KEMARAU INI, MUSIM DINGIN KAYLA TIBA
Dilihat : 1
April 2024
Impian Kayla sejak dulu satu: merasakan musim dingin. Bermain lempar bola salju dengan kakaknya, Tanggara―atau biasa dipanggil Angga, kemudian bersama Ayah membangun orang-orangan salju yang sudah ia anggap sahabatnya sendiri bernama Olla, atau menyiapkan panekuk hangat bersama Ibu untuk disantap saat sarapan sebelum pergi keluar rumah dan merasakan dinginnya kepingan salju yang berguguran menyentuh kulit. Kemudian, mereka saling merebahkan diri di hamparan tebal salju, mengepak-ngepakkan tangan, sambil tergelak bersama menikmati kehangatan sebuah keluarga di tengah derajat suhu yang menurun.
Kayla tidak pernah mengharapkan hal selain itu. Sudah sejak lama Kayla terus memintanya kepada Yang Mahakuasa. Tidak pernah luput dalam setiap doanya, disisipkannya permohonan agar Tuhan mendatangkan musim dingin yang didambanya. Sampai akhirnya, Tuhan mengabulkannya. Hanya saja, itu terlalu cepat. April ini, menjelang kemarau panas yang menyengat, musim dingin Kayla tiba. Membekukan keluarganya dalam dingin yang tidak pernah dipinta. Menyingkirkan segala hangat yang sekadar tak lebih dari suam sejak awal.
Desember 2023
Angga selalu mencemooh impiannya tersebut. “Jangan muluk-muluk, Kayla. Mana mungkin ada musim dingin di Indonesia?”
Kayla yang tidak terima memproteskan itu ke Ibu. Ibu, seperti biasa, yang selalu kalang kabut dengan pekerjaannya pada pagi hari hanya menanggapi sekenanya. “Iya, Kayla. Indonesia ‘kan negara tropis. Sudah, ya. Ibu pamit dulu. Roti Kayla sudah Ibu siapin di kotak makan.”
Kenapa, ya tidak pernah ada yang mendukungku untuk bisa merasakan musim dingin?
Kenapa mereka semua tidak yakin bakal ada musim dingin di Indonesia?
Kalau memang Indonesia negara tropis, ‘kan, bisa minta ke Tuhan untuk menurunkan salju.
Pikiran-pikiran itu kerap mengganggu Kayla. Oleh karena itu, Kayla tidak pernah bosan meminta ke Tuhan dalam setiap doanya untuk sekali saja membawa musim dingin ke Indonesia. Namun, Tuhan tidak pernah mengabulkan.
“Apa karena aku anak nakal, ya?” Kayla menggumam. “Ah, enggak. Aku penurut kok di rumah dan enggak pernah minta ini-itu.”
Apa mungkin karena keluargaku tidak sayang aku? Kayla menggeleng-gelengkan kepala, menyingkirkan pikiran jelek itu. Keluarganya bukan tidak sayang, mereka hanya sibuk. Ibu bekerja di sebuah kantor pemerintahan di pusat kota, tetapi proyek-proyek yang Ibu garap membuat Ibu harus pergi ke luar kota dan seringkali membuatnya pulang malam. Ayahnya sendiri sibuk di studio furniturnya. Bahkan sejak pagi sebelum Ibu berangkat ke kantor, Ayah sudah tidak berada di rumah.
Kakak Kayla sendiri jangan ditanya. Sejak masuk kuliah beberapa bulan lalu, dia menjadi lebih jarang berinteraksi dengan semua orang di rumah. Jika tidak disibukkan dengan kegiatan perkuliahan, dia hanya mengurung diri di dalam kamar seharian. Oh iya, pengecualian jika Citra, kekasih barunya yang ditemuinya di kampus, mengajaknya untuk keluar.
Namun, Kayla tidak pernah mempermasalahkan itu. Walau sibuk, Ibu selalu menyempatkan menyiapkan sarapan untuknya, meski itu cuma sekadar roti lapis. Ayah selalu mengeceknya ke kamar setiap malam, menyempatkan untuk sekadar menyapa dan memberi kecupan di kening sebelum tidur. Angga―jika memang Kayla berkesempatan bersua dengannya ketika dia keluar kamar―pasti tidak pernah bisa untuk tidak menggoda Kayla, barang sebentar saja.
Memang tidak serekat dan sehangat keluarga lain, tetapi Kayla menyenanginya. Toh juga, Kayla sebenarnya tidak pernah kesepian. Kayla sehari-harinya selalu ditemani oleh Olla.
Olla menemani Kayla cukup lama. Dia pertama kali menemui Kayla ketika masih berusia 2 tahun. Olla menyembul dengan seringai lebarnya dari sisi tempat tidur kecil Kayla. Kayla yang saat itu masih belum bisa melafalkan kata apa pun hanya tertawa melihat Olla yang memandangi Kayla gemas. Sejak itu, mereka berteman akrab.
Ibu pernah cerita, kalau sejak dalam kandungan, Ibu sudah mempersiapkan kehadiran Kayla di dunia dengan segala hal yang bertema Frozen. Ya, film animasi produksi Disney tentang dua orang putri di kerajaan yang terjebak musim dingin abadi. Alhasil, sejak Kayla lahir, dia sudah dikelilingi oleh dunia musim dingin kartun tersebut, termasuk oleh karakter manusia salju hidup bernama Olaf. Ya, Olla mirip dengan Olaf. Olla juga mengatakan bahwa dia adalah sepupu jauh Olaf. Yang membedakan dia dengan Olaf adalah seluruh garis yang menyusun tubuh Olla berwarna jingga. Dia seorang manusia salju yang sangat hangat!
Kayla tidak pernah keberatan ketika harus berangkat dan pulang sekolah tanpa diantar. Selain karena jarak sekolah dengan rumahnya tidak sampai 200 meter, Kayla bisa bercengkerama lebih leluasa dengan Olla di sepanjang perjalanan. Berbeda jika di rumah, dia pasti diomeli kalau kedapatan sedang mengobrol dengan Olla.
“Kayla enggak pernah kesepian selama ini?” tanya Olla suatu pagi ketika Kayla sedang berjalan kaki sambil berdendang ria menuju sekolah.
“Enggak. Kan, ada Olla yang selalu nemenin Kayla,” jawab Kayla riang.
“Kayla apa enggak pernah ingin jalan-jalan bareng sama Ayah, Ibu, dan Kak Angga?” timpal Olla.
“Ingin, sih, sesekali. Kayla ingin ke wahana seluncur es di mal yang baru itu. Cuma… Olla tahu sendiri kalau mereka semua sibuk.” Kini nada suara Kayla agak muram.
“Coba, deh, kapan-kapan Kayla bilang ke Ayah untuk didiskusikan bersama Ibu.”
Kayla menimang-nimang saran tersebut sebelum akhirnya menyeringai. “Baiklah! Namun, untuk saat ini Kayla sudah cukup senang, kok, dengan adanya Olla. Olla ‘kan selalu ada untuk Kayla.”
“Hmm… bagaimana kalau sewaktu-waktu Olla menghilang? Mencair misalnya?”
“Enggak mungkin! Olla manusia salju yang hebat! Buktinya, di bawah sinar matahari Olla masih utuh. Itu karena Olla selalu berhasil bikin Kayla senang. Energi ceria dari Kayla juga yang selalu menyelimuti badan Olla dengan kekuatan ajaib sehingga Olla enggak mungkin mencair. Kalau kata ibu guru, kita ini simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan.”
Begitulah kisah persahabatan yang indah dan hangat di antara Kayla dan Olla. Di saat tidak ada orang yang mengajak bermain Kayla, Olla hadir. Tawa, semangat, dan antusias yang terpancar dari Kayla pula yang membuat Olla dapat hidup selama ini.
Menjelang siang, Kayla sudah pulang. Tidak hadirnya guru-guru dikarenakan ada rapat mendadak menjelang persiapan ujian membuat sekolah dipulangkan lebih awal. Terik yang cukup menyengat dari matahari yang mulai naik cukup membuat Kayla gerah. Padahal saat itu bulan Desember, tetapi panas di kota Kayla masih menggigit.
Kayla membeli sekantong es sirup dari abang yang berjualan di dekat sekolahnya. Tepat ketika sampai di rumah, es yang diseruput Kayla habis. Seperti biasa, Ayah dan Ibu masih belum pulang. Saat Kayla hendak membuang bungkus es ke tempat sampah di dekat rak sepatu, Kayla mendapati sepasang sepatu. Itu bukan sepatu orang rumah, tetapi Kayla mengenalinya. Itu sepatu Citra, kekasih kakaknya.
Kayla tidak begitu menggubrisnya. Dia melenggang masuk ke dalam rumah. Dia melewati kamar kakaknya yang tepat berada di sebelah ruang keluarga. Seperti biasa, kamar itu selalu tertutup rapat. Namun, kali ini tidak sesenyap itu. Samar-samar Kayla mendengar suara yang berisik dari dalam kamar kakaknya. Seperti suara orang bergumul, tetapi antara laki-laki dan perempuan. Kayla tidak ambil pusing. Mungkin saja Kak Angga lagi bikin video tugas kampus yang baru.
Selepas berganti baju, Kayla langsung menuju ke ruang keluarga. Seperti biasa, di sana dia asyik bercengkerama dan bermain bersama Olla. Kali ini Kayla membawa buku gambar dan satu boks krayon dengan warna-warni komplit.
“Kayla mau bikin gambar apa?” tanya Olla antusias ketika Kayla tengah mencorat-coret lembar kertas putih dengan krayon.
“Tadi di sekolah. ibu guru mengajarkan mengenai berkembang biak. Ini gambar Ayah dan Ibu, lalu ini gambar hati di antara mereka, kemudian lahirlah dua anak ini: Kayla dan Kak Angga. Lalu, di kertas ini gambar seekor sapi jantan dan sapi betina. Ada gambar hatinya juga, dan ini anak-anak mereka.”
“Lalu, bulatan oranye di sebelah Kayla itu?”
Kayla menghela napas. “Kayla tadi sempat bertanya ke ibu guru ‘Apa ada makhluk di dunia ini yang tidak dilahirkan dari proses berkembang biak?’ Ibu guru menjawab ‘Tentu tidak ada, Kayla. Memang Kayla pernah ketemu makhluk yang muncul begitu saja?’ Kayla protes, dong.”
“Kayla protes bagaimana?” tanya Olla.
Bibir Kayla agak memanyun sebelum dia meneruskan bercerita. “’Ada, Bu! Itu Olla! Manusia salju teman Kayla. Dia tiba-tiba ada sejak dulu. Dia tidak punya ayah dan ibu. Jadi, dia tinggal bersama Kayla. Ibu guru bisa tanya ke Ibu saya.’ Aku jawab begitu. Eh, setelahnya aku langsung ditertawakan teman-teman sekelas. Kesal.”
“Hei, Kayla enggak boleh kesal. Itu Olla ada di gambar Kayla. Olla juga ada di sini sekarang. Kalau Kayla kesal, Olla bisa mencair, loh.”
“Tapi… mereka sudah dua kali meledek Kayla. Yang pertama saat Kayla tanya ke Ibu Guru ‘Apa bisa musim dingin datang ke Indonesia?’ Saat itu banyak yang mencibir Kayla juga. Padahal, kalau musim dingin datang, Olla bisa bahagia juga. Olla bisa kembali ke negerinya Olla.”
Krek. Suara pintu yang terbuka seketika membuat Kayla menoleh. Dilihatnya Citra keluar kamar hanya dengan mengenakan kaus singlet dan celana mini. Citra berteriak ketika melihat ada Kayla di ruang keluarga dan segera masuk kembali ke dalam kamar. Langsung saja setelahnya, bergantian Angga yang keluar dari dalam kamar. Matanya menyala bak kobar api yang melalap hutan kering di musim kemarau, sementara napasnya masih memburu.
“Kayla kenapa enggak bilang kalau mau pulang?” tanya Angga setengah memekik.
“Bilang gimana sih, Kak? Selama ini ‘kan setiap Kayla pulang, Kak Angga juga enggak pernah ngurusin, tuh,” jawab Kayla lugu.
“Aduh. Ya, sudah. Kayla tolong jangan bilang Ayah dan Ibu, ya kalau Kak Citra ke sini. Nanti Kak Angga belikan es krim kesukaan Kayla.” Tatapan Angga kini berubah menjadi memelas.
“Enggak mau es krim,” tukas Kayla.
“Terus Kayla mintanya apa?”
“Musim dingin! Biar puas main esnya. Enggak gampang mencair seperti es krim!”
“Aduh. Ya enggak mungkin, lah, Kayla! Atau Kak Angga ajak main seluncur es saja?”
Tentu saja kesempatan itu langsung disahut oleh Kayla. “Boleh! Tapi harus sama Ayah dan Ibu juga! Sama Olla juga!”
“Iya, deh. Iya!”
Sementara si kakak dan kekasihnya tengah kalang kabut seperti dikejar setan, Kayla menatap Olla sembari tersenyum lebar. Akhirnya harapannya untuk bisa merasakan musim dingin bisa kesampaian. Tentu saja, tanpa Kayla ketahui badai besar apa yang akan menerpa setelahnya.
April 2024
Menjelang perayaan Tahun Baru lalu, terjadi insiden yang tidak diinginkan. Kebakaran melahap mal baru yang hendak disinggahi keluarga Kayla. Api yang bergejolak melalap banyak gerai, termasuk wahana seluncur es. Kerusakan yang parah membuat mal tersebut mengalami renovasi besar-besaran dan ditutup hingga saat ini. Namun, bukan gelombang panas dari kebakaran itu yang membuat kehidupan Kayla membara. Bukan pula karena dia gagal berseluncur es sehingga membuatnya kecewa. Namun, ada suatu hal lain yang lebih bergejolak dan mengecewakan ketimbang itu semua.
“Apa-apaan kamu, Angga? Kamu berniat menggugurkan jabang bayimu sendiri? Darah kandungmu sendiri? Anakmu sendiri?” pekik Ibu keras.
“Maaf, Bu. Angga tidak siap dengan semua ini,” jawab Angga dengan kepala tertunduk.
“Kalau tidak siap, kenapa kamu dari awal melakukan itu? Hei, itu anakmu sendiri! Cucunya Ayah! Bisa-bisanya kamu berpikiran seperti itu!” bentak Ayah dengan nada yang lebih keras.
“Om, Tante, tolong jangan salahkan Angga terus. Saya sudah berusaha membujuk Angga,” timpal Citra. Wajahnya kusut dan sembab oleh air mata.
Ibu meledak mendengar Citra angkat bicara. “Diam kamu! Ini memang salahmu! Kalau saja Angga tidak mengenal wanita penggoda macam kamu…”
“Berhenti, Bu! Ibu sudah keterlaluan!” sahut Angga sambil berdiri dari kursinya.
“Hei, kamu! Duduk! Jangan kurang ajar!” Ayah juga bangkit. Jari telunjuknya menuding Angga dengan urat yang mengencang di pergelangan tangan. Giginya bergemeletuk menahan amarah.
“Citra tidak hanya ingin menjadi wanita penggoda. Citra juga sayang Angga, Om…” timpal Citra yang kembali terisak.
“Apa kalian enggak mikir kalau kalian ini masih awal-awal masuk kuliah? Paling tidak, kalian bisa bercerita mau kalian apa ke depannya. Susun rencana yang matang sambil kalian menjalani kuliah kalian masing-masing. Bicarakan dengan kami. Bukan malah langsung seruduk sana, seruduk sini begini!”
“Bagaimana Angga bisa cerita kalau Ibu dan Ayah saja tidak pernah ada buat Angga? Sejak dulu apa-apa Angga pendam sendiri, sampai Angga bertemu Citra yang mau mendengar semua keluh kesah Angga! Ibu dan Ayah tidak pernah ada buat Angga, buat Kayla! Bahkan Ibu dan Ayah saja hampir tidak pernah berada di rumah! Buat apa rumah ini kalau tidak terasa rumah? Ya, maaf kalau Angga membuat rumah ini menjadi lebih nyaman dengan mendatangkan Citra.” Angga tercekat.
“Tunggu sebentar. Jadi, kalian melakukan perbuatan bejat itu di rumah ini?” tanya Ibu dengan suara yang lebih tercekat.
Angga terdiam, tetapi Citra kelepasan menjawab. “Iya, Tante.”
“Astaga!” teriak Ibu sambil menunduk berpangku tangan.
“Cewek sialan!” teriak Angga tepat di depan wajah Citra.
“Kurang ajar! Lalu, siapa saja yang mengetahui? Tunggu, apa saat itu ada Kayla juga?” Ayah berpaling ke Kayla yang sejak tadi diam tertegun di belakang mereka. “Kayla! Apa kamu saat itu ada?”
Angga memberi isyarat dengan gerakan bibir dan matanya, tetapi Kayla tampak tidak menangkapnya. Kayla justru mengangguk pelan.
“Bocah kurang ajar!” Angga bangkit dengan berang, tetapi ditahan oleh Citra.
“Kenapa Kayla enggak ngasih tahu Ibu dan Ayah?” tanya Ibu berpaling ke Kayla.
“Kak Angga benar. Kayla enggak tahu harus cerita ke siapa. Lagipula, kalau Kayla cerita, pasti enggak ada yang mendengarkan. Ayah, Ibu, bahkan Kak Angga. Kalian semua sibuk, sementara yang Kayla minta tidak pernah berubah. Kayla terus meminta musim dingin, menanyakan ke Ayah, ke Ibu, ke Kak Angga, tetapi tidak ada satupun yang mendukung ide Kayla. Semua mencibir. Semua bilang ‘Tidak akan ada musim dingin’. Semua tidak menghiraukan satu-satunya keinginan terbesar Kayla, padahal Kayla tidak pernah meminta apa pun selain itu. Kenapa tidak ada satu orang saja yang mau bilang ‘Musim dingin pasti datang, Kayla.’ Apa kebahagiaan Kayla terlalu susah buat kalian semua?”
Kayla terhenti. Dia sesenggukan. “Tapi, ada satu yang selalu mendukung Kayla. Dia selalu ada. Dia meyakinkan Kayla bahwa musim dingin itu akan tiba dan kita semua bisa menikmatinya bersama. Dia adalah Olla. Olla tidak pernah meragukan Kayla.”
“Olla manusia salju itu?” sahut Ayah.
“Iya.”
Ayah berteriak keras. Dengan geram, dia ikut menuding Kayla, “Di saat seperti ini, kamu masih bisa meracau seperti itu? Kayla, kamu jangan mengkhayal terlalu jauh! Olla-mu itu hanya merusak pikiranmu!”
“Berhenti! Itu anakmu sendiri! Dia masih kecil!” Ibu mendorong Ayah. Tangis Kayla pecah. Dia tidak menyangka ayahnya menjadi semarah itu ketika dia membahas Olla. Kayla berbalik dan seketika berlari. Air matanya berguguran dengan deras seiring ia melangkah cepat ke arah kamar. Sementara di belakang, terdengar teriakan marah kakaknya terhadap Ayah.
Sejak kemelut badai yang membara itu, suasana rumah Kayla berubah total. Dari yang semula suam-suam kuku, kini berubah menjadi teramat dingin. Benar-benar dingin. Rumah yang sudah tidak terasa seperti rumah benar-benar tidak menjadi rumah. Hampir tidak ada interaksi di antara mereka. Semua membeku dalam kekalutan di pikiran masing-masing. Musim dingin itu akhirnya tiba, tanpa kompromi, dengan tidak membawa kehangatan sama sekali. Musim dingin itu datang lebih cepat, membekukan sengat panas kemarau yang ada. Memenuhi harapan Kayla, walau bukan seperti ini yang dia damba.
Juli 2024
Dua bulan berlalu sejak musim dingin itu. Tidak ada tanda-tanda kebekuan akan mencair. Semua yang ada di dalam rumah masih terasa beku dan senyap, seakan seluruh penghuni rumah menurunkan tahap interaksi dari yang jarang-jarang menjadi hampir tidak ada sama sekali.
“Bukan seperti ini yang aku inginkan, Olla.” Kayla yang duduk di tepi kasurnya sore itu termangu dengan tatap mata yang nanar. “Aku sekarang lebih berharap kehangatan keluargaku kembali. Aku tidak peduli jika tidak ada musim dingin.”
“Jangan pernah merasa bersalah atas keinginanmu, Kayla. Musim dingin hanya membawa salju, bukan kenangan buruk,” jawab Olla berusaha menenangkan.
Kayla menoleh ke arah Olla. Pelupuk matanya sudah digenangi buliran air yang menggenang, siap jatuh ke bumi bersama timbunan pilu yang ia emban dengan sangat. Ia menggigit bibir bawahnya, menandakan betapa perihnya luka batin yang harus ia tahan. Puncaknya, semua itu tumpah, ruah dalam derai air mata yang tercurah membasahi pakaian dan sprei putih yang menutupi kasurnya. Setulus keinginannya, selusuh yang dirasakannya.
***
Sore yang biasanya hening di rumah itu tiba-tiba menjadi terusik berkat tangisan Ibu. Tampaknya, kepingan salju ego masing-masing anggota keluarganya yang membekukan rumah dua bulan ini luruh sore itu juga.
Tadi Ibu sempat histeris, kini ia terduduk lemas di sofa. Di sebelahnya ada Angga dan Citra yang berusaha menguatkan Ibu. Di pojok ruangan, Ayah yang baru datang setelah ditelepon kalau Kayla menghilang terlihat berdiri terpukul.
Ayah angkat bicara. “Ini semua salah Ayah. Ayah memang terlalu keras kepadanya, apalagi saat itu.”
“Tidak, Yah. Ini karena Ibu. Ibu selama ini hanya fokus dengan pekerjaan sampai tidak pernah mengerti anak Ibu sendiri. Bahkan, untuk sekadar mendengar Kayla bercerita, Ibu tidak pernah menyisihkan waktu,” timpal Ibu.
“Ini sebenarnya salah kita semua. Kita terlalu sibuk menyalahkan satu sama lain dan saling berdiam diri sampai lupa bahwa jiwa Kayla terlalu rapuh untuk itu semua. Iya, kita egois. Kita hanya menuruti emosi sampai kita lupa bahwa kita hampir tidak ada sebelum menjadi benar-benar tidak ada seperti sekarang ini.” Kini giliran Angga yang menyahut.
“Padahal Kayla adalah anak yang baik. Dia tidak pernah minta apa-apa ke Citra selain minta Citra untuk meyakinkan bahwa musim dingin bisa tiba di Indonesia,” ucap Citra menanggapi.
Tiba-tiba saja angin bertiup cukup kencang, membuka sejumlah jendela dan tirai yang ditutup. Angin kemarau memang dikenal cukup kencang jika sudah berembus. Terbukanya sejumlah jendela karena embusan angin membuat sinar jingga dari senja di luar menyeruak masuk. Namun, sinar ini agak sedikit berbeda dibanding biasanya. Entah dikarenakan langit senja itu sedang sangat jernih atau memang sinar yang masuk ke dalam rumah itu terlihat berwarna keemasan―atau begitulah yang dibatin oleh masing-masing anggota keluarga Kayla.
Selembar kertas dari dalam kamar Kayla ikut terembus keluar bersama tiupan angin. Angin yang cukup kencang membuat kertas itu terus melayang ke ruang keluarga dan berhenti di hadapan semua orang.
Semuanya menatap ke kertas tersebut. Tertera di atasnya kalimat yang ditulis dengan rapi
“Manusia adalah makhluk hidup yang berkembang biak
―untuk tugas Bu Rosi.”
Di bawahnya terdapat sepasang gambar figur manusia, laki-laki dan perempuan. Di antara gambar figur laki-laki dan perempuan tersebut terdapat sebuah gambar hati yang berwarna merah. Di bawahnya, terdapat sepasang figur laki-laki dan perempuan lain yang lebih kecil. Keduanya tampak seperti sepasang kakak-adik. Tepat di sebelah gambar figur laki-laki yang lebih kecil, terdapat gambar figur perempuan lain dengan perut yang membesar. Di antara mereka juga terdapat sebuah gambar hati merah kecil. Sementara itu, di sisi gambar adik perempuan, terdapat coretan berbentuk seperti boneka yang digambar dengan krayon berwarna oranye menyala. Warnanya cerah terpancar, persis seperti warna sinar senja saat itu.
Tanpa terasa kehangatan menyerbak di antara mereka, menyesap ke dalam hati dengan perasaan nyaman yang tidak pernah bisa mereka deskripsikan, sebelum menelisik ke dalam sanubari masing-masing.
Ego dan gengsi yang selama ini keras dalam hawa dingin mencair bak gletser yang diterpa sinar mentari berkelanjutan, digantikan oleh rumpun cinta dan kebaikan yang bersemi indah. Musim dingin yang membekukan empati secara ironis itu akhirnya berakhir.
Telepon Ibu berdering keras. Ibu yang terpaku menatap gambar di hadapannya buru-buru beranjak karena sampai tidak menyadari adanya panggilan masuk sedari tadi. Ketika melihat nama penelepon yang tertera di layar ponsel, hati Ibu seketika bergolak dan ketika ia mengangkat panggilan itu, tangis Ibu langsung pecah.
***
Petang itu tidak biasanya―setidaknya seperti itulah yang dirasakan oleh Bu Rosi di rumahnya. Setelah angin yang berembus lumayan kencang tadi, suasana menjadi benar-benar tenang. Kumandang azan terdengar silih bersahutan dengan merdu berlatar temaram cahaya jingga keemasan yang memudar menjadi magenta keunguan dengan sangat cantik. Di rumahnya, Bu Rosi yang sudah menunaikan salat maghrib tengah menerima banyak tamu. Sebuah keluarga. Sebelumnya hari itu, dia sudah menerima tamu seorang gadis kecil. Kini mereka duduk bersama.
“Saat Kayla ke sini tadi saya sempat kaget, apalagi melihat dia sendirian. Saya menanyakan mengapa dia sendiri, tetapi dia justru berkelit bahwa dia tidak sendiri. Dia bilang ke sini diantar oleh temannya, cuma saya tidak bisa menemukan temannya di mana. Wajahnya sembab seperti setelah menangis. Karena saya takut kenapa-kenapa, saya langsung ajak dia masuk dulu. Saya suguhi teh hangat dan pelan-pelan saya tanya ke Kayla atas apa yang terjadi. Dia mulai menceritakan semuanya. Dia ceritakan dengan runut sampai saya memahami,” Bu Rosi berhenti sejenak, “Namun, tujuannya ke sini rupanya bukan sekadar untuk menceritakan itu semua.”
“Lantas, untuk tujuan apa Kayla tadi ke sini, Bu?” tanya Ayah. Ia menoleh ke arah Kayla yang tertunduk di ujung sofa. Sepasang kakinya yang kecil bergoyang diayunkannya.
Bu Rosi menghela napas. “Dia ke sini hanya untuk menanyakan satu pertanyaan. Satu pertanyaan yang mirip tetapi juga sangat berbeda dengan pertanyaan yang selama ini diajukannya ke saya selama di kelas.”
“Pertanyaan yang bagaimana, Bu?” Ibu ikut menimpali.
“Kayla selama ini bertanya ke saya ‘Apa mungkin, Bu, kalau kita meminta kepada Tuhan untuk mendatangkan musim dingin saat sedang kemarau?’” Bu Rossi berhenti. Dia menatap Kayla, sebelum kemudian melanjutkan, “Nah, untuk pertanyaannya tadi, dia bertanya seperti ini ‘Bu, kalau sedang terjadi musim dingin, apa kira-kira Tuhan bisa langsung menggantinya dengan musim semi kalau kita terus berdoa?’”
Bu Rossi menghela napas, begitu pula seluruh anggota keluarga Kayla.
“Selama ini ketika dia bertanya di kelas, saya tentu hanya menjawab sekenanya, tetapi setelah mendengar apa yang semua sudah diceritakan olehnya, saya bisa memahami dan mengambil jawaban yang tepat.”
“Lantas, Bu Rosi menjawab seperti apa?” tanya Angga.
“Saya bilang begini kepada Kayla ‘Kayla, Tuhan itu Mahakuasa. Dia bisa menjadikan apa pun sesuai kehendak-Nya. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh Tuhan, bahkan jika itu hanya untuk menjawab doa hamba-hamba-Nya. Tuhan juga tidak pemilih, Kayla. Dia pasti mengabulkan semua permintaan hamba yang meminta kepada-Nya dengan tulus, tetapi tidak sekaligus. Tuhan mungkin akan mengabulkan-Nya secara bergantian―bisa langsung, bisa nanti, tidak saat itu juga. Nah, kalau saat ini Kayla ada yang sangat diinginkan untuk dikabulkan oleh Tuhan, Kayla boleh berdoa. Siapa tahu Tuhan akan menjawabnya saat ini juga.’”
“Kayla tadi langsung berdoa?” tanya Ibu. Kayla mengangguk pelan.
“Kalau boleh Kak Citra tahu, Kayla berdoa apa?”
“Kayla sudah merasakan musim dingin dan Kayla rasa sudah cukup. Musim dingin yang Kayla rasa sudah membekukan kita semua sehingga kita terhalangi tembok es yang tinggi dan tebal. Kayla tidak ingin itu. Jadi, Kayla berdoa sekali lagi kepada Tuhan untuk membawakan musim semi untuk mencairkan musim dingin itu. Musim semi yang hangat dan cerah, secerah semangat dan keceriaan Olla.”
Air mata Ibu menitik. Segera direngkuhnya putri bungsunya tersebut. Ayah seketika turut menyusul, diikuti oleh Angga dan Citra. Terdengar mereka saling meminta maaf di antara isak tangis yang berderai. Bu Rosi tidak kuasa menahan air matanya sendiri menyaksikan satu keluarga tersebut saling merangkul dan memeluk, dengan air mata masing-masing berlinang, mengalir menjadi satu dalam aliran ketulusan yang jernih.
Dari sela-sela pelukan itu, Kayla melihat seberkas sinar jingga yang memancar hangat. Sesosok wajah yang familiar dengan seringai lebar menyembul, persis seperti ketika pertama kali Kayla melihatnya pada saat ia masih bayi. Wajah tersebut terlihat tersenyum bahagia menyaksikan Kayla dan keluarganya.
“Terima kasih,” bisik Kayla lirih.