RALAT

Dilihat : 5

“Bagian kamu takut pulang itu dihapus saja,” kata Ibu. “Nanti orang salah paham.”

Ia meletakkan buku harianku di sebelah laptop, terbuka pada halaman yang sudutnya pernah dimakan rayap. Sampul hijaunya melengkung. Di dalamnya, tulisan seorang anak berumur empat belas tahun masih menceng-menceng, terlalu besar untuk garis-garis yang tersedia.

Aku sedang menyunting tulisan Ibu untuk buku peringatan lima belas tahun taman bacaan. Ia meminta bantuanku tiga hari lalu lewat telepon. Hanya empat halaman, katanya. Sabtu sore aku datang membawa laptop dan sekantong jeruk. Di meja makan sudah ada teh, pisang goreng, serta buku yang kusangka hilang ketika atap rumah kami bocor.

“Ibu masih menyimpannya?”

“Ada di lemari. Dibungkus plastik, jadi aman.”

Ia mengatakan itu dengan kebanggaan kecil, seperti baru mengembalikan barang yang lama kucari. Aku menyentuh sampulnya. Bekas lingkaran gelas masih ada di dekat nama yang kutulis menggunakan penggaris: MIRA.

Di layar, Ibu telah memberikan judul untuk tulisannya: Ketika Anak Menemukan Jalan Pulang.

Di paragraf kedua, ia menyalin kalimat tentang takut pulang dari catatanku, lalu menjelaskan bahwa waktu itu aku masih terlalu muda untuk memahami kasih sayang.

“Kenapa perlu pakai ini?” tanyaku.

“Panitianya minta bahan pendukung. Foto lama, catatan, apa saja. Supaya bukunya tidak cuma tulisan.”

“Mereka sudah lihat?”

“Baru foto dua halaman. Nanti mereka pilih.”

Tangannya bergerak ke piring pisang goreng. Ia mengambil yang paling besar, memindahkannya ke piringku.

“Makan dulu. Dari tadi belum disentuh.”

Aku menarik buku itu ke pangkuan. Di layar, kursor berkedip setelah sebuah kalimat yang pernah kudengar di banyak tempat: Malam itu putri saya pulang karena akhirnya memahami bahwa tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang ibu.

Aku pulang malam itu karena uangku tinggal dua ribu rupiah.

Aku tidak langsung mengatakannya.

Dalam pekerjaanku menyunting buku pelajaran, aku biasa menandai kalimat yang tidak masuk akal, menanyakan sumbernya, lalu menunggu penulis memperbaikinya. Di hadapan Ibu, aku malah membetulkan tanda koma. Ia memperhatikanku dari seberang meja sambil mengupas jeruk. Kulitnya dibentuk menjadi satu pita panjang, kebiasaan yang tak pernah berhasil kutiru.

“Jangan terlalu baku,” katanya. “Ini suara Ibu.”

Aku mengangguk.

Ibu memang pantas diminta menulis. Taman bacaan itu bermula dari dua kardus buku bekas di teras rumah kami. Sekarang ada tiga lemari, tikar yang diganti setiap beberapa tahun, dan anak-anak yang datang bahkan ketika lampu padam. Di sana, Ibu mengajarkan seorang penjual sayur membaca pesan dari anaknya. Ia menemani bocah yang masih mengeja sampai teman-temannya selesai bermain. Setiap sore ia memisahkan buku basah, merekatkan sampul yang lepas, menyapu remah makanan dari tikar.

Aku pernah membantu menghitung buku saat taman bacaan mendapat sumbangan. Ada novel yang berakhir dua kali karena beberapa lembar salah dijilid, ensiklopedia tanpa huruf K, buku resep yang penuh noda minyak. Ibu memeriksa semuanya sebelum membagikan.

“Yang rusak jangan diberikan begitu saja,” katanya. “Anak-anak juga berhak dapat yang bagus.”

Waktu itu aku bangga kepadanya.

Aku masih bangga. Itulah yang membuat jari-jariku tak kunjung menekan tombol hapus.

“Halaman mana yang Ibu kirim?”

Ia mendekatkan wajah ke telepon, mencari percakapan dengan panitia. Dari dapur terdengar tetes air jatuh ke ember. Keran yang bocor bulan lalu belum diperbaiki.

“Yang ini. Sama halaman sesudahnya.”

Di layar telepon terlihat tulisanku: Kalau besok aku tidak ada, mungkin Ibu baru mau mengetuk.

Di bawahnya, aku menggambar pintu. Pegangannya berada di sisi yang salah.

“Mira?”

Aku baru sadar Ibu sudah memanggil dua kali.

“Tolong minta mereka hapus fotonya.”

“Kenapa? Tulisanmu bagus. Anak-anak sekarang pasti mengerti.”

“Aku tidak mau mereka baca.”

Ibu meletakkan telepon dengan layar menghadap meja.

“Ya sudah, nanti namamu tidak disebut. Putri saya saja.”

Aku memandangi nama pada sampul buku. Di kampung ini, Ibu hanya punya satu anak.

Lima belas tahun lalu, aku membawa buku itu ke mana-mana, termasuk ke kamar mandi. Rumah kami kecil. Di kamar, Ibu menyimpan kain pesanan dan kardus kancing. Ia keluar masuk mengambil benang, kadang sambil meneruskan percakapan dengan pelanggan. Kalau pintu kututup, ia membukanya dengan siku. Kalau kukunci, ia mengetuk sampai aku menyerah.

“Kamar ini bukan punyamu sendiri,” katanya.

Ia benar. Aku tidur di samping gulungan kain yang nanti berubah menjadi seragam sekolah, celana kerja, atau uang belanja kami. Menuntut kamar sendiri terasa seperti meminta Ibu berhenti makan.

Maka aku menulis. Aku menulis tentang seorang teman yang berhenti duduk sebangku denganku, tentang kaki yang terlalu panjang untuk rok sekolah, tentang betapa aku membenci bunyi mesin jahit ketika sedang belajar. Aku juga menulis bahwa Ibu cantik saat tidur. Kerutan di dahinya hilang, dan bibirnya tidak lagi menggigit ujung benang.

Suatu malam, ia menemukan buku itu di bawah bantal.

Besoknya, ketika Bu Rini mengambil pesanan, aku mendengar mereka membicarakan teman sebangkuku. Bu Rini bilang anak perempuan memang suka berkawan dengan banyak aturan. Ibu tertawa, lalu membacakan kalimat yang kutulis setelah pulang sekolah: Aku ini mudah diganti, seperti penghapus yang hilang.

Aku berdiri di balik tirai dapur, memegang gelas. Air di dalamnya tumpah sedikit ke sandal.

Setelah Bu Rini pergi, aku meminta buku itu.

“Ibu cuma ingin tahu kamu kenapa. Ditanya selalu bilang tidak apa-apa.”

“Jangan dibacakan ke orang.”

“Bu Rini bukan orang lain. Dia kenal kamu sejak bayi.”

“Tetap saja.”

Ibu melepas kacamatanya. Di pangkal hidungnya ada dua cekungan merah.

“Kalau tidak dibicarakan, bagaimana Ibu bisa bantu?”

Aku tidak punya jawaban yang membuatnya puas. Setiap kalimatku dibalas dengan sesuatu yang masuk akal. Ia ibuku. Ia bertanggung jawab. Ia tak mungkin membiarkan aku menanggung masalah sendiri.

Malam itu, ketika Ibu pergi membeli obat nyamuk, aku memasukkan dua baju ke tas sekolah. Buku harianku tertinggal di atas meja mesin jahit. Aku berangkat ke rumah Niken, teman dari kelas sebelah, dengan sisa uang tabungan.

Niken sudah menggelar kasur tipis ketika ibunya menyuruh kami menelepon rumah. Aku menolak. Ibunya memberiku teh manis, lalu menjelaskan pelan-pelan bahwa ia tidak bisa menyembunyikan anak orang.

Aku memilih pergi lagi. Di halte, aku naik angkot tanpa tahu akan turun di mana. Setelah penumpang lain habis, sopir bertanya rumahku. Aku menyebut jalan kami. Ia menghela napas, membalikkan kendaraan, dan mengantarku ke mulut gang. Aku menyerahkan uang terakhir. Ia mengambil sebagian saja.

Ibu menunggu di teras, masih memakai blus yang tadi dikenakannya. Satu sandal berada jauh di bawah kursi. Ketika melihatku, ia berdiri terlalu cepat hingga lututnya membentur meja.

Ia memelukku. Aku ingat bau keringat di bawah lengannya dan betapa lega aku melihat lampu rumah. Aku ingat juga, setelah pintu ditutup, ia memegang bahuku dan berkata, “Jangan pernah bikin Ibu seperti ini lagi.”

Aku mengangguk karena ingin mandi. Kakiku gatal setelah duduk lama di angkot. Aku lapar. Aku ingin semuanya berhenti untuk malam itu.

Besok paginya, Ibu membuat bubur. Kami tidak membicarakan buku harianku.

Sebulan kemudian ia mulai mengumpulkan buku bekas. Katanya, kalau anak-anak punya tempat untuk berkumpul, mereka tak perlu mencari tempat yang tidak-tidak. Aku membantu menempelkan kertas bertuliskan TAMAN BACAAN di pagar.

Baru beberapa tahun sesudahnya aku mendengar malam itu diceritakan di depan orang banyak. Seorang mahasiswa yang datang membawa sumbangan bertanya mengapa Ibu mendirikan taman bacaan. Ibu melirikku dengan senyum yang hangat.

“Anak saya pernah kabur,” katanya. “Tapi akhirnya dia tahu ke mana harus pulang.”

Aku ikut tersenyum. Mahasiswa itu menyebut Ibu hebat. Ia memberikan buket kecil dari kertas. Aku membawanya ke dapur agar tidak tersenggol anak-anak.

Sejak itu, cerita tersebut tumbuh tanpa aku. Sesekali ada ibu yang menghampiriku setelah pertemuan warga dan berkata, “Dulu kamu nakal juga, ya. Sekarang sudah mengerti perjuangan ibumu.” Aku biasanya tertawa pendek, lalu membantu membereskan kursi.

Kini, di meja makan yang sama, Ibu mengambil kembali teleponnya.

“Kalau memang tidak mau difoto, Ibu bilang ke panitia. Tidak usah tegang begitu.”

Aku mengangkat wajah. Mungkin cukup sampai di situ. Fotonya ditarik, tulisan disunting, kami makan malam. Besok aku pulang membawa sayur dalam wadah bekas es krim. Aku bisa melewatkan beberapa paragraf di buku itu sebagaimana selama ini kulewatkan pujian orang-orang.

Aku hampir mengatakan terima kasih.

Lalu Ibu menunjuk layar laptop.

“Yang itu juga diperhalus. Jangan takut pulang. Tulis saja belum memahami Ibu.”

“Tapi aku memang takut.”

Ia menarik kursinya. Kaki kursi menggesek lantai dengan bunyi yang membuatku mengecilkan suara.

“Ibu tidak pernah memukulmu.”

“Aku tahu.”

“Malam itu Ibu keliling mencarimu. Rumah Niken, sekolah, sampai ke lapangan. Kamu pikir Ibu di sini tinggal tidur?”

Aku menatap cekungan di pangkal hidungnya. Kacamatanya sekarang lebih tebal, tetapi bekas itu masih sama.

“Bukan itu yang sedang kubicarakan.”

“Lalu apa?”

Ada anak berteriak memanggil dari teras. Ibu bangkit sebelum aku menjawab. Dito hendak mengembalikan buku. Adiknya menjatuhkan kantong berisi jambu, lalu sibuk mengumpulkannya. Ibu berjongkok membantu, menanyakan apakah luka di lutut Dito sudah kering. Suaranya berubah ringan. Ia memilihkan buku baru dan menyisipkan pembatas dari potongan kalender.

Aku memperhatikan dari meja. Aku pernah menerima perhatian yang sama. Saat demam, Ibu menghentikan mesin jahit, bahkan ketika pelanggan sudah dua kali menagih. Ia meniup bubur di sendok dan tidur di sebelahku dengan pakaian yang belum berganti. Tubuhku mengingatnya. Mulutku selalu kehilangan keberanian jika ingatan itu datang.

Setelah anak-anak pergi, Ibu mengunci pagar. Ia masuk membawa jambu, mencucinya, lalu menaruh dua buah di dekat laptop.

“Kamu mau menyalahkan Ibu karena cerita itu?”

“Aku mau ceritanya diperbaiki.”

“Bagian mana?”

“Aku tidak pulang karena sudah mengerti. Aku pulang karena tidak punya tempat lain.”

Tangannya berhenti di atas kain lap.

“Bagus, dong. Kamu tahu rumahmu di sini.”

“Aku ingin waktu itu ada tempat lain.”

Kalimat itu keluar lebih keras daripada yang kuinginkan. Ibu melipat kain lap menjadi empat. Salah satu ujungnya tidak rata, dibuka lagi, lalu dilipat ulang.

“Jadi semua yang Ibu lakukan percuma?”

Aku merapatkan kedua telapak tangan di bawah meja. Sejak kecil, pertanyaan itu mempunyai jawaban tunggal. Tidak, Bu. Aku tahu Ibu sayang. Aku tidak bermaksud begitu.

“Tidak percuma,” kataku. “Tapi bukan berarti semuanya tidak menyakitkan.”

Ibu menatapku lama. Aku menunduk membuka buku harian, mencari halaman setelah gambar pintu. Ada noda berbentuk bulan sabit. Aku tidak ingat dari mana asalnya.

Di sana kutulis: Besok kalau ditanya, bilang saja sudah senang.

Aku membacanya dua kali dalam hati, lalu memutar buku menghadap Ibu.

Ia tidak segera membaca. Jarinya menyusuri sobekan kecil di pinggir halaman, seperti hendak merapikannya. Setelah itu ia mengenakan kacamata.

“Namanya juga anak-anak,” katanya. “Kalau sedang marah, menulis macam-macam.”

Aku menarik buku itu kembali.

“Sekarang aku dua puluh sembilan.”

Ia mengulurkan tangan, tetapi berhenti sebelum menyentuh sampulnya.

Di dapur, air terus menetes. Ibu berdiri untuk mematikan keran. Ia memutarnya kuat-kuat. Tetes air berhenti beberapa detik, kemudian terdengar lagi.

“Dulu Ibu tidak tahu caranya,” katanya dari sana. “Kalau kamu diam seharian, Ibu takut. Ada apa, dengan siapa. Ibu tidak bisa menebak terus.”

“Karena itu Ibu baca?”

Ia kembali ke meja, tidak duduk.

“Ibu kira setelah tahu, Ibu bisa menolong.”

Aku ingin percaya ada titik ketika ia dapat melihat perbedaannya. Aku membayangkan ia duduk, meminta maaf, dan mengembalikan sesuatu yang hilang tanpa perlu kubuktikan lagi. Keinginan itu membuatku marah ketika ia cuma bertanya, “Kenapa baru sekarang?”

“Karena setiap aku mencoba, kita sampai ke pertanyaan yang sama. Apa aku tidak tahu pengorbanan Ibu.”

“Kamu sendiri dulu membantu mengetik cerita-cerita Ibu.”

“Iya.”

“Waktu dimuat di koran, kamu yang membeli lima eksemplar.”

“Iya, Bu.”

Aku masih menyimpan salah satunya. Aku pernah memamerkannya kepada rekan kerja. Aku menyukai cara mereka melihatku sesudah membaca nama Ibu, seolah-olah ada bagian baik dari diriku yang akhirnya mendapat penjelasan.

“Aku juga pernah bangga pada cerita itu,” kataku. “Kadang masih. Susah untuk dijelaskan.”

Ibu menunggu. Di mulutnya ada gerakan kecil, awal sebuah jawaban. Aku menyegerakan kalimat berikutnya sebelum ia sempat masuk.

“Aku ingin Ibu diakui. Tapi setiap orang bilang aku beruntung, aku tidak bisa bercerita tentang bagian yang lain. Rasanya kalau aku mengatakannya, aku sedang merusak Ibu.”

Ibu duduk perlahan. Pandangannya beralih ke tulisan pada layar. Di paragraf terakhir, ia menyebutku seorang anak yang kini tumbuh mandiri dan selalu menjadi sahabat terdekat ibunya.

Kami bertemu kira-kira sebulan sekali. Aku menelepon setiap Rabu. Kami membicarakan harga bahan makanan, sakit punggungnya, dan buku-buku baru. Jika ada yang membuatku menangis, aku biasanya menelepon Niken.

Aku tidak membacakan paragraf itu.

“Ibu cuma ingin orang yang anaknya kabur tidak putus asa,” katanya.

“Tulis tentang bagaimana Ibu mencariku. Itu pengalaman Ibu. Jangan tulis alasan aku pulang kalau Ibu tidak mau mendengar alasanku.”

Ia membuka dan menutup kotak kacamatanya.

“Besok tulisan harus dikirim. Panitia sudah menunggu.”

“Aku bisa bantu menulis ulang malam ini.”

“Kalau begitu, Ibu ini kelihatan bagaimana?”

Aku tidak menjawab. Aku tahu ia telah membayangkan orang-orang membaca buku itu, mungkin duduk dengan pakaian rapi saat acara peluncuran. Ia yang dulu menunduk ketika pelanggan mempersoalkan jahitan kini diminta berdiri di depan. Aku tak ingin merebut semua itu. Aku juga tak sanggup lagi menyodorkan anak umur empat belas tahun untuk membayar tempatnya di sana.

Ibu memindahkan pandangan dari layar ke buku di pangkuanku.

“Ibu juga ada di dalam buku itu.”

“Aku tahu.”

“Yang kamu tulis tentang mesin jahit. Tentang Ibu mengomel. Orang bisa menyangka—”

Ia menghentikan kalimatnya. Aku melihat ia mengusap leher, gerakan yang biasa dilakukannya ketika kerah baju terasa terlalu sempit.

“Aku tidak akan menyerahkan buku ini ke siapa pun,” kataku. “Aku tidak sedang mencari orang untuk membenarkanku.”

“Lalu kamu mau apa?”

“Jangan pakai lagi cerita aku kabur. Fotonya juga. Kalau Ibu tetap mengirimkannya, aku akan bilang kepada panitia bahwa aku keberatan.”

Ibu menjauhkan piringku sedikit, seolah meja mendadak terlalu penuh. Aku menahan keinginan untuk mencabut kalimat terakhir. Betapa mudahnya meminta maaf sekarang. Teh kami bisa dihangatkan lagi, dan malam itu akan kelihatan baik-baik saja.

Ia membuka percakapan dengan panitia. Jempolnya bergerak sebentar, berhenti, menghapus. Aku menunggu. Di luar, pedagang nasi goreng memukul mangkuk tiga kali.

“Ibu bilang tulisannya ditunda.”

“Dan fotonya?”

Ia mengetik lagi, lalu menyodorkan telepon. Tolong jangan gunakan foto catatan kemarin. Saya belum meminta izin pemiliknya.

Aku membaca pesan itu sebelum ia mengirimkannya. Kata pemiliknya terlihat kaku, seolah diambil dari surat resmi. Aku tidak meminta ia menggantinya.

Setelah pesan terkirim, kami lama tidak bicara. Ibu membereskan piring. Aku ikut membawa gelas ke dapur. Ketika tanganku berusaha meraih piring kotor, ia mengambilnya lebih dulu.

“Sudah. Ibu saja.”

Aku mundur. Malam itu ia masih marah. Aku juga.

Aku menginap di kamar lama. Kardus kain telah dipindahkan ke gudang; sejak beberapa tahun lalu, Ibu hanya menerima pesanan kecil. Di dekat jendela ada rak berisi buku taman bacaan yang belum diperbaiki. Aku menaruh buku harianku di bawah bantal, kemudian mengambilnya lagi dan memasukkannya ke tas.

Sebelum tidur, aku mengirim pesan kepada Niken: “Sudah kubilang.”

Ia menjawab: “Terus?”

Aku memandangi pertanyaan itu sampai layar meredup.

Pagi berikutnya, Ibu memasak nasi goreng. Ia tidak bertanya bagaimana tidurku. Aku tidak bertanya apakah ia sempat tidur. Kami makan dengan radio menyala terlalu keras. Ketika aku berdiri mengambil tas, ia menyerahkan wadah bekas es krim berisi lauk.

“Panitianya sudah balas,” katanya. “Fotonya dihapus. Tulisan Ibu tidak jadi masuk buku ini.”

“Ibu masih bisa menulis yang lain.”

“Sekarang belum bisa.”

Aku mengangguk.

Setelah mengenakan sepatu, aku mengingatkan soal keran. Ibu bilang tukang akan datang Senin. Aku menawarkan biaya perbaikan, dan ia menjawab nanti dilihat dulu. Percakapan kecil itu membuatku ingin menangis lebih daripada pembicaraan semalam. Aku sibuk memasukkan wadah lauk supaya tutupnya tidak lepas.

“Mira.”

Aku menoleh. Ibu berdiri di ambang pintu dengan dua sandal yang tidak sama. Salah satunya milikku. Biasanya aku akan tertawa dan mengambil foto. Pagi itu aku menunjuk kakinya saja. Ia melihat ke bawah, lalu tersenyum sebentar.

“Yang di buku,” katanya, “apa masih terasa sampai sekarang?”

Aku memegang tali tas. Angkot yang biasa kutumpangi lewat di ujung gang. Aku membiarkannya pergi.

“Sebagian.”

Ibu membuka mulut. Aku menunggu kalimat tentang berapa lama semua itu berlalu, tentang hal-hal yang seharusnya sudah bisa kulupakan.

Ia menutup mulutnya lagi.

Aku menurunkan tas dari bahu. Ada bangku kecil di teras, tempat anak-anak biasanya melepas sepatu. Ibu duduk di salah satu ujungnya. Aku duduk di ujung yang lain, menyisakan ruang untuk tas.

“Aku paling ingat waktu Ibu baca tulisanku ke Bu Rini,” kataku.

Ibu menunduk, menarik sandalku dari kakinya. Ia meletakkannya di dekat pintu.

“Waktu itu aku ada di dapur.”

Ia memandangku. Aku kembali merasakan gelas dingin di tangan, air yang membasahi kaki. Dari dalam rumah terdengar radio berganti lagu. Untuk beberapa saat, aku tak tahu bagaimana melanjutkan.

Ibu tetap duduk. Ceritaku belum selesai, dan ia tidak mencoba menyelesaikannya.