IBU SELALU BILANG INI DEMI AKU
Dilihat : 6
Jam di ruang tamu menunjukkan pukul sebelas lewat delapan belas ketika aku pulang untuk terakhir kalinya sebagai anak.
Aku tahu kalimat itu terdengar berlebihan. Rumah tetap rumah. Ibu tetap ibuku. Namaku masih tertulis di kartu keluarga yang kusimpan di dompet. Tetapi malam itu, ketika koper biru berdiri di samping pintu dan tiket kereta terselip di antara halaman buku, ada sesuatu yang terasa selesai.
“Akhirnya jadi berangkat?”
Suara Ibu datang dari dapur.
“Jadi.”
“Besok?”
“Besok pagi.”
Ibu tidak menjawab. Hanya suara sendok beradu dengan gelas.
Aku menunggu.
Biasanya Ibu akan bertanya banyak hal. Jam berapa kereta berangkat, siapa yang menjemputku, apakah aku sudah mengecek dompet, charger, obat masuk angin, dan segala hal kecil yang menurutku tidak penting tetapi menurut Ibu selalu menentukan apakah sebuah perjalanan akan berjalan baik.
Malam itu tidak ada apa-apa.
Aku masuk ke dapur.
Ibu sedang membuat teh.
“Bu.”
“Hm?”
“Kalau aku nggak pulang lagi, Ibu bakal kangen?”
Tangan Ibu berhenti sebentar. Lalu bergerak lagi.
“Jangan ngomong aneh-aneh.”
Aku tersenyum kecil.
Begitulah Ibu.
Kalau tidak tahu harus berkata apa, ia akan membuat sesuatu terdengar seperti kesalahan.
Sejak kecil, aku mengenal satu kalimat yang hampir selalu menjadi penutup setiap pertengkaran kami.
“Ini semua demi kamu.”
Waktu aku berumur tujuh belas tahun dan ingin masuk sekolah seni, Ibu berkata begitu.
Waktu aku mendapat beasiswa untuk kuliah di Bandung dan memilih menolaknya karena Ibu menangis semalaman, ia berkata begitu.
Waktu aku mendapat pekerjaan di Jakarta dan Ibu mengatakan bahwa perempuan sebaiknya tidak hidup terlalu jauh dari keluarganya, ia juga berkata begitu.
Bahkan ketika aku hendak menikah dengan seseorang yang Ibu tidak sukai, kalimat itu kembali keluar.
“Percayalah. Ibu cuma ingin yang terbaik buat kamu.”
Aneh.
Semakin dewasa, semakin aku merasa kalimat itu tidak terdengar seperti cinta.
Kadang-kadang terdengar seperti ancaman.
Kadang seperti utang.
Dan paling sering, seperti pintu yang dikunci dari luar.
***
Ayah meninggal ketika aku berumur dua belas tahun.
Aku masih ingat sore itu. Hujan deras, halaman rumah berubah menjadi kubangan, dan sepeda motor Ayah tidak pernah masuk ke halaman.
Setelah pemakaman, Ibu memelukku erat.
“Mulai sekarang cuma ada kamu sama Ibu.”
Aku mengangguk.
Aku tidak tahu bahwa kalimat itu akan menjadi peraturan yang diam-diam mengatur hampir seluruh hidupku.
Ibu bekerja lebih keras setelah Ayah pergi. Pagi-pagi sekali ia sudah membuka warung kecil di depan rumah. Siang menjahit pakaian tetangga. Malam membuat kue pesanan.
Ia tidak pernah mengeluh.
Atau mungkin ia mengeluh, tetapi aku terlalu kecil untuk mengerti.
Karena itu, ketika aku mulai menyukai menggambar, aku menyembunyikan kertas-kertas gambarku.
Aku tahu Ibu akan mengatakan menggambar tidak bisa membayar listrik.
Aku tahu Ibu akan berkata, “Jangan hidup dari sesuatu yang belum tentu.”
Aku tahu.
Dan benar saja.
Ketika suatu sore Ibu menemukan sebuah formulir pendaftaran sekolah seni di dalam tasku, ia menatapnya lama.
“Kamu mau masuk sini?”
Aku mengangguk.
“Jadi apa nanti?”
“Ilustrator.”
Ibu tertawa kecil.
Bukan tawa bahagia.
“Ilustrator?”
Aku diam.
“Kamu pikir hidup semudah menggambar?”
“Bukan begitu, Bu.”
“Terus bagaimana?”
“Aku suka.”
Ibu menaruh formulir itu di meja.
“Orang tidak bisa makan dari suka.”
Kalimat itu membuatku menangis.
Namun Ibu tidak memelukku.
Ia hanya berkata, “Ibu sudah kehilangan banyak hal dalam hidup. Ibu tidak mau kehilangan kamu juga.”
Aku tidak mengerti.
Tapi akhirnya aku tidak jadi mendaftar.
Beberapa tahun kemudian, aku menemukan bahwa kalimat “tidak mau kehilangan kamu” bisa berarti banyak hal.
Bagi Ibu, mungkin berarti memastikan aku selalu berada dalam jarak yang bisa ia jangkau.
Bagi aku, kalimat itu berarti hidupku harus mengecil agar ketakutan Ibu merasa aman.
***
Kesempatan kedua datang ketika aku duduk di kelas tiga SMA.
Seorang guru seni mengirimkan portofolioku ke sebuah universitas di Bandung.
Aku tidak pernah meminta.
Aku bahkan tidak berani berharap.
Namun dua bulan kemudian, sebuah email datang.
Aku diterima dengan beasiswa penuh.
Aku membaca email itu berkali-kali.
Lalu berlari mencari Ibu.
“Bu!”
Ibu sedang menghitung uang hasil warung.
“Apa?”
“Aku diterima.”
Ibu tersenyum.
“Di mana?”
“Bandung.”
Senyumnya hilang.
Aku tahu jawabannya bahkan sebelum ia mengatakannya.
“Jangan.”
Hanya satu kata.
“Kenapa?”
“Ibu nggak sanggup.”
“Kan beasiswa, Bu. Biaya kuliahnya ditanggung.”
“Bukan soal uang.”
“Terus?”
Ibu berdiri.
“Kalau kamu pergi, rumah ini tinggal siapa?”
“Aku bisa pulang.”
“Berapa kali?”
Aku tidak menjawab.
“Kalau Ibu sakit?”
“Aku akan pulang.”
“Kalau tengah malam?”
Aku terdiam.
“Kalau Ibu kenapa-kenapa dan kamu sedang di sana?”
“Aku akan cari cara.”
Ibu menggeleng.
“Tidak. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kamu sayangi.”
Aku menatapnya.
“Justru karena itu, Bu, aku harus pergi?”
Wajah Ibu berubah.
“Jangan melawan.”
“Aku cuma mau hidupku.”
“Dan Ibu cuma mau kamu tetap punya hidup!”
“Kehidupan yang seperti apa?”
Ibu terdiam.
Aku menunggu.
Ia akhirnya berkata pelan, “Yang tidak membuat Ibu sendirian.”
Saat itu aku tahu.
Yang Ibu takutkan bukan masa depanku.
Yang Ibu takutkan adalah kesepian dirinya sendiri.
Tapi aku tetap tinggal.
Beasiswa itu hangus.
Aku kuliah di kota sendiri.
Aku belajar akuntansi karena Ibu bilang jurusan itu “jelas masa depannya”.
Selama empat tahun, aku menjadi anak yang membanggakan.
Lulus dengan nilai baik.
Mendapat pekerjaan.
Memberi sebagian besar gaji kepada Ibu.
Dan setiap kali ada orang bertanya apa cita-citaku, aku selalu menjawab dengan senyum yang sudah kulatih:
“Yang penting bisa membahagiakan Ibu.”
Aku tidak pernah mengatakan bahwa setiap kali mengucapkan kalimat itu, ada bagian kecil dalam diriku yang merasa sedang berbohong.
***
Aku bertemu Dimas ketika bekerja di sebuah perusahaan desain.
Ia orang pertama yang melihat sketsa-sketsaku setelah bertahun-tahun.
“Kamu pernah sekolah seni?” tanyanya.
“Tidak.”
“Sayang.”
Aku tertawa.
“Kenapa?”
“Karena kamu bagus.”
Sederhana.
Tetapi pujian itu membuat sesuatu yang sudah lama terkubur bergerak.
Dimas mendorongku mengikuti lomba ilustrasi.
Aku menang.
Hadiah pertamanya cukup untuk membeli laptop yang selama ini tidak pernah berani kubeli.
Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, aku menggambar setiap malam.
Ibu melihatnya.
“Masih saja menggambar?”
“Iya.”
“Kerjaanmu saja sudah capek.”
“Aku suka.”
Ibu diam.
Beberapa minggu kemudian Dimas mengajakku pindah ke Jakarta. Ia mendapat pekerjaan di sana dan aku juga ditawari posisi sebagai ilustrator di sebuah penerbit.
Aku pulang membawa surat penawaran.
Ibu membacanya.
Lama.
Kemudian meletakkannya di meja.
“Tidak.”
Aku menarik napas.
“Bu, aku belum minta izin. Aku cuma mau kasih tahu.”
“Ibu bilang tidak.”
“Kenapa?”
“Karena Ibu tidak setuju.”
“Aku sudah tiga puluh tahun.”
“Ibu tetap ibumu.”
Kalimat itu membuat dadaku sesak.
“Justru karena Ibu ibuku, Ibu seharusnya percaya aku bisa memilih.”
Ibu menatapku tajam.
“Kamu pikir Ibu selama ini tidak percaya?”
“Aku pikir Ibu selalu takut.”
Ia berdiri.
“Ya. Ibu takut!”
Aku terdiam.
“Ibu takut kamu pergi, lalu hidupmu berubah. Ibu takut kamu gagal. Ibu takut kamu menikah dan melupakan Ibu. Ibu takut suatu hari kamu melihat hidupmu sendiri dan sadar bahwa selama ini Ibu hanya menjadi beban.”
“Lalu kenapa Ibu selalu mengambil keputusan untukku?”
Karena untuk pertama kalinya aku bertanya dengan suara keras, Ibu ikut meninggikan suara.
“Karena Ibu tahu dunia!”
“Tidak, Bu. Ibu cuma tahu ketakutan Ibu sendiri!”
Hening.
Kalimat itu menggantung di ruang makan seperti benda tajam.
Ibu menatapku.
Aku melihat matanya berkaca-kaca.
Tetapi tidak ada permintaan maaf.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada kalimat “Ibu mengerti”.
Hanya satu kalimat yang kembali datang seperti hukuman yang sudah kuhafal.
“Semua yang Ibu lakukan demi kamu.”
Malam itu aku masuk kamar dan menangis tanpa suara.
Bukan karena aku membenci Ibu.
Justru karena aku sangat mencintainya.
Dan mungkin itulah masalahnya.
Cinta yang terlalu takut kehilangan kadang berubah menjadi keinginan untuk memiliki.
***
Aku berangkat ke Jakarta tiga minggu kemudian.
Sendiri.
Dimas sudah lebih dulu pergi.
Kami tidak jadi menikah.
Bukan karena kami tidak saling mencintai.
Aku hanya akhirnya menyadari bahwa aku tidak boleh kembali memilih hidup berdasarkan ketakutan orang lain.
Sebelum berangkat, aku meminta Ibu menandatangani dokumen rumah karena aku ingin memastikan semua kebutuhan Ibu selama aku pergi.
Ibu menolak.
“Jangan pikir Ibu tidak bisa hidup tanpa kamu.”
“Aku tidak pernah berpikir begitu.”
“Kalau begitu pergi saja.”
Itulah percakapan terakhir kami.
Setidaknya, yang kupikir terakhir.
***
Dua bulan setelah aku di Jakarta, sebuah paket datang.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya ada kotak kardus kecil.
Aku membukanya.
Isinya kertas-kertas lama.
Gambar-gambarku ketika SMA.
Formulir sekolah seni.
Dan satu amplop yang membuat tanganku gemetar.
Surat penerimaan universitas di Bandung.
Di belakangnya ada tulisan tangan Ibu.
Aku mengenali tulisan itu.
“Maaf.”
Hanya satu kata.
Aku duduk di lantai.
Kubuka lipatan kertas yang lain.
Ada buku catatan tipis.
Buku milik Ibu.
Aku membacanya perlahan.
“28 Juni.”
“Hari ini Amanda mendapat beasiswa. Aku bangga sekali. Tapi aku bilang jangan pergi.”
Halaman berikutnya.
“30 Juni.”
“Amanda tidak jadi berangkat. Dia bilang tidak apa-apa. Aku tahu dia berbohong.”
Tanganku berhenti.
Aku membalik halaman.
“5 Juli.”
“Aku mimpi Ayahnya datang. Dia marah karena aku menahan Amanda.”
Halaman lain.
“10 Agustus.”
“Amanda mulai belajar akuntansi. Dia tidak pernah lagi menggambar di meja makan.”
Aku menutup buku itu.
Dadaku sakit.
Lalu aku membaca halaman terakhir.
Tanggalnya hanya tiga minggu sebelum aku berangkat.
“Ibu tahu Amanda membenci Ibu.”
“Kalau suatu hari dia membaca ini, mungkin dia akan tahu bahwa Ibu memang egois.”
Aku menelan ludah.
Kalimat berikutnya membuat air mataku jatuh.
“Ibu selalu bilang semua ini demi dia karena Ibu terlalu malu untuk mengatakan yang sebenarnya.”
“Aku takut.”
“Aku takut ditinggalkan.”
“Aku takut menjadi orang tua yang tidak dibutuhkan.”
“Aku takut ketika Amanda menemukan hidupnya sendiri, dia tidak akan membutuhkan rumah ini lagi.”
“Jadi Ibu membuat rumah ini terasa seperti satu-satunya tempat yang harus ia pilih.”
Aku tidak bisa membaca lagi.
Namun ada satu kalimat di halaman paling bawah.
“Maaf karena cinta Ibu lebih sering terdengar seperti larangan.”
Aku menangis.
Bukan tangisan anak kecil.
Bukan tangisan seseorang yang kalah dalam pertengkaran.
Tangisan seseorang yang baru menyadari bahwa selama bertahun-tahun ia marah kepada seseorang yang ternyata juga sedang berperang dengan dirinya sendiri.
***
Aku pulang dua hari kemudian.
Rumah gelap.
Pintu tidak terkunci.
“Ibu?”
Tidak ada jawaban.
Aku berlari ke kamar.
Ibu terbaring di tempat tidur.
Tubuhnya tampak jauh lebih kecil daripada yang kuingat.
Di sampingnya ada botol obat.
“Ibu?”
Matanya terbuka.
Ia tersenyum.
“Kamu pulang.”
Aku berlutut di samping tempat tidur.
“Kenapa Ibu tidak bilang sakit?”
“Tidak apa-apa.”
“Jangan bilang tidak apa-apa.”
Ibu tertawa pelan.
“Masih galak.”
Aku menggenggam tangannya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, tangan itu terasa begitu ringan.
“Kenapa Ibu kirim buku itu?”
“Karena kalau Ibu ngomong langsung, Ibu pasti gengsi.”
Aku tertawa sambil menangis.
“Ibu memang keras kepala.”
“Iya.”
“Egois.”
“Iya.”
Aku menunduk.
“Kenapa Ibu nggak pernah bilang takut?”
Ibu diam cukup lama.
“Karena orang tua selalu diajari untuk terlihat kuat.”
Aku mengangkat kepala.
“Padahal?”
“Padahal orang tua juga bisa takut.”
Kami saling memandang.
“Bu.”
“Hm?”
“Aku masih marah.”
Ibu tersenyum.
“Boleh.”
“Aku kehilangan banyak hal.”
“Ibu tahu.”
“Aku pernah membenci Ibu.”
“Ibu tahu.”
“Aku bahkan pernah berharap Ibu tidak pernah melahirkanku.”
Kali ini mata Ibu berkaca-kaca.
Tetapi ia tetap tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
“Kenapa Ibu tidak marah?”
“Karena mungkin itu harga yang harus Ibu bayar.”
Aku menggeleng.
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
“Aku ingin Ibu tahu... aku tetap anak Ibu. Tapi aku juga manusia.”
Ibu mengangguk.
“Sekarang Ibu tahu.”
Aku menangis lagi.
Kami tidak saling meminta maaf malam itu.
Entah kenapa, kata maaf terasa terlalu kecil untuk semua tahun yang sudah lewat.
Sebagai gantinya, kami duduk berdampingan sampai lampu pagi masuk melalui celah tirai.
***
Setahun kemudian, aku menerbitkan buku ilustrasi pertamaku.
Di halaman persembahan, aku menulis:
“Untuk seseorang yang pernah mencintaiku dengan cara yang salah, tetapi tidak pernah berhenti mencintaiku.”
Ibu hadir di peluncurannya.
Ia duduk di barisan paling belakang.
Ketika namaku dipanggil, ia berdiri paling pertama.
Aku melihatnya.
Perempuan yang dulu membuatku percaya bahwa mencintai keluarga berarti harus mengorbankan diri sendiri.
Perempuan yang kemudian mengajariku bahwa orang tua juga bisa salah.
Dan bahwa salah tidak selalu lahir dari kebencian.
Kadang-kadang lahir dari cinta yang terlalu takut kehilangan.
Setelah acara selesai, Ibu menghampiriku.
“Buku ini laku?”
Aku tertawa.
“Lumayan.”
“Berarti sekarang kamu bisa hidup dari gambar?”
“Bisa.”
Ibu mengangguk puas.
“Bagus.”
Aku menatapnya.
“Bu.”
“Hm?”
“Kalau waktu bisa diulang, Ibu akan mengizinkan aku pergi ke Bandung?”
Ibu berpikir lama.
“Kalau Ibu menjadi Ibu yang sekarang, iya.”
“Kalau Ibu yang dulu?”
Ia tersenyum sedih.
“Mungkin tidak.”
Aku mengangguk.
Jawaban itu jujur.
Dan untuk pertama kalinya, kejujuran terasa lebih menyembuhkan daripada pembenaran.
Kami berjalan keluar gedung bersama.
Di trotoar, Ibu tiba-tiba menggenggam tanganku.
Tidak erat.
Tidak seperti dulu.
Hanya cukup untuk memastikan aku masih di sampingnya.
Aku tidak menarik tangan itu.
Namun kali ini, aku juga tidak membiarkan genggaman itu menentukan ke mana aku harus pergi.
Kami berjalan ke arah yang sama.
Untuk pertama kalinya, bukan karena aku harus.
Melainkan karena kami sama-sama memilih.
Dan mungkin begitulah cinta seharusnya bekerja.
Bukan dengan mengikat seseorang agar tidak pergi.
Bukan dengan mengorbankan satu kehidupan agar kehidupan lain terasa aman.
Bukan pula dengan kalimat, “Ibu melakukan ini demi kamu.”
Sebab ada hal-hal yang memang susah dijelaskan.
Tentang ketakutan seorang ibu.
Tentang mimpi seorang anak.
Tentang cinta yang kadang berubah menjadi ego tanpa disadari.
Dan tentang sebuah rumah yang baru terasa menjadi rumah setelah pintunya tidak lagi dikunci.
Aku akhirnya mengerti.
Ibu tidak pernah benar-benar ingin mengurungku.
Ia hanya tidak tahu bagaimana caranya meminta agar aku tetap tinggal.
Dan aku pun tidak pernah benar-benar ingin meninggalkannya.
Aku hanya ingin sekali saja, dalam hidupku, didengar sebelum diputuskan.
Mungkin itulah kalimat yang paling susah dijelaskan kepada orang tua:
Bahwa seorang anak bisa sangat mencintai ibunya, tetapi tetap membutuhkan hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Dan mungkin, menjadi orang tua bukan tentang selalu tahu apa yang terbaik bagi anak.
Melainkan berani menerima kenyataan bahwa suatu hari nanti, anak yang dibesarkan dengan seluruh cinta itu akan tumbuh, memilih jalannya sendiri, lalu pergi.
Bukan karena ia tidak mencintai rumahnya.
Tetapi karena ia akhirnya belajar menjadi dirinya sendiri.