SEGALA YANG DIPAHAT DENGAN NAMA KASIH SAYANG
Dilihat : 3
MENYETEL MAKHLUK KAYU, begitulah orang-orang di sepanjang gang sempit itu menyebut apa yang terjadi di rumah beratap seng setiap malam. Ia tidak pernah tahu bahwa selain patung gereja atau boneka tali toko mainan, ternyata manusia juga bisa dipahat dan ditata posturnya agar selalu tegak. Punggungnya diikat dengan bilah-bilah kayu jati sisa ambang pintu patah. Orang-orang menyebutnya sayap, walau tak ada sehelai bulu pun di sana, hanya pasak kaku berbau minyak cendana dan getah kering yang dipakukan ke iga.
Selama ini, ia tidak pernah menyangka bahwa selain kerah kemeja mahal atau tirai beludru tebal yang membutuhkan peniti, ternyata tulang belikat manusia juga bisa dikunci dengan sekrup porselen. Kancing itu berwarna putih mengilap, berukuran sebesar genggaman anak kecil, dengan empat lubang di tengahnya. Bukan kancing porselen biasa, melainkan pasak pemutar yang dipahat khusus untuk mengunci rangka kayu jati tua agar tidak bergeser. Namun, karena orang-orang yang lewat di depan rumah selalu menyebut benda mengilap di balik gaun kusamnya sebagai perhiasan, tak peduli meski benda itu menembus kulit dan menjepit jaringan otot, benda itu akan tetap dipuji sebagai ornamen surgawi.
“Tahan napasmu sedikit lagi, Rehema,” suara wanita itu terdengar pelan dari balik bahunya, hangat, penuh kasih, dan berbobot seberat iman.
Kalimat itu diucapkan setiap pukul sembilan malam, ketika kancing porselen di antara tulang belikatnya diputar seperempat lingkaran lebih rapat untuk mengunci kayu di punggungnya. Gerakan kecil tersebut selalu diikuti bunyi serat yang menegang, lalu rasa panas yang merambat perlahan di bawah kulit. Cairan berbau besi dan getah lapuk sesekali merembes melalui celah porselen, mengering sebelum sempat menodai lantai.
Orang tuanya tidak pernah menyebutnya hukuman. Mereka menyebutnya penyempurnaan.
“Sayapmu mulai wangi cendana lagi, Rehema.”
Bisikan itu menyentuh lubang telinganya, disertai napas berbau sup kubis hangat.
“Senar C tidak boleh menangis esok hari. Ingat betapa dinginnya lantai rumah ini saat kita tidak punya kayu bakar.”
“Iya, Bu,” sahut suara di dalam tenggorokannya.
Ayahnya datang membawa sebuah kain beludru yang warnanya telah kehilangan nama. Di ujung kain itu terdapat noda putih dari serbuk kayu, melekat seperti jamur pada batu nisan. Ia meletakkan kain tersebut di atas meja, lalu mengambil cello yang bersandar di sudut ruangan. Retakan pada badan instrumen itu membelah lapisan pernisnya dari dekat jembatan senar hingga ke lekukan pinggang, menyerupai sungai yang digambar oleh seseorang yang tidak pernah melihat air.
Ayah menggesekkan ibu jari pada retakan itu.
“Kayu yang baik selalu mengingat bentuk pohon,” katanya. “Bahkan setelah ditebang.”
Bohlam empat watt di atas kepala mereka bergetar. Bayangan bilah-bilah jati di dinding ikut bergetar, memanjang sampai ke langit-langit seng. Untuk sesaat, bayangan itu tampak seperti cabang pohon yang tumbuh terbalik, dengan akar-akar mencengkeram tubuh yang berdiri di bawahnya.
Ia memandangi cello di tangan Ayah. Pada bagian bawah instrumen itu terdapat bekas tambalan berbentuk bulan sabit. Ia pernah bertanya dari mana kayu tambalan tersebut berasal. Ayah menjawab dari lemari dapur yang sudah lapuk. Sejak itu, ia tidak lagi bertanya tentang benda-benda yang membentuk tubuh maupun benda-benda yang harus dipeluknya setiap sore.
“Besok, mereka akan mendengarkanmu,” ujar Ayah.
Ia mengangguk.
“Bukan mendengarkan kayunya.”
Ia mengangguk lagi.
“Bukan mendengarkan kemiskinan kita.”
Kali ini, ia terlambat mengangguk. Hanya sepersekian detik, barangkali tidak lebih lama daripada seekor lalat yang berhenti di bibir gelas. Namun Ayah mengangkat wajah. Matanya turun ke bahu yang sedikit terangkat, kemudian ke leher yang terlalu kaku untuk menoleh.
Ibu segera membasahi kain dengan air hangat.
“Tubuhnya masih belajar,” katanya lembut. “Jangan membuatnya malu.”
Ayah mengembalikan cello ke pangkuannya.
Di luar, seseorang tertawa ketika gerobak melewati genangan. Suara itu merambat melalui celah dinding, memasuki rumah bersama bau lumpur dan karat. Ia membayangkan orang yang tertawa itu mempunyai sayap putih yang bersih, bulu-bulunya mengembang setiap kali udara memasuki paru-paru. Mungkin orang itu dapat membungkuk untuk mengikat tali sepatu tanpa harus meminta izin kepada tulang-tulangnya sendiri.
Ia menunduk sedikit.
Porselen di punggungnya memberikan jawaban.
Malam itu, ia tidur dengan mata terbuka sampai bunyi kereta terakhir memutus kesunyian di ujung rel.
Pagi berikutnya, kota mengenakan wajah yang biasa dipakainya untuk menerima orang-orang yang tidak memiliki cukup uang untuk membeli wajah baru.
Di sepanjang trotoar, sayap-sayap putih berdesakan di antara tas belanja, payung hitam, seragam sekolah, dan jas para pegawai. Beberapa tampak begitu lebar hingga bulunya menyentuh jendela bus. Yang lain terlipat rapi di bawah mantel, hanya menyisakan ujung-ujung putih di belakang bahu. Tak seorang pun tampak terganggu oleh keberadaan mereka. Tak seorang pun menoleh untuk memastikan apakah sayap itu sungguhan.
Ia berjalan di antara mereka dengan cello terbungkus kain kelabu.
Pada etalase toko pakaian, bayangannya muncul di antara gaun-gaun putih. Sayap kayunya tidak tampak seperti sesuatu yang dibuat untuk terbang. Bilah-bilah jati itu menonjol dari punggungnya dalam sudut-sudut yang salah, terlalu berat untuk dilipat, terlalu kaku untuk mengembang. Salah satu pasaknya mengeluarkan serbuk halus yang menempel pada kerah gaun.
Ia mengusapnya dengan ujung jari.
Seorang anak kecil yang berdiri di samping ibunya memandangi punggungnya cukup lama.
“Bu, kenapa sayapnya dari pintu?”
Ibunya menarik tangan anak itu tanpa melihat ke arahnya.
“Jangan menunjuk sesuatu yang bukan milik kita.”
Kalimat itu terus berjalan bersamanya sampai halte berikutnya.
Di dalam bus, ia duduk di kursi paling belakang. Setiap kali kendaraan melewati lubang jalan, cello di pangkuannya bergetar dan kayu di punggungnya menjawab dengan bunyi yang tidak didengar penumpang lain. Ia menghitung pemberhentian melalui pantulan wajah-wajah pada kaca. Seorang lelaki tua menatap koran. Seorang perempuan muda menekan layar teleponnya dengan kuku merah. Seorang anak berseragam tidur dengan mulut terbuka.
Di kaca, sayap mereka semua tampak utuh.
Ia tidak mengetahui apa yang mereka pikirkan ketika bangun pada pagi hari. Ia hanya mengetahui bahwa tidak seorang pun di dalam bus itu perlu menjaga agar bahunya tetap berada di tempat yang telah ditentukan.
Ketika bus berhenti, ia turun dengan langkah yang terukur.
Depo instrumen bekas berada di antara bengkel sepeda dan gudang yang dindingnya dipenuhi bekas air hujan. Sebuah papan kayu tergantung miring di atas pintu. Huruf-huruf pada papan itu telah terkikis, menyisakan kata REPARASI dan sebagian angka telepon yang tidak lagi lengkap.
Bau terpentin keluar dari celah pintu sebelum ia sempat mengetuk.
Di dalam, biola tanpa senar digantung berjajar seperti burung-burung yang telah kehilangan alasan untuk membuka paruh. Leher-leher gitar menumpuk di bawah meja. Sebuah piano tua berdiri membelakangi dinding, tutupnya terbuka, memperlihatkan gigi-gigi kekuningan yang tidak pernah lagi menerima makanan.
Lelaki pemilik toko sedang mengikir bagian dalam sebuah biola. Ia menerima cello itu tanpa banyak bicara, menempelkan telinga pada badannya, lalu mengetuk permukaannya tiga kali.
“Retaknya sudah sampai ke suara,” katanya.
Ia tidak tahu bahwa suara dapat mengalami retak. Selama ini, retakan adalah sesuatu yang terlihat, sesuatu yang bisa ditutup dengan lem, dijepit sampai kering, kemudian disamarkan dengan pernis.
“Bisa diperbaiki?”
“Bisa dibuat berbunyi lagi.”
Lelaki itu meletakkan cello di meja.
“Belum tentu suaranya kembali seperti semula.”
Ia menatap lekukan kayu pada badan instrumen tersebut. Ada sesuatu yang hampir menyerupai kelegaan dalam kalimat itu, tetapi ia tidak tahu di mana harus meletakkannya.
Di belakang toko, sebuah kereta melintas.
Besi-besi tua bergetar. Jendela mengeluarkan dengung panjang. Pada saat yang sama, sesuatu di antara kedua belikatnya bergerak, bukan seperti benda yang digeser oleh tangan, melainkan seperti pintu yang berusaha mengingat bahwa ia pernah memiliki engsel.
Ia mencengkeram tepi meja.
Udara berhenti pada separuh jalan menuju paru-paru.
Lelaki pemilik toko masih menghadap meja kerjanya. Ia mengucapkan sesuatu tentang jembatan senar, tetapi suaranya terlipat ke dalam dengung kereta. Di balik tumpukan peti, seseorang duduk dengan satu lutut terangkat.
Seseorang yang tidak memiliki sayap.
Punggungnya rata di balik kemeja kusam. Dari kerah hingga pinggang, terdapat garis-garis pucat yang melintang tidak beraturan, seperti bekas jahitan pada kain yang telah berkali-kali dibongkar. Ia memegang tangkai penggesek cello dengan kedua tangan. Bulu-bulunya telah rontok, menyisakan beberapa helai hitam yang menggantung seperti rambut basah.
Sosok itu menggesekkan tangkai tersebut pada pipa besi di samping peti.
Suara yang lahir darinya begitu sumbang hingga ia merasakan giginya beradu.
Sosok itu menggesek sekali lagi.
Tidak ada melodi. Tidak ada irama. Hanya gesekan kasar yang berakhir dengan bunyi pendek, seperti sesuatu yang menolak dipotong tetapi telah terlalu lama berada di bawah pisau.
“Berhenti,” bisiknya.
Sosok itu mengangkat kepala.
“Kenapa?”
Suaranya datar. Tidak terdengar marah, tidak pula terdengar ingin menolong.
“Itu bukan musik.”
“Memangnya semua yang berbunyi harus menjadi musik?”
Ia ingin menjawab, tetapi lidahnya terasa terlalu besar untuk mulutnya sendiri.
Aneh sekali, ia tidak mendengar bunyi peti yang bergeser, tidak pula langkah kaki yang mendekat. Anak laki-laki itu sudah berada di sana, seolah-olah ruangan tersebut memang dibangun mengelilinginya. Debu menutupi permukaan peti, tetapi di tempat ia duduk, tidak ada cekungan, tidak ada jejak jari, bahkan tidak ada satu butir debu pun yang terusik.
Punggungnya menghadap Rehema. Dua garis bekas luka memanjang di kulitnya, pucat dan mengilap seperti bekas jahitan yang sudah terlalu lama dibiarkan terbuka. Ia tidak mengenakan sayap. Tidak ada kayu, tali, atau pasak porselen yang menahan tubuhnya agar tetap tegak.
Namun, ketika ia menoleh, lehernya bergerak sedikit terlambat. Seolah-olah kepalanya baru menerima perintah setelah tubuhnya selesai bergerak.
Sosok itu memandangi tangkai penggesek di tangannya.
“Kalau kayunya retak, orang akan memperbaikinya. Kalau senarnya putus, orang akan menggantinya. Kalau suaranya salah, orang akan menyetelnya sampai benar.”
Ia menggesekkan tangkai itu sekali lagi. Pipa besi mengerang.
“Lalu siapa yang memperbaiki orang yang harus selalu terdengar benar?” tanyanya.
Rehema tidak menjawab. Ia bahkan belum yakin pertanyaan itu ditujukan kepadanya.
Anak laki-laki itu kembali menggesekkan busur cello ke pipa berkarat. Suaranya melengking sumbang, tetapi ada sesuatu yang lebih mengganggu daripada bunyi itu: Rehema merasa pernah mendengarnya di suatu tempat yang tidak mampu ia ingat.
Dari meja kerja, lelaki pemilik toko meminta seseorang mengambilkan amplas. Ia menoleh ke arah suara itu, kemudian kembali menunduk pada cello. Ketika ia memandang tumpukan peti lagi, sosok tanpa sayap itu masih duduk di tempatnya, tetapi debu di atas peti tetap utuh, tidak menunjukkan bekas gerakan apa pun.
Ia tidak berani bertanya siapa yang sedang diajak bicara.
Sosok itu meletakkan tangkai penggesek di pangkuan.
“Cobalah bernapas.”
Ia menurut.
Pada tarikan pertama, porselen di punggungnya mengencang. Pada tarikan kedua, bahunya terangkat sedikit. Pada tarikan ketiga, rasa sakit merambat ke lengan kiri, membuat jari-jarinya membuka dengan sendirinya.
Sosok itu tidak mendekat.
“Begitu,” katanya. “Bahkan udara pun harus meminta izin.”
Sebuah kereta lain melintas. Kaca bergetar. Bau besi memenuhi toko.
Ia berkedip.
Peti-peti itu kosong di bagian atas. Tidak ada seorang pun yang duduk di sana.
Di tangannya, tangkai penggesek cello telah patah pada bagian kayunya. Satu ujungnya menekan telapak tangan, meninggalkan garis merah yang tipis. Ia memandangnya cukup lama sebelum menyadari bahwa lelaki pemilik toko sedang menunggu jawaban atas pertanyaan yang tidak didengarnya.
“Maaf,” katanya.
Lelaki itu mengerutkan dahi.
“Untuk apa?”
Ia tidak menjawab.
Pada sore hari, cello itu dikembalikan dengan retakan yang telah ditutup dari bagian dalam. Lelaki pemilik toko tidak menjanjikan kesempurnaan. Ia hanya mengatakan bahwa instrumen itu masih dapat dimainkan jika tidak dipaksa.
Kalimat tersebut menetap di telinganya sepanjang perjalanan pulang.
Di rumah, Ibu telah menyiapkan sup kubis. Uapnya menempel pada kaca jendela, mengubah pantulan ruangan menjadi bentuk-bentuk yang tidak memiliki tepi. Ayah duduk di bawah bohlam, memegang sebuah bilah jati di antara kedua lututnya. Serutan kayu menumpuk di lantai seperti kulit tipis yang dilepaskan oleh sesuatu yang tumbuh terlalu cepat.
“Bagaimana cello itu?” tanya Ibu.
“Sudah diperbaiki.”
“Bunyinya?”
Ia meletakkan instrumen tersebut di dekat kursi.
“Belum dicoba.”
Ibu mengaduk sup. Sendok menyentuh dasar panci sekali, dua kali, tiga kali.
“Besok, jangan lupa tersenyum sebelum naik ke panggung.”
Ayah mengangkat bilah kayu ke arah cahaya, memeriksa permukaannya.
“Orang-orang tidak perlu tahu apa yang harus kita korbankan untuk membuat sesuatu berdiri.”
Ia menatap sup di dalam mangkuk. Potongan kubis yang pucat bergerak perlahan ketika permukaan kuah disentuh sendok. Di bawahnya, sesuatu yang lebih gelap berdiam tanpa bergerak.
Malam itu, untuk pertama kalinya, ia mencoba membayangkan dirinya tanpa sayap.
Bukan sayap yang patah. Bukan sayap yang telah dilepas. Ia membayangkan sebuah punggung yang tidak pernah memiliki apa-apa di sana, sebuah tubuh yang boleh membungkuk ketika lelah, mengangkat bahu ketika tidak mengerti, atau membiarkan dada mengembang tanpa menghitung berapa banyak ruang yang tersisa di antara tulang.
Bayangan itu tidak memberinya kelegaan.
Ia justru merasa seperti sedang membayangkan sebuah rumah yang tidak memiliki fondasi.
Sebelum tidur, ia menyentuh porselen di antara belikatnya dengan ujung jari. Permukaannya dingin. Empat lubang kecil di tengahnya menampung bayangan kuku, dan di dalam setiap lubang, bohlam kuning terpantul dalam bentuk yang berbeda.
Ia bertanya-tanya apakah benda itu pernah menjadi bagian dari sesuatu yang lebih indah sebelum Ayah memahatnya.
Lalu ia memejamkan mata.
Dari arah dapur terdengar bunyi pisau raut menyentuh kayu.
Satu gesekan.
Jeda.
Satu gesekan lagi.
Bukan bunyi seseorang yang sedang memperbaiki benda rusak. Bunyi itu lebih menyerupai seseorang yang sedang menghapus sedikit demi sedikit bentuk lama dari sesuatu yang tidak pernah diizinkan memilih bentuknya sendiri.
Malam semakin larut. Dari sela pintu kamar, cahaya dapur jatuh di lantai dalam bentuk persegi panjang yang pucat. Ia belum tidur ketika langkah Ibu berhenti di depan kamarnya.
“Besok kau harus bangun lebih awal,” kata Ibu. “Kita perlu memastikan semuanya sudah siap.”
Ia duduk di tepi ranjang. Kayu di punggungnya menekan kasur, membuatnya tidak dapat bersandar dengan nyaman.
“Bu?”
“Ya?”
“Apa aku boleh tidak bermain besok?”
Langkah di balik pintu berhenti sepenuhnya.
Beberapa detik berlalu. Dari dapur terdengar bunyi air menetes ke dalam wastafel.
“Kalau kau tidak bermain,” jawab Ibu akhirnya, “apa yang akan kita lakukan dengan semua yang telah kita bangun?”
Ia menatap pintu. Ada garis cahaya tipis di bawahnya, dan di garis itu terlihat bayangan kaki Ibu, diam tanpa bergeser.
“Aku hanya takut suaranya salah.”
Ibu membuka pintu dan masuk. Ia duduk di sampingnya, lalu merapikan sehelai rambut yang menempel pada pipinya.
“Kau terlalu banyak memikirkan hal yang belum terjadi.”
Kain hangat menyentuh tengkuknya. Gerakannya lembut, hampir seperti upacara pembaptisan.
“Besok, kau hanya perlu melakukan apa yang sudah kau pelajari.”
Ibu mengusap lehernya sekali lagi sebelum berdiri.
Ayah muncul di ambang pintu dengan sebuah alat pahat kecil di tangan. Ia tidak bertanya tentang percakapan mereka. Ia hanya memeriksa bilah kayu di punggungnya, menyentuh satu sambungan, lalu mengencangkan pasak yang sedikit bergeser.
Bunyi kayu bertemu kayu terdengar pendek.
“Sekarang lebih baik,” katanya.
Ia memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba meyakinkan dirinya bahwa rasa sakit itu adalah tanda bahwa ia sedang diperbaiki.
Pagi konser datang tanpa suara khusus. Tidak ada perubahan pada warna langit, tidak ada burung yang berhenti bernyanyi, tidak ada tanda yang dapat dibaca oleh seseorang yang sedang mencari izin untuk membatalkan hari.
Ia berangkat lebih awal, membawa cello dalam kain kelabu. Di persimpangan menuju aula, bus yang biasa dinaikinya lewat dengan jendela-jendela penuh pantulan. Ia tidak menghentikannya.
Ia berjalan ke arah depo instrumen bekas.
Papan REPARASI masih tergantung miring. Namun pintunya tertutup, dan gembok berkarat mengikat kedua daun pintu. Di balik kaca yang berdebu, biola-biola tanpa senar tetap bergantung di tempatnya. Tidak ada gerakan di antara peti-peti. Tidak ada suara tangkai penggesek yang digesekkan pada pipa besi.
Ia mengetuk pintu sekali.
Bunyi ketukan itu terdengar terlalu keras di jalan yang sepi.
Ia menunggu.
Di balik kaca, bayangannya berdiri dengan bahu terangkat dan leher kaku. Untuk sesaat, ia merasa ada orang lain berdiri tepat di belakangnya, seseorang yang tidak memiliki sayap dan tidak pernah meminta apa pun darinya.
Ia menoleh.
Hanya dinding gudang yang lembap, dengan bekas air hujan menyerupai garis-garis panjang pada punggung seseorang.
Ia kembali memandang ke dalam toko.
Pada permukaan kaca, tepat di belakang pantulan kepalanya, muncul garis-garis pucat yang menyerupai bekas jahitan. Ia mengangkat tangan untuk menyentuhnya, tetapi yang tersisa hanya debu dan pantulan langit.
Sebuah kereta melintas di kejauhan.
Kaca bergetar.
Ia menunggu sampai bunyi besi itu lenyap, berharap sosok tanpa sayap tersebut akan muncul di antara peti-peti, mengangkat kepala, lalu mengatakan sesuatu yang tidak perlu ia pahami sepenuhnya.
Tidak ada siapa-siapa.
Di kaca, pantulan dirinya tampak seperti benda yang dipajang di etalase, sesuatu yang dapat dilihat dari luar tetapi tidak pernah disentuh tanpa izin.
Ia menurunkan tangan.
Kemudian ia melanjutkan perjalanan menuju aula.
Aula konser kota memiliki langit-langit yang terlalu tinggi untuk dijangkau oleh doa-doa dari rumah seng.
Lampu-lampu gantung menyala di atas kepala para penonton. Kain merah tua membingkai panggung. Di belakang kursi-kursi pemain, dinding berlapis kayu memantulkan cahaya keemasan yang membuat segala sesuatu tampak lebih mahal daripada sebenarnya. Bahkan udara di ruangan itu terasa telah disaring berkali-kali sebelum diperbolehkan menyentuh kulit manusia.
Di balik tirai, para peserta memeriksa instrumen mereka.
Seorang pemain biola menggerakkan bahunya. Sayap putih di punggungnya berdesir lembut, bulu-bulunya memantulkan cahaya dari lorong. Seorang pemain piano menutup mata sambil menggerakkan jari di atas lutut. Sayapnya terlipat rapi, putih sampai ke ujung, tanpa noda yang dapat dilihat dari tempatnya berdiri.
Ia menunduk untuk memeriksa cello.
Retakan pada badan instrumen itu nyaris tidak terlihat. Lem telah mengering. Permukaannya kembali memantulkan cahaya. Di balik lapisan pernis, kerusakan tersebut tetap ada, tetapi tidak seorang pun akan mengetahuinya kecuali seseorang bersedia membongkar seluruh badan kayu itu.
Seseorang menyentuh bahunya dari belakang.
Ia berbalik terlalu cepat. Porselen itu menekan tulang belikatnya, dan rasa sakit membuat pandangannya bergetar.
Sosok tanpa sayap itu berdiri di dekat pintu ruang ganti.
Kemeja kusamnya sama seperti yang ia kenakan di depo. Garis-garis pucat di punggungnya tampak samar melalui kain. Di ruangan yang dipenuhi kain mahal, sepatu mengilap, dan bulu-bulu putih, ia terlihat seperti noda yang gagal dibersihkan dari cermin.
Ia memandangnya tanpa rasa terkejut.
“Dari mana kau masuk?” tanyanya.
Sosok itu tidak menjawab.
Di luar ruang ganti, seseorang tertawa. Seorang peserta memanggil temannya. Roda koper berderak melintasi lantai.
“Kenapa kau datang lagi?” tanyanya.
“Bukankah kau yang mencariku?”
Ia menatap pintu yang terbuka. Tidak ada seorang pun yang memperhatikan mereka. Seorang perempuan lewat sambil membawa kotak biola, sayapnya menyapu sisi pintu tanpa menyentuh sosok itu.
Ia menelan ludah.
“Aku tidak tahu siapa kau.”
“Tidak perlu tahu.”
Sosok itu mendekat. Ia tidak berjalan dengan langkah yang terdengar. Jarak di antara mereka seolah-olah berkurang tanpa ada sesuatu yang melintasinya.
“Nama yang bagus, Rehema.”
Ia merasa seluruh udara di ruangan itu berhenti.
“Dari mana kau tahu namaku?” bisik Rehema.
Anak itu memiringkan kepala. Matanya turun ke arah pasak porselen yang tersembunyi di balik kain, seakan-akan ia bisa melihat benda itu berputar di bawah kulit.
“Kau belum pernah menanyakan namaku,” katanya.
Rehema menelan ludah. “Siapa namamu?”
Untuk pertama kalinya, anak itu terdiam cukup lama hingga Rehema mendengar denging tipis memenuhi telinganya.
“Aoi.”
Nama itu jatuh begitu pelan, tetapi Rehema merasakan sesuatu di antara tulang belikatnya mengencang. Bukan karena pasak itu diputar. Tidak ada tangan yang menyentuhnya.
“Aoi,” ulangnya, nyaris tanpa suara.
Anak itu mengangkat wajah. “Jangan ulangi namaku kalau kau masih berharap aku nyata.”
Rehema berkedip.
Aoi masih berdiri di sana. Namun, bayangannya tidak jatuh ke lantai. Bayangan Rehema sendiri justru memanjang ke arah Aoi, merambat melewati sepatu, lalu berhenti tepat di ujung kakinya.
Ketika Rehema kembali menarik napas, bayangan itu sudah kembali seperti semula.
Aoi memandang punggungnya.
“Selama ini kau menyebutnya sayap. Mereka menyebutnya anugerah. Orang-orang di jalan menyebutnya perhiasan.”
“Tak seorang pun pernah bertanya benda apa yang harus dikorbankan agar semuanya tetap tampak indah.”
Ia mencoba mundur, tetapi bilah kayu menyentuh sandaran kursi di belakangnya.
“Kenapa kau mengatakan ini kepadaku?”
“Karena kau terus menunggu seseorang mengatakan bahwa semua ini baik-baik saja.”
Aoi mengangkat tangan. Ujung jarinya berhenti beberapa sentimeter dari porselen.
“Padahal kau tahu rasanya.”
Ia menahan napas.
“Jangan sentuh.”
“Aku belum menyentuhmu.”
Namun pada saat yang sama, rasa dingin merayap dari porselen ke sepanjang tulang belakangnya, seolah-olah ada jari yang menekan sisi dalam tubuhnya.
Aoi menunduk sedikit, cukup dekat hingga ia dapat mencium bau debu dan logam dari pakaiannya.
“Sayang sekali,” katanya. “Kau sedang membusuk di dalam sangkar yang bahkan tidak pernah kau pilih.”
Dari lorong terdengar suara panitia memanggil peserta berikutnya.
Ia berkedip.
Ruang ganti kembali dipenuhi suara. Perempuan dengan kotak biola sudah menghilang di ujung lorong. Pintu terbuka. Kursi-kursi berjajar di bawah cermin besar yang memantulkan cahaya putih.
Aoi tidak ada.
Ia berlutut di lantai tanpa mengetahui kapan kedua kakinya kehilangan kekuatan. Tangannya menekan punggung, tepat di bawah porselen. Ketika ia menariknya kembali, ujung jarinya berwarna merah.
Di cermin, bahunya tetap tegak.
Dari sela tirai, ia melihat kedua orang tuanya duduk di barisan depan.
Ibu mengenakan gaun yang telah disetrika hingga setiap lipatannya jatuh dalam garis sempurna. Ayah duduk tegak, kedua tangan bertaut di atas lutut. Mereka memandang panggung dengan ketenangan orang-orang yang telah menyerahkan sesuatu kepada dunia dan kini menunggu dunia mengembalikannya dalam keadaan lebih berharga.
Ibu mengangkat tangan ketika melihatnya.
Ia membalas dengan senyum kecil.
Kancing porselen di punggungnya terasa dingin.
Nama para peserta dipanggil satu per satu. Setiap nama diikuti tepuk tangan, lalu sepasang sayap putih melangkah ke bawah lampu. Ketika gilirannya tiba, pembawa acara mengucapkan namanya dengan suara yang mengalun rapi, seolah-olah nama itu merupakan bagian dari susunan bunga di atas meja.
Ia berjalan ke panggung.
Cahaya menyentuh wajahnya. Kursi kayu menunggu di tengah lingkaran lampu. Ia duduk, menempatkan cello di antara kedua lutut, lalu mengangkat penggesek.
Di atas, pada sudut langit-langit yang tidak terjangkau lampu, sesuatu sedang menempel pada dinding.
Ia tidak langsung melihatnya.
Mula-mula hanya ada sehelai rambut hitam yang menjuntai di antara lampu gantung. Kemudian sehelai lagi. Rambut itu turun tanpa bergerak mengikuti udara, melewati kepala seorang penonton yang sedang membungkuk untuk membaca program acara. Tidak ada yang menoleh. Tidak ada yang menyibakkan rambut dari wajah.
Ia mengangkat pandangan sedikit lebih tinggi.
Di sudut langit-langit, tubuh seorang gadis melekat dengan punggung menghadap lantai. Kedua lengannya terbuka ke samping. Bilah-bilah kayu jati membentang dari punggungnya, membentuk sayap yang terlalu kaku untuk mengepak. Beberapa bagian telah retak. Sebuah pasak besi menggantung miring, menahan dua bilah yang hampir terlepas.
Rambutnya jatuh melewati lampu, melewati kepala-kepala yang diam, terus turun menuju panggung.
Wajah gadis itu tidak terlihat.
Namun ia mengenali bentuk bahunya.
Ia menurunkan pandangan.
Konduktor mengangkat tangan.
Orkestra mulai bermain.
Senar cello bergetar di bawah jemarinya. Nada pertama keluar dengan suara yang nyaris sempurna, tetapi di sela dengungnya, ia mendengar bunyi lain: gesekan kayu pada kayu, pelan dan berulang, seperti seseorang sedang mengikir bagian dalam tulang rusuknya.
Ia tidak berani mengangkat kepala.
Dari sudut matanya, sesuatu bergerak di atas panggung. Bukan bayangan pemain musik, bukan pula pantulan lampu. Sehelai rambut hitam jatuh dari langit-langit, terlalu panjang untuk berasal dari kepala siapa pun yang duduk di kursi penonton.
Rambut itu menyentuh udara di dekat lampu sorot.
Lalu sehelai lagi menyusul.
Rehema terus memainkan cello. Jemarinya bergerak mengikuti partitur, sementara sesuatu di atasnya perlahan-lahan membuka diri.
Ketika akhirnya ia mengangkat mata, sosok itu telah menempel di langit-langit.
Tubuhnya terbalik, begitu kurus hingga tulang-tulangnya tampak seperti garis-garis yang hendak menembus kulit. Rambut hitamnya menjuntai sampai melewati kepala para penonton, menyusup di antara cahaya lampu dan wajah-wajah yang mendongak ke panggung tanpa pernah melihatnya. Beberapa helai rambut bergerak perlahan, meski udara di aula sama sekali tidak berembus.
Dari punggung sosok itu mencuat dua rangka kayu jati. Bukan sayap yang terbentang, melainkan bilah-bilah panjang yang tumbuh ke arah yang salah, bengkok dan saling bertumpuk seperti tulang rusuk dari makhluk yang dibongkar lalu dirakit kembali oleh tangan yang tidak memahami bentuk tubuh manusia. Pasak-pasak porselen putih tertanam di sepanjang tulang belakangnya. Masing-masing berputar sedikit demi sedikit, tanpa tangan yang menyentuhnya.
Krek.
Bunyi itu tenggelam di antara gesekan busur cello dan gema aula.
Krek.
Salah satu bilah kayunya retak. Dari celah retakan, sesuatu yang gelap merembes turun, tetapi tidak jatuh ke lantai. Cairan itu menggantung di udara seperti benang-benang pekat, lalu perlahan-lahan merayap kembali ke dalam kayu.
Wajah sosok itu tertutup rambut. Rehema hanya melihat dagunya, pucat dan terangkat pada sudut yang tidak mungkin nyaman bagi leher manusia. Bibirnya terbuka sedikit. Tidak ada suara keluar, tetapi setiap kali busur cello menyentuh senar, mulut itu ikut bergerak, seolah-olah sosok tersebut sedang memainkan musik yang sama dari tempat yang jauh di dalam tubuh Rehema.
Lalu kepalanya berputar.
Bukan tubuhnya. Hanya kepalanya, perlahan, sampai wajahnya menghadap tepat ke bawah.
Di balik tirai rambut, Rehema melihat kulit yang menyerupai kulitnya sendiri. Bentuk dagu yang sama. Garis bibir yang sama. Dan sepasang mata yang tidak berkedip, menatapnya dengan kekosongan seseorang yang telah terlalu lama menunggu untuk dilepaskan.
Pasak porselen di punggung Rehema mengencang.
Sosok itu tersenyum tanpa mengubah matanya.
Satu demi satu, bilah kayu di punggungnya mulai retak, tetapi tidak ada yang jatuh. Rangka itu tetap menempel pada langit-langit, menahan tubuh terbalik tersebut dalam posisi yang mustahil, sementara rambutnya semakin panjang dan menutupi sebagian lampu aula.
Tidak seorang pun berteriak. Tidak seorang pun menoleh.
Dan Rehema mengerti, dengan kepastian yang jauh lebih mengerikan daripada rasa takut, bahwa sosok itu tidak sedang mencoba turun.
Ia sedang menunggu sampai Rehema berhenti bergerak.
Lengan kanannya kehilangan kekuatan.
Penggesek berhenti di tengah senar.
Nada yang belum selesai itu terputus, meninggalkan ruang kosong yang segera diisi oleh instrumen lain. Ia berusaha mengangkat tangannya lagi. Jari-jarinya tidak menurut. Cello tetap terjepit di antara lututnya, sementara bahunya tertahan oleh beban yang tidak dapat dilihat penonton.
Di langit-langit, satu bilah kayu mengeluarkan bunyi retak.
Tidak ada yang mendengarnya.
Ia memandang ke depan. Barisan kursi berubah menjadi deretan wajah yang diterangi cahaya redup. Beberapa penonton menunduk, mencatat sesuatu pada buku program. Seorang lelaki menutup mulut ketika menguap. Seorang perempuan membetulkan posisi tasnya.
Di antara mereka, Ibu masih tersenyum.
Ayah tidak lagi tersenyum.
Ia mencoba menarik napas. Dada yang mengembang mengirimkan tarikan ke punggungnya. Porselen mengunci lebih rapat. Lehernya menegang. Di ujung jari, penggesek terasa seperti benda yang ditinggalkan oleh orang lain.
Ia dapat berhenti.
Pikiran itu datang tanpa suara, kecil dan bersih, seperti sebuah ruang kosong pada halaman yang belum ditulisi.
Ia dapat meletakkan penggesek. Ia dapat membiarkan cello terdiam. Ia dapat membiarkan seluruh aula mendengar bunyi napasnya sendiri.
Namun tangannya tetap terangkat dalam posisi yang telah dilatih selama bertahun-tahun.
Di langit-langit, tubuh itu bergeser beberapa sentimeter. Rambut hitamnya menyentuh bagian atas lampu gantung. Sayap kayu melengkung semakin dalam, dan sebuah serpihan jatuh, berputar pelan di bawah cahaya sebelum menghilang di antara kepala penonton.
Ia berkedip.
Langit-langit kembali menjadi langit-langit.
Lampu-lampu tetap menyala. Orkestra terus bermain. Tidak ada tubuh yang menempel di sana, tidak ada rambut yang menjuntai, tidak ada serpihan kayu di udara. Hanya rasa kaku yang menjalar dari punggung ke tengkuk, dan cello yang tidak lagi dapat ia kendalikan.
Ia menunduk.
Pada permukaan cello, pantulan wajahnya terbelah oleh retakan yang telah diperbaiki. Satu matanya berada di sisi kiri garis, satu lagi di sisi kanan. Di antara keduanya, cahaya lampu panggung membentuk sebuah garis putih yang menyerupai jahitan.
Ia memandang pantulan itu sampai garis tersebut tampak seperti sebuah pintu.
Dari suatu tempat yang tidak berada di dalam aula, sebuah suara bertanya apakah ia masih dapat mendengar dirinya sendiri.
Ia tidak menjawab.
Penggesek tetap diam di atas senar.
Konduktor menoleh sekilas, lalu kembali menghadap orkestra. Musik bergerak melewatinya, mengitari kursi, memenuhi ruang di antara lampu dan langit-langit. Tidak ada yang menghentikannya untuk memeriksa apakah pemain cello di tengah panggung masih berada di sana.
Di barisan depan, Ibu menurunkan kedua tangannya ke pangkuan.
Ayah memandang panggung dengan mata yang tenang, tetapi rahangnya tidak lagi bergerak mengikuti irama.
Ia mencoba tersenyum kepada mereka.
Otot-otot wajahnya berhasil melakukan gerakan itu, meskipun ia tidak yakin siapa yang sedang tersenyum.
Di atas, jauh di luar jangkauan pandang para penonton, terdengar satu bunyi lagi.
Krek.
Bukan bunyi kayu yang patah.
Bunyi sesuatu yang terlalu lama menahan beratnya sendiri.
Ia tetap duduk ketika musik berakhir. Tepuk tangan menyapu aula, naik ke langit-langit, lalu kembali turun dalam gema yang berlapis-lapis. Beberapa orang berdiri. Sayap-sayap putih bergerak di antara kursi, membuka dan menutup dalam riak cahaya.
Ia tidak berdiri.
Ibu merapikan ujung gaunnya. Ayah menatapnya beberapa saat sebelum mengalihkan pandangan ke panggung berikutnya.
Tidak ada kemarahan dalam wajah mereka. Tidak ada tuduhan. Hanya ruang kosong yang perlahan terbuka di antara kedua alis, tempat sebuah harapan pernah disimpan dan kini tidak lagi menemukan alasan untuk tinggal.
Ia menunduk kepada cello.
Di bawah lampu panggung, kayu tua itu tampak hampir indah.
Ia menunggu sampai para penonton pergi. Menunggu sampai petugas mematikan lampu di barisan belakang. Menunggu sampai suara langkah terakhir menghilang di balik pintu aula.
Baru setelah itu, ia mengangkat wajah.
Pada sudut langit-langit, sehelai rambut hitam masih menjuntai.
Tidak bergerak.
Tidak pula jatuh.
Dan ketika lampu terakhir dipadamkan, kegelapan tidak menghapusnya. Kegelapan hanya membuatnya lebih mudah disalahartikan sebagai bagian dari bangunan.