KELUH KESAH ARAH KULIAH
Dilihat : 4
“Kamu masih yakin mau ke kedokteran hewan?”
Mataku yang sebelumnya menatap layar laptop pun bergerak memandang pria yang suaranya terdengar tegas saat berbicara.
“Iya,” jawabku datar.
Pria di depan pintu kamar itu mengernyit, jelas sekali tidak senang mendengar jawabanku. Nadanya mengandung kekesalan yang tidak kupahami sambil beranjak pergi. “Terserah kamu, lah. Semoga aja nggak keterima.”
Aku membelalakkan mata saat mendengar ucapannya. Bagaimana bisa ada ayah yang mendoakan anaknya tidak bisa kuliah di jurusan yang sedang diperjuangkannya itu?
Hari ini merupakan minggu kedua sejak pembukaan pendaftaran online SNMPTN, atau yang dulu dikenal sebagai jalur undangan, dimana para siswa bisa memasukkan satu sampai empat pilihan jurusan dan kampus yang ingin dituju selepas SMA nanti. Bagi sebagian yang memutuskan kuliah, hal ini menjadi jalur masuk idaman karena tidak perlu mengikuti ujian tulis dan hanya mengandalkan nilai rapor serta prestasi selama tiga tahun terakhir.
Aku sendiri mantap mau meneruskan ke Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (KH UGM) sejak kelas 11. Saat itu, kakak kelas 12 sedang dipusingkan karena SNMPTN. Guru-guru pun memberi seruan agar kami yang masih mendiami tahun kedua SMA untuk mulai memikirkan jurusan kuliah yang akan ditempuh. Harapannya, kami bisa lebih fokus dalam belajar serta memperbaiki nilai rapor agar bisa lolos jalur undangan tersebut.
Pada saat itu, aku hanya iseng memasukkan kata kunci “jurusan kuliah yang banyak lapangan pekerjaan” di browser gawaiku. Salah satu artikel yang menarik perhatian berjudul “Indonesia Masih Kekurangan Dokter Hewan”. Dari berbagai mata pelajaran yang diajarkan, aku cukup percaya diri dengan biologi, khususnya topik mengenai hewan. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya aku memutuskan jurusan perkuliahan ke Kedokteran Hewan UGM—narasumber dalam artikel yang kubaca adalah dekan fakultas pada saat itu.
Aku pernah membahasnya beberapa kali bersama Ayah, tetapi pria itu tidak terlalu menanggapinya. Ayah memang mendukung penuh keinginanku untuk berkuliah dan menjadi sarjana pertama dalam keluarga. Namun, begitu melihat laporan nilai semester satu sampai lima milikku, ternyata nilai kimia jauh lebih menonjol dibandingkan biologi. Pria itu berkata dengan matanya yang berseri-seri, “Kalau begini, kamu pasti bisa masuk ke jurusan farmasi.”
Farmasi? Kenapa tiba-tiba ada jurusan farmasi sekarang? Aku pun menanyakannya pada Ayah. Ayah menjawab bahwa itulah yang paling memungkinkan bila melihat nilai raporku. Lagi pula, apoteker masih akan dicari-cari sampai beberapa tahun ke depan.
“Ayah, tapi aku pengen masuk ke kedokteran hewan. Aku, kan, sudah pernah bilang,” bantahku.
“Kapan?” Ayah merasa bingung. Suaranya juga tidak sekeras sebelumnya.
“Aku sudah bilang sejak kelas 11 kalau mau masuk ke Kedokteran Hewan UGM. Kata Ayah, ‘baguslah kalau mau ke Yogya’. Artinya Ayah setuju, kan, aku ke KH?”
“Ayah cuma setuju kamu mau ke Yogya, tapi Ayah nggak pernah setuju soal KH. Kenapa mau masuk ke sana? Memangnya pernah pegang hewan? Kamu saja takut setengah mati sama kodok, padahal kalau percobaan di laboratorium, hewannya pasti kodok.”
“Iya, sih,” gumamku rendah. Aku masih belum menyerah dan segera menyambung, “Tapi nanti bakal banyak belajar dan lebih sering berinteraksi sama hewan. Pasti—”
“Nggak!” potong Ayah dengan tangan kanannya bergerak ke udara, bersiap menghentikan perdebatan, lalu menunjukku sambil melanjutkan, “Nggak usah aneh-aneh. Kamu ke farmasi saja yang sudah pasti jelas.”
“Memangnya di farmasi nggak akan ada kodok? Ayah sendiri yang bilang kalau banyak percobaan yang berhubungan dengan kodok.”
“Tapi nggak akan sebanyak di kedokteran hewan. Sudahlah, kamu nurut saja apa kata Ayah. Kamu ini nggak tahu apa-apa soal kuliah.” Ayah pun bangkit dan meninggalkan ruang tengah, entah pergi ke mana.
Memangnya Ayah tahu? Ayah saja tidak kuliah, kok. Aku menelan kembali pemikiran yang hampir terlontar dari mulutku sendiri. Ibu dan adik perempuanku yang berusia 10 tahun itu juga berada di ruangan yang sama. Mereka saling bertatapan sebelum memandangku dengan canggung. Karena tidak lagi ingin membahasnya, aku segera pergi ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat.
Aku diam-diam menangis untuk beberapa lama, lalu memikirkan cara agar dapat meyakinkan Ayah. Kukumpulkan berbagai data yang berkaitan dengan kegiatan perkuliahan, fasilitas penunjang, besaran uang kuliah tunggal (UKT), serta biaya hidup yang diperlukan, baik jurusan kedokteran hewan maupun farmasi. Tidak hanya itu, aku juga membandingkannya dengan jurusan perkuliahan lain yang berhubungan dengan kimia dan biologi. Fokusan dalam pengumpulan data ini pun mencakup jurusan perkuliahan di beberapa kampus yang ada di Yogyakarta serta Semarang, kampung halamanku. Meskipun begitu, aku tetap bisa membungkusnya dengan kesimpulan yang tersirat bahwa Kedokteran Hewan UGM adalah yang paling memungkinkan.
Berhari-hari aku menemui Ayah, menyampaikan segala penemuanku, dan mengajaknya berdiskusi. Ada satu dua kali, Ayah tampak menyetujui pilihanku, tetapi pada akhirnya, dia masih tegas menyuruhku masuk farmasi, entah di mana kampusnya nanti. Keputusannya masih tidak bisa dibantah, sampai minggu kedua pembukaan pendaftaran online SMNPTN berlangsung.
Sebenarnya bukan hanya Ayah yang sempat goyah, aku pun demikian. Pengumpulan data yang kulakukan terkadang membuatku berpikir bahwa tidak buruk juga melanjutkan pendidikan ke jurusan farmasi. Terlebih lagi ketika mengetahui dari Ibu kalau Ayah dulu ingin menjadi apoteker jika bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Awalnya aku kesal karena merasa menjadi pelampiasan cita-cita Ayah, tetapi setelah dipikirkan lagi, tidak ada salahnya juga mewujudkan mimpinya yang satu itu. Sayangnya, bila melihat besaran UKT golongan tertinggi jurusan KH UGM yang masih lebih rendah dibanding Farmasi UGM maupun Undip, serta preferensi biologi dibanding kimia, aku sama keras kepalanya dengan Ayah.
Aku hanya bisa menghela napas panjang sebelum beranjak dari kamar. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, saat aku melihat Ayah dan adikku makan di ruang tengah sambil menonton televisi. Adikku acuh tak acuh saat aku lewat di depannya, sedangkan Ayah lanjut mengunyah kerupuk sebelum benar-benar menghabiskan porsi makan siangnya. Kakiku memasuki dapur yang berada di sebelah ruang tengah, memeluk ibu dari belakang, dan bertanya menu makan hari ini.
“Ayo, makan dulu sini.” Ibu tidak menjawabnya. Tangannya justru mengambil dua piring dari rak yang berada di sebelah bak cuci, lalu bergerak ke salah satu pojokan. Kami sebenarnya punya meja makan di dapur, tetapi kami semua lebih suka makan di depan televisi. Ibu yang tahu kalau aku masih “perang dingin” dengan Ayah mengajakku untuk makan bersama di meja yang jarang terjamah itu.
Ibu meletakkan nasi di piring dan menyerahkannya padaku sebelum mengambil porsinya sendiri. Piring-piring di atas meja berisi sayur lodeh, ikan pindang, tahu, tempe, dan sambal. Aku mengambil tempe yang jumlahnya masih banyak dibanding lauk lainnya. Saat mencamil, aku pun termenung kala memikirkan di piring Ayah tadi tidak ada tempe. Sadar atau tidak, selama beberapa hari terakhir, Ayah tidak menyentuh tempe yang disajikan Ibu. Apa pun menu makanan hari itu, Ibu pasti akan menyajikan tahu, tempe, dan sambal karena itu seperti sesuatu yang harus ada untuk Ayah. Aku ikut menikmati tempe, tetapi tidak dengan tahu maupun sambal.
“Ibu, apa Ayah begitu kesal padaku sampai tidak mau makan tempe? Karena aku suka tempe?” Aku tersadar dari lamunan saat mendengar suaraku sendiri. Sepertinya kali ini aku tidak sengaja menyuarakan isi hatiku.
Ibu yang baru saja menyendok sayur lodeh ke piringnya tidak membalas. Piring yang ada dalam genggaman itu pun diletakkan di atas meja saat Ibu menautkan kedua tangan. Setelah mengembuskan napas panjang, wanita yang duduk di hadapanku itu mulai menyusun jawabannya. “Sayang, Ayahmu sengaja tidak memakannya agar kamu bisa memakan tempenya lebih banyak. Ayah tahu kalau kamu suka tempe.”
“Bila Ayah sedang marah padamu, dia tidak akan memakan tempe. Kalau sama adikmu, dia tidak memakan tahunya. Selalu seperti itu. Ayahmu memang tidak pandai berkata, tapi itu caranya untuk berbaikan.” Ibu meneruskan kalimatnya, “Ibu sudah memasak lebih banyak tempe, tapi Ayah tetap tidak memakannya. Dia ingin agar kamu yang memakan semuanya lalu suasana hatimu membaik. Dengan begitu, konfliknya bisa segera selesai, bukan?”
Mendengar penjelasan Ibu, lagi-lagi membuatku termenung. Sejak dulu, Ayah selalu mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak-anaknya. Belajar di sekolah dengan baik, langsung pulang ke rumah setelah pelajaran berakhir, jangan banyak bergaul dengan teman-teman di luar tugas kelompok, dan sebagainya. Ayah bilang kalau masih kecil, kita harus menuruti perintah orang tua karena itu demi kebaikan anak-anaknya. Namun, usiaku sudah 17 tahun, telah dianggap dewasa bahkan oleh negara—apa masih tidak boleh menentukan jurusan kuliah yang menentukan masa depanku sendiri?
Walaupun begitu, aku tidak menyangkal bahwa ucapan Ayah ada benarnya. Berapa banyak teman-teman seusiaku yang tidak bisa bersekolah dengan baik karena terjebak dalam pergaulan atau lingkungan yang buruk? Saat aku SMP saja, ada dua anak yang kemudian berhenti sekolah karena hamil duluan. Tidak ada yang tahu lagi bagaimana nasibnya sekarang.
Ayah juga menjamin kebutuhan anak-anaknya, berusaha keras agar kami tidak merasa kekurangan, baik secara batin maupun finansial. Ayah selalu ada waktu karena sekarang bekerja di rumah, memperhatikan apa kesukaan kami, mengganti kasur yang lebih empuk agar kami bisa tidur lebih nyenyak, mengecat warna tembok kamar dengan warna favorit kami masing-masing, serta banyak hal lainnya.
Ketukan jari Ibu yang pelan membuyarkan lamunanku. Ibu tersenyum tipis sebelum melanjutkan cerita, “Ayah dulu tidak bisa kuliah karena kakekmu sakit keras saat Ayah hampir lulus SMA. Di saat yang sama, kakak-kakak Ayah masih berkuliah, sedangkan kedua adiknya juga masih sekolah. Untuk meringankan beban keluarga, Ayah langsung bekerja. Dari gajinya, Ayah bisa membayar sekolah kedua tantemu sampai mereka lulus kuliah. Dari enam saudara, hanya Ayah yang tidak kuliah. Sayangnya, hanya tiga dari mereka yang bisa menyelesaikan perkuliahan. Pakdemu yang pertama mengambil jurusan kedokteran dan entah apa sebabnya tiba-tiba DO. Pakde kedua berhenti karena menikah muda, lalu bekerja untuk menghidupi keluarga barunya. Bude dan tante-tante memang menjadi sarjana, tetapi mereka semua langsung menikah, sehingga tidak sempat membangun karir. Ayah hanya ingin saat kuliah nanti, kamu tidak mengulangi kesalahan saudara-saudaranya.”
“Ibu, apakah mendukungku masuk KH?” Aku tahu kalau pertanyaan tersebut di luar penjelasan Ibu, tetapi aku butuh jawabannya sekarang.
“Tentu saja. Karena Ibu juga tidak kuliah, Ibu mau kamu kuliah, apa pun jurusannya. Ibu ingin anak Ibu lebih pintar. Mulanya Ibu khawatir KH itu sama seperti kedokteran yang mahal dan susah, tetapi melihat laporan yang sering kamu bahas bersama Ayah, Ibu jadi tahu kalau keduanya tidak sama. Sepertinya kamu bisa-bisa saja, asal nggak takut kodok lagi,” Ibu tertawa kecil menjahiliku.
Mendengar kata kodok, membuatku berpikir akan salah satu dari beberapa hal yang menjadikanku ragu dengan pilihan sendiri. Kulitnya yang brontok tampak menjijikan, belum lagi tiba-tiba lompat dan mendekat dengan cepat. Membayangkan bila suatu hari nanti harus memegangnya dengan tangan kosong, membuatku merinding sebadan-badan. Aku menghapus pemikiranku sendiri dan membalas ucapan Ibu, “Aku berani, kok. Jika nanti masih takut dengan kodok, ya, berarti tidak usah menemuinya lagi. Menjadi dokter hewan bukan berarti harus mengobatinya, kan?”
Semoga, batinku lirih.
“Iya, iya. Anak Ibu pasti bisa. Ngomong-ngomong, kenapa mau ke UGM? Kamu yakin nggak akan susah masuknya? Itu, kan, kampus bagus. Kamu juga pernah bilang, kalau tahun lalu, yang keterima dari sekolahmu cuma empat orang, itu pun tidak ada yang jurusan kedokteran hewan. Kenapa nggak di Undip saja yang jumlah kakak kelasnya lebih banyak ke sana?” tanya Ibu.
“Dari SD sampai SMA sudah sekolah di sini, tempatnya Ayah. Kalau Yogya, kan, asalnya Ibu. Nanti kalau aku ke UGM nggak perlu ngekos, bisa tinggal di rumah eyang sama Bude di sana.”
Aku cepat-cepat menjawab kegelisahan Ibu yang kedua, “Kalau nggak keterima sekarang, kan, masih ada ujian tulis dan mandiri. Ya, dicoba lagi saja. Syukur kalau memang rezekinya di sana, tapi kalau diterimanya di Undip juga bukan masalah. Toh, temanku juga banyak yang di Semarang.”
Aku mencamil lagi tempe dan melihat Ibu hanya tersenyum mendengar jawabanku. Di saat itu, aku tidak menyadari kalau Ibu diam-diam melirik ke arah ruang tengah yang terpisah dengan dapur oleh tembok tipis. Obrolan barusan pasti bisa didengar seseorang yang tidak kunjung meletakkan piring kotornya ke bak cuci.
Beberapa hari setelah perbincangan dengan Ibu, aku dan Ayah masih sama-sama dingin. Walaupun begitu, aku menyadari bahwa pria itu mulai mempertanyakan banyak hal terkait kehidupan di Yogyakarta, termasuk jurusan yang masih menduduki peringkat pertama dalam benakku. Wajahnya tak sekecut sebelumnya, meski suaranya kadang terdengar malas dan ragu—masih berusaha keras membujuk agar aku mau masuk jurusan yang dianggapnya pasti itu.
Hari ini memasuki minggu ketiga dari pendaftaran online SNMPTN. Aku duduk di depan laptop dan merenungi jurusan yang akan kudaftarkan. Hatiku masih ingin ke KH, tetapi tidak mungkin akan mudah bila tanpa restu orang tua, terutama Ayah. Apa harus kudaftarkan farmasi sebagai pilihan pertama dan kedokteran hewan sebagai pilihan kedua? Namun, bukankah itu bisa memperkecil peluang lolosnya dengan urutan seperti itu?
Suara ketukan pintu yang pelan pun terdengar. Ayah sedikit membuka pintunya dan berdiri di depan pintu, menjulurkan sebagian kepala untuk melihatku di dalam kamar. “Kamu masih yakin mau ke kedokteran hewan?”
Pertanyaan yang entah berapa kali ditanyakan itu langsung disusul jawaban serupa sejak awal aku mengucapkannya, “Iya.”
Aku tidak mengindahkan Ayah dan masih menatap layar laptop. Mungkin saja Ayah akan pergi seperti biasanya.
Sayangnya, yang terjadi tidak sesuai bayanganku. Ayah justru memasuki kamar dan duduk di kasur, menatap ke arahku. Akhirnya aku berbalik dan melihat wajahnya yang santai, keningnya tak berkerut, dan bibir yang agak menyungging. Saat sedang memikirkan apa yang akan terjadi, Ayah tiba-tiba mengatakan sesuatu yang tak terduga. “Ya sudah, daftar saja. Insha Allah, kalau memang rezeki, kamu bisa ke sana.”
Mataku membulat. Otakku masih mencerna apakah suara yang ditangkap daun telingaku itu tidak salah, tetapi memang itulah yang dikatakan Ayah. Seolah tidak percaya, aku pun akhirnya berucap, “Ayah serius? Aku boleh daftar kedokteran hewan?”
Ayah mengangguk. Suaranya tersiar tenang. “Sebenarnya Ayah cuma takut kamu nggak keterima, apa lagi pilihanmu itu terdengar sulit. UGM itu kampus terbaik, saingannya pasti banyak. Nilai rapormu, terutama yang biologi, juga tidak terlalu kuat bila dibandingkan dengan kimia. Ayah sengaja memilih jurusan yang berkaitan dengan nilai rapormu itu agar kemungkinan lolosnya lebih besar, tapi kemarin ada yang bilang kalau SNMPTN bukan satu-satunya jalur masuk perguruan tinggi. Kalau ini gagal, masih ada yang lainnya.”
“Kamu belum pernah gagal masuk sekolah dalam sekali coba. Saat mendaftar di SMP favorit dengan NEM mepet karena sakit saat UN, serta mendaftar di SMA favorit lewat ujian masuknya pun kamu selalu berhasil. Masuk ke UGM pasti banyak sekali pesaingnya, Ayah pikir kamu akan stres bila gagal dalam sekali coba. Rupanya anak Ayah ini justru sudah memikirkan solusinya.” Ayah berdiri menghampiri meja untuk mengusap lembut kepalaku. “Anak Ayah sudah besar ternyata. Kamu boleh pilih jurusan yang kamu mau. Di mana pun itu, Ayah dan Ibu akan mendukungmu.”
Sebenarnya aku ingin sekali berteriak senang, tetapi sebelum Ayah mendadak berubah pikiran, aku segera memasukkan Kedokteran Hewan UGM dan Farmasi Undip pada pilihan pertama dan kedua kolom pendaftaran SNMPTN. Aku bisa menebak tatapan Ayah yang bertanya kenapa hanya memasukkan dua pilihan dan langsung menjawabnya, “Kupikir ini yang paling terbaik. Kalau memang gagal, sepertinya aku perlu mempertimbangkan jurusan lain menjelang pendaftaran ujian tertulis.”
Aku mendengar tawa kecil yang keluar dari mulut pria di belakangku sampai suara Ibu yang sedang memarahi adik yang belum mau beranjak dari depan televisi lebih keras bergema dari luar kamar, “Ayo, makan dulu, Nak!”
“Ibumu sudah ngomel-ngomel. Ayo, kita makan juga,” ajak Ayah padaku. Aku pun mengiyakan.
Saat makan nanti, aku akan mengatakan pilihan kuliahku pada Ibu dan Adik—entah apakah adikku itu akan mengerti maksudnya.