KERLIP BINTANG DIANDRA MENYAPA KERAGUAN

Dilihat : 141

Lampu gantung gading dengan pernik krsital di ruang tengah rumah tua itu bergoyang pelan ditimpa angin malam. Suara detak jam dinding Junghuns bergaya kuno  seakan sengaja membesarkan suaranya, mengisi sela-sela hening yang merayap di antara tiga orang di meja makan. Di kepala meja, Aris duduk dengan tubuh tegak. Rambutnya yang telah memudar abu abu  disisir rapi ke belakang. Di tangannya, selembar kertas hasil cetakan surat penerimaan beasiswa luar negeri milik Rendy, putranya, tergenggam licin. Tapi tatapan Aris bukan tertuju pada tulisan emas di atas kertas mahal itu. Matanya menatap tajam ke piring nasi di depannya yang baru tersentuh separuh.

"Kamu sudah dewasa, Rendy. Tapi sepertinya kamu belum mengerti skala prioritas dan mana yang sekadar ambisi mentah," suara Aris datar, namun memiliki gaung yang membuat udara di ruangan itu mendadak dingin.

Rendy mengepalkan telapak tangannya di bawah meja. Ibunya  yang duduk di sampingnya mencoba memegang punggung tangan putranya perlahan, menyalurkan gestur agar Rendy menahan diri. Namun, dada Rendy sudah terlanjur bergemuruh. Berbulan-bulan ia belajar hingga larut malam, menyisihkan sisa energinya di antara sela-sela kuliah untuk mengejar beasiswa riset analis lingkungan di Jerman ini.

"Ini bukan ambisi mentah, Yah," sahut Rendy, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Ini kesempatan sekali seumur hidup. Riset ini fokus pada pengelolaan limbah perkotaan—persis seperti yang sedang kembangkan di kampus."

Aris meletakkan kertas itu di atas meja. Tidak dikembalikan dengan kasar, tapi ditaruh begitu saja di samping tempat sambal, seolah dokumen berpengaruh itu tak lebih dari brosur leaflet promo minimarket.

"Limbah," Aris terkehdoh kecil, sebuah tawa tipis tanpa nada humor. "Ayah  membesarkanmu, membiayai kuliah teknik sipilmu, bukan untuk melihatmu mengurusi sampah di negeri orang. Perusahaan konstruksi yang Ayah bangun selama dua puluh tahun ini butuh penerus. Bukan orang asing, bukan profesional luar. Tapi kamu."

"Tapi aku nggak pernah minta buat meneruskan perusahaan itu, Yah! Fokusku beda," potong Rendy.

"Beda atau kamu yang belum sadar?" Aris memotong balik, suaranya naik setengah oktaf namun tetap terkontrol secara mengerikan. "Siapa yang paling tahu apa yang terbaik untuk masa depanmu? Ayah yang sudah makan asam garam kehidupan, atau kamu yang baru memegang satu lembar ijazah sarjana?"

Rendy menatap ibunya, mencari dorongan moral. Namun sang ibu hanya menunduk, mengaduk-aduk supnya yang sudah mendingin. Di rumah ini, keputusan Aris adalah hukum yang tak tertulis. Kebijakan yang tidak bisa diganggu gugat.

"Ini bukan soal masa depan Rendy, kan?" ujar Rendy pelan, suaranya kini bergetar oleh kepedihan yang terpendam lama. "Ini soal gengsi Ayah di depan teman-teman Ayah. Ayah cuma mau Rendy duduk di kursi direktur supaya Ayah bisa bilang ke semua orang kalau penerus Ayah sukses meneruskan peninggalan Ayah."

Malam sangat menyiksa. Semestinya meja makan itu untuk membangun suasana hati serta moral kekeluargaan. Tapi berubah menjadi badai kecil. Suasana mendadak hening total. Bahkan jam dinding seolah menahan nafasnya.

 

Aris berdiri. Kursi kayu jati di belakangnya bergeser keras menghantam lantai marmer. Ia menatap Rendy tanpa kedipan. Rendy bersiap menerima ledakan amarah, makian, atau pukulan di meja. Namun, ledakan itu tak pernah datang. Aris hanya merapikan kerah kemejanya, menatap Rendy dengan pandangan dingin yang seolah menghapus seluruh keberadaan putranya di ruangan itu, lalu berkata, "Kalau kamu berangkat bulan depan, jangan pernah merasa punya jalan untuk pulang ke rumah ini lagi. Batas dirimu dan Ayah  pagar depan rumah ini". Setelah itu, Aris melangkah pergi menuju kamar kerjanya, meninggalkan pintu yang tertutup rapat.

Malam itu, Rendy tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi ranjang kameranya yang penuh dengan kenangan masa kecil. Di dinding, masih terpajang piala-piala kejuaraan matematika dan sains saat ia masih sekolah. Dulu, ia berpikir piala-piala itu adalah bukti bahwa ayahnya bangga padanya. Tapi seiring bertambahnya usia, Rendy menyadari bahwa setiap piala itu dipajang di ruang tamu bukan untuk merayakan usahanya, melainkan untuk dipamerkan Aris kepada relasi bisnis yang berkunjung.

Suara ketukan halus terdengar di pintunya. Ibunya masuk membawa segelas teh hangat.

"Ibu tahu kamu kecewa," bisik ibunya seraya duduk di samping Rendy.

"Kenapa Ayah selalu begitu, Bu?" tanya Rendy, matanya memerah. "Kenapa sulit

sekali buat Ayah bilang, 'Selamat ya, Nak!, kamu berhasil'? Kenapa semua keberhasilanku harus selalu diukur dari seberapa cocok itu sama rencana Ayah?"

Ibunya mengelus kepala Rendy dengan lembut. Ada helaan napas panjang yang sarat dengan rahasia bertahun-tahun.

"Ego seorang ayah, apalagi seperti ayahmu, adalah hal yang paling sulit dijelaskan, Rendy," kata Ibu pelan. "Itu dibangun dari rasa takut yang dibungkus dengan topeng wibawa. Ayahmu lahir dari keluarga yang tidak punya apa-apa. Dulu dia diremehkan, diinjak-injak, dan dianggap tidak akan jadi apa-apa. Dia membangun segalanya dari nol dengan keras kepala. Dan tanpa dia sadari, keras kepala itu berubah jadi benteng yang memenjarakan dirinya sendiri—dan orang-orang di sekitarnya."

"Tapi itu bukan alasan buat mematikan mimpi Rendy, Bu!. Saat ini diriku satunya satunya kandidat penerima beasiswa bergengsi di jerman. Aku berharap akan memperoleh selain ilmu yang berkah, juga semua peluang dan pengalaman analisis lingkungan, yang nantinya juga untuk kerja di tempat perusahaan Ayah, serta  membanggakan keluarga ini,”   "Ibu tahu," jawab ibunya lirih. "Ibu tidak membela ayahmu. Tapi jika kamu berpikir dia melakukan ini karena dia membencimu, kamu salah. Dia takut, Rendy. Dia takut kalau kamu memilih jalan yang tidak bisa dia kendalikan, kamu akan gagal, dan dia tidak akan bisa melindungimu. Tapi cara dia mengekspresikan ketakutan itu... memang salah. Dia membungkus rasa sayangnya dengan kontrol yang berlebihan." Rendy memeluk ibunya erat. "Rendy tetap harus pergi, Bu!. Kalau Rendy menyerah sekarang, Rendy nggak akan pernah jadi diri Rendy sendiri." Ibunya tersenyum tipis, meski air mata menetes di pipinya. "Pergilah. Ibu yang akan jaga rumah ini."

Bulan berganti. Rendy benar-benar pergi ke Jerman. Pada hari keberangkatannya di bandara, Aris tidak datang. Hanya ibunya yang mengantar dengan pelukan hangat dan derai air mata. Di dalam pesawat yang melintasi ribuan kilometer Samudra Hindia menuju Benua Biru, Rendy menyimpan tekad bulat: ia akan membuktikan bahwa jalannya tidak salah.

Tahun-tahun di Jerman berjalan sangat keras. Rendy harus beradaptasi dengan cuaca dingin yang menyengat, bahasa yang rumit, dan tekanan akademis yang tinggi. Untuk bertahan hidup, ia bekerja paruh waktu di perpustakaan kampus dan menjadi asisten laboratorium. Tidak ada uang saku tambahan dari rumah. Aris benar-benar memotong seluruh akses finansial dan komunikasi dengannya.

 

Setiap minggu, Rendy hanya menelepon ibunya secara sembunyi-sembunyi. Dari ibunya, Rendy tahu bahwa Aris tidak pernah menanyakan kabarnya secara langsung. Namun, ibunya juga menceritakan satu detail kecil yang janggal: berita masmedia cetak, serta koran-koran bekas yang memuat artikel tentang analisis isu lingkungan selalu tertata rapi di meja kerja Aris, padahal sebelumnya Aris tidak pernah peduli membaca berita selain bisnis dan politik.

Rendy menyelesaikan studi magisternya dengan predikat kelulusan terbaik. Risetnya tentang konversi sampah organik menjadi energi terbarukan dengan presisi tinggi  disertai analisis marketing serta supply komponen kimianya, mendapat penghargaan dari lembaga riset Eropa. Nama Rendy mulai dikenal di kalangan akademisi internasional.

Suatu hari, setelah presentasi besarnya di sebuah konferensi internasional di Berlin, seorang dosen senior asal Indonesia yang juga menjadi pembicara mendekati Rendy.

"Kamu, Mas Rendy, kan? Putranya Bapak Aris?" tanya dosen senior itu ramah.

Rendy agak terkejut. "Iya, Pak. Bapak kenal dengan Ayah saya?"

Dosen itu tertawa kecil. "Kenal baik. Tiga bulan lalu saya mudik ke Jakarta dan sempat minum kopi dengan ayahmu. Kamu tahu? Dia memamerkan makalah ilmiahmu yang terbit di jurnal internasional itu ke saya. Dia bilang, 'Lihat ini, anak saya yang bikin riset ini di Jerman.'"

Rendy terpaku. Perasaanya limbung. Matanya nanar. Dirinya serasa  seperti dihantam gelombang kejut tak kasatmata. "Ayah... memamerkan makalah saya?".Rendy  mengguman berulang ulang kalimat tersebut di lubuk hatinya.

"Iya," lanjut dosen itu tanpa menyadari gejolak di dada Rendy. "Tapi yah, dasar Pak Aris. Setelah memamerkan itu, dia langsung menambahkan, 'Tapi kalau dia pakai ilmu sipil yang saya ajarkan dulu, risetnya pasti jauh lebih sempurna dari ini.' Ayahmu itu keras kepala sekali, Rendy. Dia seperti tidak mau mengakui kehebatanmu secara langsung di depanmu, tapi di belakangmu, dia membicarakanmu seolah kamu adalah kebanggaan terbesarnya."

Malam diselimuti salju yang baru mengguyur kamar apartemennya yang dingin di Stuttgart.  Rendy duduk menatap layar laptopnya. Pengakuan dosen senior itu berputar-putar di kepalanya. Tiba-tiba, sebuah kebenaran pahit dan hangat meresap ke dalam kalbunya. Ego orang tua memang sesuatu yang sangat aneh dan sulit dipahami. Ayahnya  terlalu gengsi untuk meminta maaf, terlalu tinggi hati untuk mengakui bahwa jalan pilihan anaknya ternyata berhasil, dan terlalu kaku untuk mengulurkan tangan terlebih dahulu. Ayah   memilih terlihat jahat dan dingin daripada harus menurunkan harga dirinya di hadapanKu, gumam Rendy lirih.

Tujuh tahun sejak keberangkatannya, Rendy akhirnya memutuskan untuk kembali pulang ke Indonesia. Ia diundang sebagai konsultan utama untuk proyek energi hijau terbarukan dari pemerintah Indoensia yang besinergi  dengan beberapa perusahaan swasta nasional. Memang akhir akhir ini dunia sedang trenseteter terhadap energi hijau terbarukan.

Langkah kakinya kembali menapaki rumah tua berarsitektur klasik itu. Suasana rumah tidak banyak berubah. Jam dinding Junghuns kuno antik itu masih berdetak dengan suara yang sama. Di ruang tengah, Aris sedang duduk di kursi kebesarannya. Usianya kini sudah kepala tujuh. Garis-garis keriput di wajahnya semakin dalam, dan rambutnya sudah sepenuhnya memutih. Saat melihat Rendy berjalan masuk membawa koper, Aris mematikan televisinya. Ruangan itu kembali diselimuti keheningan yang familiar. Dua pria dengan darah yang sama saling menatap, dipisahkan oleh gengsi dan jarak tujuh tahun yang tak terucap.

Rendy berjalan mendekat, lalu meletakkan sebuah piagam penghargaan riset terbaiknya di atas meja makan—di tempat yang sama tempat Ayahnya  pernah meletakkan surat beasiswanya tujuh tahun lalu. Dalam hatinya, ia merasa kasihan dengan kondisi ayahnya saat ini. Untuk sekedar  berjalan ayahnya kini harus ditopang dengan tongkat. Dirnya berharap kepulangannya bisa merubah merubah karakter dan ego emosinya.

Aris melirik piagam bernuansa perak itu. Tidak ada senyum di wajah tua itu. Tidak ada pelukan haru seperti di film-film drama.

"Kamu sudah pulang," kata Aris, suaranya kini terdengar agak parau oleh usia, namun nada bicaranya tetap berusaha dibuat sedatar mungkin.

"Iya, Yah. Rendy pulang," jawab Rendy.

Aris berdiri perlahan, memegang tongkat kayunya. Ia berjalan mendekati meja, melihat piagam itu sebentar, lalu menatap Rendy. Ayah informasikan untuk dirimu.

 "Proyek pemerintah energi hijau terbarukan yang baru itu... mereka kekurangan ahli konstruksi untuk struktur bangunannya," kata Ayahnya  sambil mengalihkan pandangannya ke jendela. "Perusahaan Ayah punya tim terbaik untuk itu. Kalau proyekmu tidak mau terbengkalai karena masalah manufakuring serta fondasi, kamu bisa pakai tim Ayah."

Rendy menatap wajah ayahnya. Dirinya menghadapi anomali orangtua jaman dahulu, yang kolot dan kaku. Ternyata kepulangannya tidak serta merta  bisa merubah sikap ayahnya.  Rendy berharap ayahnya mendahuli dengan kalimat “maaf”, tapi itu Tidak ada. Tidak ada kalimat "Ayah  bangga padamu". Yang ada hanyalah sebuah penawaran bisnis yang absurd dan kaku.  

Beruntungnya selama menetap di jerman, dirinya telah bersinergi dan banyak  belajar dari berbagai tipe karakter orang orang tua. Di eropa semua berjalan dan dinilai dari kemampuan  skill dan pengalaman. Antara satu pekerja dengan lainnya saling menghargai dan tenggang rasa. Namun kali ini, Rendy tidak lagi merasa marah. Ia paham. Penawaran bantuan itu sebentuk metode Ayahnya meminta maaf. Kalimat kaku itu adalah cara terbaik yang bisa diproduksi oleh ego seorang tua yang terlalu kolot  untuk mengaku salah.\

Rendy tersenyum tipis. Sebuah senyuman kedewasaan yang akhirnya memahami ketidaksempurnaan orang tuanya.

"Boleh, Yah," kata Rendy pelan. "Rendy butuh tim konstruksi yang berpengalaman, dan Rendy tahu, tidak ada yang bikin fondasi lebih kuat daripada Ayah."

Ayahnya  bergeming sejenak. Berusaha keras menyembunyikan getaran tipis di sudut bibirnya. Ia hanya mengangguk pelan, membalikkan badan, dan berjalan menuju kamarnya.

"Malam ini kita semua makan di rumah. Suruh ibumu masak ikan gurami bakar kesukaanmu," ujar Ayahnya  sebelum menghilang di balik pintu.

Rendy berdiri di ruang tengah, mendengarkan detak jam dinding yang terus berjalan. Ia tahu, egonya dan ego ayahnya mungkin tidak akan pernah benar-benar mencair sepenuhnya. Tapi di antara celah-celah keras batu ego itu, kasih sayang selalu menemukan jalannya sendiri untuk mengalir—meski dengan cara yang paling rumit dan sulit untuk dijelaskan. Ketika malam telah semakin larut. Rendy melihat ibu dan ayahnya di ruang meja makan terlihat keduanya sangat tenang dan damai. Saat dirinya  membuka jendela depan kamarnya, siluet rona bintang diandra  mulai bergeser  di horison barat.##

 

 Lampu gantung gading dengan pernik krsital di ruang tengah rumah tua itu bergoyang pelan ditimpa angin malam. Suara detak jam dinding Junghuns bergaya kuno  seakan sengaja membesarkan suaranya, mengisi sela-sela hening yang merayap di antara tiga orang di meja makan. Di kepala meja, Aris duduk dengan tubuh tegak. Rambutnya yang telah memudar abu abu  disisir rapi ke belakang. Di tangannya, selembar kertas hasil cetakan surat penerimaan beasiswa luar negeri milik Rendy, putranya, tergenggam licin. Tapi tatapan Aris bukan tertuju pada tulisan emas di atas kertas mahal itu. Matanya menatap tajam ke piring nasi di depannya yang baru tersentuh separuh.

"Kamu sudah dewasa, Rendy. Tapi sepertinya kamu belum mengerti skala prioritas dan mana yang sekadar ambisi mentah," suara Aris datar, namun memiliki gaung yang membuat udara di ruangan itu mendadak dingin.

Rendy mengepalkan telapak tangannya di bawah meja. Ibunya  yang duduk di sampingnya mencoba memegang punggung tangan putranya perlahan, menyalurkan gestur agar Rendy menahan diri. Namun, dada Rendy sudah terlanjur bergemuruh. Berbulan-bulan ia belajar hingga larut malam, menyisihkan sisa energinya di antara sela-sela kuliah untuk mengejar beasiswa riset analis lingkungan di Jerman ini.

"Ini bukan ambisi mentah, Yah," sahut Rendy, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Ini kesempatan sekali seumur hidup. Riset ini fokus pada pengelolaan limbah perkotaan—persis seperti yang sedang kembangkan di kampus."

Aris meletakkan kertas itu di atas meja. Tidak dikembalikan dengan kasar, tapi ditaruh begitu saja di samping tempat sambal, seolah dokumen berpengaruh itu tak lebih dari brosur leaflet promo minimarket.

"Limbah," Aris terkehdoh kecil, sebuah tawa tipis tanpa nada humor. "Ayah  membesarkanmu, membiayai kuliah teknik sipilmu, bukan untuk melihatmu mengurusi sampah di negeri orang. Perusahaan konstruksi yang Ayah bangun selama dua puluh tahun ini butuh penerus. Bukan orang asing, bukan profesional luar. Tapi kamu."

"Tapi aku nggak pernah minta buat meneruskan perusahaan itu, Yah! Fokusku beda," potong Rendy.

"Beda atau kamu yang belum sadar?" Aris memotong balik, suaranya naik setengah oktaf namun tetap terkontrol secara mengerikan. "Siapa yang paling tahu apa yang terbaik untuk masa depanmu? Ayah yang sudah makan asam garam kehidupan, atau kamu yang baru memegang satu lembar ijazah sarjana?"

Rendy menatap ibunya, mencari dorongan moral. Namun sang ibu hanya menunduk, mengaduk-aduk supnya yang sudah mendingin. Di rumah ini, keputusan Aris adalah hukum yang tak tertulis. Kebijakan yang tidak bisa diganggu gugat.

"Ini bukan soal masa depan Rendy, kan?" ujar Rendy pelan, suaranya kini bergetar oleh kepedihan yang terpendam lama. "Ini soal gengsi Ayah di depan teman-teman Ayah. Ayah cuma mau Rendy duduk di kursi direktur supaya Ayah bisa bilang ke semua orang kalau penerus Ayah sukses meneruskan peninggalan Ayah."

Malam sangat menyiksa. Semestinya meja makan itu untuk membangun suasana hati serta moral kekeluargaan. Tapi berubah menjadi badai kecil. Suasana mendadak hening total. Bahkan jam dinding seolah menahan nafasnya.

 

Aris berdiri. Kursi kayu jati di belakangnya bergeser keras menghantam lantai marmer. Ia menatap Rendy tanpa kedipan. Rendy bersiap menerima ledakan amarah, makian, atau pukulan di meja. Namun, ledakan itu tak pernah datang. Aris hanya merapikan kerah kemejanya, menatap Rendy dengan pandangan dingin yang seolah menghapus seluruh keberadaan putranya di ruangan itu, lalu berkata, "Kalau kamu berangkat bulan depan, jangan pernah merasa punya jalan untuk pulang ke rumah ini lagi. Batas dirimu dan Ayah  pagar depan rumah ini". Setelah itu, Aris melangkah pergi menuju kamar kerjanya, meninggalkan pintu yang tertutup rapat.

Malam itu, Rendy tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi ranjang kameranya yang penuh dengan kenangan masa kecil. Di dinding, masih terpajang piala-piala kejuaraan matematika dan sains saat ia masih sekolah. Dulu, ia berpikir piala-piala itu adalah bukti bahwa ayahnya bangga padanya. Tapi seiring bertambahnya usia, Rendy menyadari bahwa setiap piala itu dipajang di ruang tamu bukan untuk merayakan usahanya, melainkan untuk dipamerkan Aris kepada relasi bisnis yang berkunjung.

Suara ketukan halus terdengar di pintunya. Ibunya masuk membawa segelas teh hangat.

"Ibu tahu kamu kecewa," bisik ibunya seraya duduk di samping Rendy.

"Kenapa Ayah selalu begitu, Bu?" tanya Rendy, matanya memerah. "Kenapa sulit

sekali buat Ayah bilang, 'Selamat ya, Nak!, kamu berhasil'? Kenapa semua keberhasilanku harus selalu diukur dari seberapa cocok itu sama rencana Ayah?"

Ibunya mengelus kepala Rendy dengan lembut. Ada helaan napas panjang yang sarat dengan rahasia bertahun-tahun.

"Ego seorang ayah, apalagi seperti ayahmu, adalah hal yang paling sulit dijelaskan, Rendy," kata Ibu pelan. "Itu dibangun dari rasa takut yang dibungkus dengan topeng wibawa. Ayahmu lahir dari keluarga yang tidak punya apa-apa. Dulu dia diremehkan, diinjak-injak, dan dianggap tidak akan jadi apa-apa. Dia membangun segalanya dari nol dengan keras kepala. Dan tanpa dia sadari, keras kepala itu berubah jadi benteng yang memenjarakan dirinya sendiri—dan orang-orang di sekitarnya."

"Tapi itu bukan alasan buat mematikan mimpi Rendy, Bu!. Saat ini diriku satunya satunya kandidat penerima beasiswa bergengsi di jerman. Aku berharap akan memperoleh selain ilmu yang berkah, juga semua peluang dan pengalaman analisis lingkungan, yang nantinya juga untuk kerja di tempat perusahaan Ayah, serta  membanggakan keluarga ini,”   "Ibu tahu," jawab ibunya lirih. "Ibu tidak membela ayahmu. Tapi jika kamu berpikir dia melakukan ini karena dia membencimu, kamu salah. Dia takut, Rendy. Dia takut kalau kamu memilih jalan yang tidak bisa dia kendalikan, kamu akan gagal, dan dia tidak akan bisa melindungimu. Tapi cara dia mengekspresikan ketakutan itu... memang salah. Dia membungkus rasa sayangnya dengan kontrol yang berlebihan." Rendy memeluk ibunya erat. "Rendy tetap harus pergi, Bu!. Kalau Rendy menyerah sekarang, Rendy nggak akan pernah jadi diri Rendy sendiri." Ibunya tersenyum tipis, meski air mata menetes di pipinya. "Pergilah. Ibu yang akan jaga rumah ini."

Bulan berganti. Rendy benar-benar pergi ke Jerman. Pada hari keberangkatannya di bandara, Aris tidak datang. Hanya ibunya yang mengantar dengan pelukan hangat dan derai air mata. Di dalam pesawat yang melintasi ribuan kilometer Samudra Hindia menuju Benua Biru, Rendy menyimpan tekad bulat: ia akan membuktikan bahwa jalannya tidak salah.

Tahun-tahun di Jerman berjalan sangat keras. Rendy harus beradaptasi dengan cuaca dingin yang menyengat, bahasa yang rumit, dan tekanan akademis yang tinggi. Untuk bertahan hidup, ia bekerja paruh waktu di perpustakaan kampus dan menjadi asisten laboratorium. Tidak ada uang saku tambahan dari rumah. Aris benar-benar memotong seluruh akses finansial dan komunikasi dengannya.

 

Setiap minggu, Rendy hanya menelepon ibunya secara sembunyi-sembunyi. Dari ibunya, Rendy tahu bahwa Aris tidak pernah menanyakan kabarnya secara langsung. Namun, ibunya juga menceritakan satu detail kecil yang janggal: berita masmedia cetak, serta koran-koran bekas yang memuat artikel tentang analisis isu lingkungan selalu tertata rapi di meja kerja Aris, padahal sebelumnya Aris tidak pernah peduli membaca berita selain bisnis dan politik.

Rendy menyelesaikan studi magisternya dengan predikat kelulusan terbaik. Risetnya tentang konversi sampah organik menjadi energi terbarukan dengan presisi tinggi  disertai analisis marketing serta supply komponen kimianya, mendapat penghargaan dari lembaga riset Eropa. Nama Rendy mulai dikenal di kalangan akademisi internasional.

Suatu hari, setelah presentasi besarnya di sebuah konferensi internasional di Berlin, seorang dosen senior asal Indonesia yang juga menjadi pembicara mendekati Rendy.

"Kamu, Mas Rendy, kan? Putranya Bapak Aris?" tanya dosen senior itu ramah.

Rendy agak terkejut. "Iya, Pak. Bapak kenal dengan Ayah saya?"

Dosen itu tertawa kecil. "Kenal baik. Tiga bulan lalu saya mudik ke Jakarta dan sempat minum kopi dengan ayahmu. Kamu tahu? Dia memamerkan makalah ilmiahmu yang terbit di jurnal internasional itu ke saya. Dia bilang, 'Lihat ini, anak saya yang bikin riset ini di Jerman.'"

Rendy terpaku. Perasaanya limbung. Matanya nanar. Dirinya serasa  seperti dihantam gelombang kejut tak kasatmata. "Ayah... memamerkan makalah saya?".Rendy  mengguman berulang ulang kalimat tersebut di lubuk hatinya.

"Iya," lanjut dosen itu tanpa menyadari gejolak di dada Rendy. "Tapi yah, dasar Pak Aris. Setelah memamerkan itu, dia langsung menambahkan, 'Tapi kalau dia pakai ilmu sipil yang saya ajarkan dulu, risetnya pasti jauh lebih sempurna dari ini.' Ayahmu itu keras kepala sekali, Rendy. Dia seperti tidak mau mengakui kehebatanmu secara langsung di depanmu, tapi di belakangmu, dia membicarakanmu seolah kamu adalah kebanggaan terbesarnya."

Malam diselimuti salju yang baru mengguyur kamar apartemennya yang dingin di Stuttgart.  Rendy duduk menatap layar laptopnya. Pengakuan dosen senior itu berputar-putar di kepalanya. Tiba-tiba, sebuah kebenaran pahit dan hangat meresap ke dalam kalbunya. Ego orang tua memang sesuatu yang sangat aneh dan sulit dipahami. Ayahnya  terlalu gengsi untuk meminta maaf, terlalu tinggi hati untuk mengakui bahwa jalan pilihan anaknya ternyata berhasil, dan terlalu kaku untuk mengulurkan tangan terlebih dahulu. Ayah   memilih terlihat jahat dan dingin daripada harus menurunkan harga dirinya di hadapanKu, gumam Rendy lirih.

Tujuh tahun sejak keberangkatannya, Rendy akhirnya memutuskan untuk kembali pulang ke Indonesia. Ia diundang sebagai konsultan utama untuk proyek energi hijau terbarukan dari pemerintah Indoensia yang besinergi  dengan beberapa perusahaan swasta nasional. Memang akhir akhir ini dunia sedang trenseteter terhadap energi hijau terbarukan.

Langkah kakinya kembali menapaki rumah tua berarsitektur klasik itu. Suasana rumah tidak banyak berubah. Jam dinding Junghuns kuno antik itu masih berdetak dengan suara yang sama. Di ruang tengah, Aris sedang duduk di kursi kebesarannya. Usianya kini sudah kepala tujuh. Garis-garis keriput di wajahnya semakin dalam, dan rambutnya sudah sepenuhnya memutih. Saat melihat Rendy berjalan masuk membawa koper, Aris mematikan televisinya. Ruangan itu kembali diselimuti keheningan yang familiar. Dua pria dengan darah yang sama saling menatap, dipisahkan oleh gengsi dan jarak tujuh tahun yang tak terucap.

Rendy berjalan mendekat, lalu meletakkan sebuah piagam penghargaan riset terbaiknya di atas meja makan—di tempat yang sama tempat Ayahnya  pernah meletakkan surat beasiswanya tujuh tahun lalu. Dalam hatinya, ia merasa kasihan dengan kondisi ayahnya saat ini. Untuk sekedar  berjalan ayahnya kini harus ditopang dengan tongkat. Dirnya berharap kepulangannya bisa merubah merubah karakter dan ego emosinya.

Aris melirik piagam bernuansa perak itu. Tidak ada senyum di wajah tua itu. Tidak ada pelukan haru seperti di film-film drama.

"Kamu sudah pulang," kata Aris, suaranya kini terdengar agak parau oleh usia, namun nada bicaranya tetap berusaha dibuat sedatar mungkin.

"Iya, Yah. Rendy pulang," jawab Rendy.

Aris berdiri perlahan, memegang tongkat kayunya. Ia berjalan mendekati meja, melihat piagam itu sebentar, lalu menatap Rendy. Ayah informasikan untuk dirimu.

 "Proyek pemerintah energi hijau terbarukan yang baru itu... mereka kekurangan ahli konstruksi untuk struktur bangunannya," kata Ayahnya  sambil mengalihkan pandangannya ke jendela. "Perusahaan Ayah punya tim terbaik untuk itu. Kalau proyekmu tidak mau terbengkalai karena masalah manufakuring serta fondasi, kamu bisa pakai tim Ayah."

Rendy menatap wajah ayahnya. Dirinya menghadapi anomali orangtua jaman dahulu, yang kolot dan kaku. Ternyata kepulangannya tidak serta merta  bisa merubah sikap ayahnya.  Rendy berharap ayahnya mendahuli dengan kalimat “maaf”, tapi itu Tidak ada. Tidak ada kalimat "Ayah  bangga padamu". Yang ada hanyalah sebuah penawaran bisnis yang absurd dan kaku.  

Beruntungnya selama menetap di jerman, dirinya telah bersinergi dan banyak  belajar dari berbagai tipe karakter orang orang tua. Di eropa semua berjalan dan dinilai dari kemampuan  skill dan pengalaman. Antara satu pekerja dengan lainnya saling menghargai dan tenggang rasa. Namun kali ini, Rendy tidak lagi merasa marah. Ia paham. Penawaran bantuan itu sebentuk metode Ayahnya meminta maaf. Kalimat kaku itu adalah cara terbaik yang bisa diproduksi oleh ego seorang tua yang terlalu kolot  untuk mengaku salah.\

Rendy tersenyum tipis. Sebuah senyuman kedewasaan yang akhirnya memahami ketidaksempurnaan orang tuanya.

"Boleh, Yah," kata Rendy pelan. "Rendy butuh tim konstruksi yang berpengalaman, dan Rendy tahu, tidak ada yang bikin fondasi lebih kuat daripada Ayah."

Ayahnya  bergeming sejenak. Berusaha keras menyembunyikan getaran tipis di sudut bibirnya. Ia hanya mengangguk pelan, membalikkan badan, dan berjalan menuju kamarnya.

"Malam ini kita semua makan di rumah. Suruh ibumu masak ikan gurami bakar kesukaanmu," ujar Ayahnya  sebelum menghilang di balik pintu.

Rendy berdiri di ruang tengah, mendengarkan detak jam dinding yang terus berjalan. Ia tahu, egonya dan ego ayahnya mungkin tidak akan pernah benar-benar mencair sepenuhnya. Tapi di antara celah-celah keras batu ego itu, kasih sayang selalu menemukan jalannya sendiri untuk mengalir—meski dengan cara yang paling rumit dan sulit untuk dijelaskan. Ketika malam telah semakin larut. Rendy melihat ibu dan ayahnya di ruang meja makan terlihat keduanya sangat tenang dan damai. Saat dirinya  membuka jendela depan kamarnya, siluet rona bintang diandra  mulai bergeser  di horison barat.##