selalu bertanya kapan aku sampai rumah.  Aku tidak menangis saat itu juga

Aku duduk kembali, menatap lantai rumah sakit. Nenek mengelus bahuku, suara-suara disekitar terdengar samar, seolah aku berada sangat jauh.  

Malam itu, aku pulang bersama nenek. Rumah terasa berbeda. Sepatu Ayah masih berada di dekat rak. Gelas yang tadi pagi digunakannya masih ada di wastafel, dan jaketnya masih tergantung di belakang pintu seperti biasanya.

Aku berdiri lama di ruang tengah. Semuanya masih berada ditempatnya. Namun, tidak dengan Ayah. Ayah tidak akan kembali. Aku berjalan ke kamar, tetapi tidak masuk. Pandanganku berhenti pada lemari di ruang tengah, tepat pada bingkai foto yang selama ini belum pernah kupahami.

Foto Ayah dan Ibu masih berdiri di sana. Aku mengambilnya.

Aku duduk di ruang tengah ketika Nenek menghampiriku. Bingkai foto Ayah dan Ibu masih ada di tanganku.

“Nek, aku mau tanya sesuatu.”

“Apa, Nak?”

“Ibu meninggal kenapa?”

Nenek terdiam. Ia melihat foto yang kupegang, lalu duduk di sebelahku.

“Ibumu meninggal karena kecelakaan waktu perjalanan pulang.”

Aku menoleh kepadanya. “Pulang dari mana?”

“Dari tempat kerja. Waktu itu sudah sore. Ayahmu menunggu di rumah, tapi ibumu nggak pernah sampai.” Aku kembali melihat foto itu. Ibu tersenyum di samping Ayah. Aku bahkan tidak ingat banyak tentangnya, apalagi tentang kejadian yang membuatnya pergi.

“Terus, apa hubungannya sama aturan jam delapan, Nek?”

Nenek menghela napas. “Sejak ibumu meninggal, Ayahmu jadi takut kalau kamu belum pulang. Dia selalu kepikiran macam-macam. Dia nggak mau kejadian yang sama terulang lagi.”

Aku diam beberapa saat.

“Kenapa Ayah nggak pernah cerita?”

“Mungkin dia belum bisa menceritakannya kepadamu.”

“Tapi Ayah selalu marah kalau aku pulang terlambat. Aku Cuma mau pergi sama teman-teman, Nek. Aku nggak pernah bermaksud bikin Ayah khawatir.”

“Iya, Nak. Nenek tahu.”

Aku menunduk, memainkan ujung bingkai foto itu.

Untuk pertama kalinya, aku mengerti kenapa Ayah selalu menungguku pulang. Selama ini, aku mengira dia hanya tidak percaya kepadaku. Aku tidak pernah berpikir bahwa ada sesuatu yang membuatnya setakut itu.

Tapi aku juga masih ingat bagaimana rasanya setiap kali pendapatku tidak didengarkan. Aku ingin Ayah mengerti bahwa aku sudah besar. Aku ingin dia bercerita, bukan hanya melarang dan menyuruhku menurut. Sayangnya, sekarang aku sudah tahu alasannya, tetapi aku tidak bisa lagi menanyakannya langsung kepada Ayah.

 

Aku menatap jam dinding.

Jarumnya terus bergerak, seolah tidak ada yang berubah malam itu. Padahal, seseorang yang selama ini selalu menungguku pulang sudah tidak akan pernah duduk di ruang tamu lagi. Dulu, aku selalu ingin Ayah berhenti menyuruhku pulang sebelum jam delapan. Sekarang, aku justru ingin mendengar suaranya sekali lagi, meski hanya untuk mengingatkanku bahwa hari sudah larut. Aku menunduk, menatap foto Ayah dan Ibu yang masih kugenggam. Ada begitu banyak hal yang belum sempat kami bicarakan, begitu banyak pertanyaan yang tidak akan pernah mendapat jawaban langsung darinya.

“Yah, aku harap Ayah masih ada di sini,” bisikku. “Aku sayang Ayah.”

Air mataku jatuh membasahi bingkai foto itu.

“Bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku tanpa Ayah, Yah? Aku bahkan masih punya banyak hal yang ingin kuceritakan. Aku masih ingin bertanya banyak hal. Tapi sekarang, aku harus bicara kepada siapa?” Tidak ada jawaban. Hanya suara jam dinding yang terus berdetak, mengisi keheningan rumah yang terasa semakin asing.

Aku tidak tahu apakah aku sudah memaafkan Ayah. Ada bagian dari diriku yang masih mengingat semua larangannya, semua pertengkaran kami, dan semua kali ketika aku merasa tidak didengarkan. Namun, kini aku tahu bahwa di balik aturan yang selama ini kubenci, ada ketakutan yang tidak pernah berhasil ia ceritakan kepadaku. Mungkin Ayah hanya tidak tahu bagaimana caranya menyayangiku tanpa membuatku merasa terkekang. Dan mungkin aku terlalu sibuk ingin dimengerti sampai tidak pernah benar-benar bertanya apa yang selama ini ia takutkan. Aku meletakkan bingkai foto itu kembali ke lemari, lalu memandang jam dinding untuk terakhir kalinya malam itu.

 

Pukul delapan sudah lewat.

 

Kali ini, tidak ada yang memarahiku. Dan untuk pertama kalinya, aku berharap waktu bisa berputar kembali. Bukan agar aku bisa mengubah semua pertengkaran kami, melainkan agar aku masih punya kesempatan untuk duduk bersama Ayah, mendengarkan suaranya, dan mengatakan bahwa aku menyayanginya tanpa harus menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya kehadirannya. Sebab sekarang aku mengerti, tidak semua orang yang melarang kita pergi tahu cara mengungkapkan rasa takutnya ditinggalkan. Sayangnya, aku baru memahami itu setelah Ayah tidak lagi punya kesempatan untuk menjelaskannya.