GENGGAMAN IBU
Dilihat : 42
Setiap kali Ibu berkata, “Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu,” aku selalu mengangguk.
Kalimat itu terdengar seperti doa. Hangat, benar, dan tidak mungkin dibantah. Hanya saja, semakin aku dewasa, aku mulai bertanya-tanya: yang terbaik itu milikku, atau milik Ibu?
Namaku Dinda. Aku anak tunggal dari seorang ibu yang sepanjang hidupnya percaya bahwa cinta harus diwujudkan dalam rencana. Sejak kecil, hidupku seperti buku agenda yang ditulis dengan tinta permanen. Sekolah dasar terbaik. Les matematika setiap Selasa dan Kamis. Bahasa Inggris Sabtu pagi. Masuk SMA unggulan. Kuliah teknik. Bekerja di perusahaan besar. Menikah setelah mapan.
Tidak ada yang buruk dari semua itu.
Masalahnya, aku tidak pernah ingat kapan aku diminta menulis satu halaman pun.
Ayah meninggal ketika aku kelas dua SMP. Sejak itu, Ibu membesarkanku sendiri. Ia bekerja sebagai admisi di salah satu program studi di Fakultas Teknik sebuah kampus negeri ternama, di depan rumah, bangun sebelum azan Subuh, tidur setelah semua pintu terkunci. Aku tahu betul berapa banyak hidup yang ia tukarkan agar aku bisa duduk di ruang kelas berpendingin udara sementara ia menghitung uang receh dengan jari yang pecah-pecah karena terlalu sering mengetik.
Karena itulah aku jarang membantah.
Ketika aku ingin masuk jurusan desain komunikasi visual, Ibu meletakkan brosur fakultas teknik di meja makan.
“Desain itu hobi, Ka. Teknik itu masa depan.”
Aku diam.
“Teman Ibu, anaknya lulusan teknik. Sekarang kerja di perusahaan besar. Gajinya bagus.”
Aku mengangguk.
Aku diterima di teknik industri.
Hari pengumuman, Ibu menangis bahagia. Ia memelukku erat dan berkata, “Ayahmu pasti
bangga.”
Kalimat itu membuat semua keberatanku terasa seperti dosa.
Empat tahun kemudian aku lulus dengan nilai baik. Ibu memasang fotoku memakai toga di ruang tamu, tepat di bawah foto Ayah. Setiap tamu yang datang mendapat cerita lengkap tentang anaknya yang sarjana teknik.
Aku juga mendapat pekerjaan di Jakarta.
Lagi-lagi, Ibu menangis.
“Sekarang Ibu tenang.”
Aku tersenyum, walaupun entah mengapa kalimat itu justru membuatku tidak tenang.
Di Jakarta, aku bekerja di sebuah perusahaan konsultan. Kantornya berada di lantai dua puluh tiga, dengan jendela besar yang menghadap deretan gedung. Dari luar, hidupku terlihat seperti jawaban benar dari semua soal pilihan ganda tentang kesuksesan.
Gaji cukup. Kantor bagus. Kemeja rapi. Kartu nama dengan jabatan yang terdengar penting.
Tetapi setiap Senin pagi, sebelum lift terbuka, ada sesuatu dalam dadaku yang seperti tertinggal di lantai dasar.
Aku mulai menggambar lagi.
Awalnya hanya di sela rapat. Wajah orang-orang di kereta. Gelas kopi. Gedung. Tangan yang menggenggam telepon. Lama-lama aku membuat ilustrasi digital dan mengunggahnya dengan nama samaran. Tidak kusangka, orang menyukainya. Beberapa majalah meminta ilustrasi. Sebuah penerbit bahkan menawariku proyek buku anak.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku pulang kerja bukan dengan perasaan selesai, tetapi dengan perasaan ingin segera memulai sesuatu.
Aku ingin mengambil program magister desain dan komunikasi visual.
Aku menunda memberi tahu Ibu selama tiga bulan.
Sampai suatu malam, ketika pulang ke rumah saat libur panjang, aku memberanikan diri.
“Ibu, Dinda mau ngomong.”
Ibu sedang mengupas mangga di dapur. “Ngomong saja. Kenapa mukanya serius begitu? Mau nikah?”
Aku tertawa kecil. “Bukan.”
“Terus?”
“Aku mau kuliah lagi.”
Pisau di tangannya berhenti.
Wajah Ibu langsung berbinar. “Bagus! S2 manajemen? Atau teknik?”
“Desain.”
Pisau itu bergerak lagi, tetapi lebih pelan.
“Desain apa?”
“Desain komunikasi visual.”
Sunyi.
Suara kipas angin terdengar seperti terlalu keras.
“Untuk apa?”
Pertanyaan sederhana. Tetapi aku tahu, itu bukan benar-benar pertanyaan.
“Aku suka, Bu. Aku sudah lama gambar lagi. Ada beberapa proyek juga.”
Ibu meletakkan pisau.
“Dinda.”
Nada itu kukenal. Nada yang dulu muncul ketika aku bilang ingin berhenti les matematika.
“Kamu sudah punya pekerjaan bagus. Untuk apa kembali ke sesuatu yang tidak jelas?”
“Bukan tidak jelas, Bu.”
“Kamu mau berhenti kerja?”
“Mungkin nanti. Kalau kuliahnya sudah—”
“Jangan.”
Satu kata itu jatuh lebih keras daripada yang seharusnya.
Aku menatap Ibu.
“Ibu sudah susah payah menyekolahkan kamu. Kamu sekarang sudah jadi orang. Jangan karena bosan sedikit, semua dibuang.”
“Aku nggak bosan sedikit.”
“Lalu apa?”
Aku ingin menjawab.
Aku ingin berkata bahwa setiap pagi aku merasa sedang memakai hidup milik orang lain. Bahwa aku bersyukur atas semua pengorbanannya, tetapi rasa syukur tidak otomatis membuat jalan yang dipilihkan menjadi jalan yang kucintai. Bahwa aku tidak ingin menunggu sampai umur lima puluh untuk mengakui bahwa aku pernah punya keinginan sendiri.
Namun melihat wajah Ibu, semua kalimat itu mendadak terasa kejam.
“Sulit dijelaskan, Bu.”
Ibu menghela napas.
“Nah. Kalau kamu sendiri sulit menjelaskan, berarti keputusanmu belum matang.”
Aku terdiam.
Begitulah Ibu. Ia selalu bisa mengubah keraguanku menjadi bukti bahwa ia benar.
Malam itu aku tidur di kamar masa kecilku. Poster-poster lama sudah dilepas. Lemari kayu masih sama. Di laci meja, aku menemukan sebuah buku gambar dari SMP.
Di halaman pertama ada gambar seorang laki-laki, perempuan, dan anak kecil berdiri di depan rumah. Di atas mereka, dengan tulisan anak berusia tiga belas tahun, tertulis: “Nanti kalau besar aku mau bikin buku gambar sendiri.”
Aku tertawa kecil.
Lalu menangis tanpa suara.
Besok paginya Ibu bertingkah seolah percakapan semalam tidak pernah terjadi.
Ia membuat nasi goreng kesukaanku.
Sebelum kembali ke Jakarta, ia memasukkan sekotak bekal ke tasku.
“Jangan lupa makan.”
Aku memeluknya.
“Bu.”
“Hm?”
“Aku tetap mau daftar.”
Tubuh Ibu kaku di pelukanku.
“Kalau itu maumu.”
Kalimat itu terdengar seperti izin, tetapi rasanya seperti hukuman.
Dua bulan berikutnya, telepon kami menjadi pendek.
“Sudah makan?”
“Sudah.”
“Kerjaan bagaimana?”
“Baik.”
“Sehat?”
“Sehat.”
Tidak ada lagi cerita tetangga. Tidak ada lagi foto kucing yang tidur di teras. Tidak ada lagi pesan, “Pulang kapan?”
Aku diterima di program yang kuinginkan.
Aku menatap surat penerimaan itu hampir satu jam sebelum akhirnya mengirimkannya kepada Ibu.
Centang dua.
Dibaca.
Tidak ada jawaban.
Tiga hari kemudian, Tante Mira menelepon.
“Kamu berantem sama Ibumu?”
“Nggak.”
“Ibumu sakit?”
“Enggak setahuku.”
“Terus kenapa tadi cerita sambil nangis?”
Dadaku mengeras.
“Cerita apa?”
“Katanya kamu mau ninggalin pekerjaan. Katanya semua perjuangannya seperti nggak ada artinya buat kamu.”
Aku menutup mata.
“Tante, aku nggak pernah bilang begitu.”
“Tante tahu. Tapi mungkin itu yang dia rasakan.”
Aku kesal.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar kesal.
Kenapa perasaannya selalu harus menjadi ukuran benar dan salah? Kenapa hidupku harus menjadi bukti bahwa pengorbanannya berhasil? Apakah anak yang memilih jalan berbeda berarti tidak tahu berterima kasih?
Malam itu aku menelepon Ibu.
“Ibu bilang ke Tante Mira aku nggak menghargai perjuangan Ibu?”
“Siapa bilang?”
“Bukan itu intinya.”
“Terus apa?”
“Aku capek, Bu.”
Di ujung sana hening.
“Aku capek selalu merasa bersalah setiap kali pilihanku beda dengan pilihan Ibu.”
“Jadi sekarang Ibu yang salah?”
“Nah, itu. Kenapa harus ada yang salah?”
“Karena kamu bicara seperti Ibu selama ini mengatur hidupmu.”
Aku tertawa pendek, pahit.
“Memang.”
Aku langsung menyesal setelah mengatakannya.
Suara Ibu berubah.
“Baik. Kalau begitu mulai sekarang Ibu tidak akan ikut campur.”
Telepon ditutup.
Aku duduk di tepi tempat tidur sambil memegang ponsel.
Aku menang dalam perdebatan yang tidak ingin kumenangkan.
Enam bulan kami bicara seperlunya.
Aku mulai kuliah sambil tetap bekerja. Berat, tetapi anehnya aku merasa hidup. Aku membuat proyek visual tentang ingatan keluarga: foto lama, surat, benda-benda yang disimpan orang tua tanpa pernah menjelaskan alasannya.
Untuk tugas akhir semester, dosen meminta kami membuat karya tentang “rumah”.
Aku pulang.
Ibu tidak tahu.
Rumah terkunci. Tetangga bilang Ibu masih bekerja.
Aku masuk menggunakan kunci cadangan dan mulai mencari foto-foto lama.
Di lemari kamar Ibu, aku menemukan sebuah kotak biskuit.
Isinya bukan perhiasan.
Ada kuitansi sekolahku. Bukti pembayaran les. Brosur kampus. Surat penerimaan kuliah S1. Potongan koran tentang perusahaan tempatku bekerja.
Dan sebuah map cokelat.
Di dalamnya ada gambar-gambar.
Aku mengenali garisnya.
Gambar bunga. Wajah perempuan. Rumah-rumah tua. Beberapa sketsa pakaian. Di sudut salah satu kertas tertulis nama Ibu ketika masih gadis.
Aku terpaku.
Di bawah tumpukan itu ada surat penerimaan dari sebuah sekolah seni di Yogyakarta, lebih dari tiga puluh tahun lalu.
Ibu pernah ingin belajar seni.
Tanganku gemetar.
Saat itulah pintu kamar terbuka.
Ibu berdiri di sana.
Kami saling memandang.
“Ibu?”
Ia melihat map di tanganku.
Wajahnya berubah.
“Kamu ngapain buka-buka barang Ibu?”
“Ini apa?”
“Taruh.”
“Ibu dulu mau sekolah seni?”
“Taruh, Dinda.”
Aku tidak bergerak.
“Ibu suka gambar?”
“Itu dulu.”
“Kenapa nggak pernah cerita?”
Ibu mengambil map itu dari tanganku dengan kasar.
“Nggak penting.”
“Penting buat aku.”
“Buat apa?”
“Karena Ibu melarang aku melakukan hal yang ternyata dulu Ibu sendiri inginkan.”
Wajahnya menegang.
“Jangan samakan hidupmu dengan hidup Ibu.”
“Aku nggak nyamain. Aku cuma pengin ngerti.”
“Tidak semua harus kamu mengerti.”
“Kenapa?”
Ibu menatapku lama.
Lalu duduk di tepi tempat tidur.
Untuk pertama kalinya aku melihat Ibu bukan sebagai ibu.
Hanya seorang perempuan yang sudah lama sekali tidak ditanya apa yang ia inginkan.
“Kakekmu tidak mengizinkan,” katanya akhirnya.
Aku duduk di sebelahnya.
“Kenapa?”
“Katanya seni tidak menjamin hidup. Ibu diminta kuliah akuntansi.”
Aku menelan ludah.
“Terus?”
“Ibu menurut.”
“Menyesal?”
Ibu tidak menjawab.
Matanya menatap jendela.
“Setelah menikah dengan Ayahmu, hidup Ibu baik. Ada kamu. Ada pekerjaan. Tidak semua yang tidak kita pilih berarti buruk.”
“Aku tahu.”
“Ibu cuma tidak mau kamu susah.”
Aku mengangguk.
Lalu pelan-pelan bertanya, “Tapi kenapa caranya harus membuat aku takut memilih?”
Ibu menoleh.
Matanya mulai basah.
“Mungkin karena Ibu takut.”
“Takut apa?”
“Takut kamu gagal.”
“Kalau aku gagal, aku bisa belajar.”
“Bukan cuma itu.”
Ibu menarik napas.
“Takut ternyata semua yang Ibu ajarkan salah. Takut kamu memilih jalan sendiri lalu berhasil, dan itu berarti selama ini sebenarnya kamu tidak membutuhkan semua keputusan Ibu.”
Aku tidak menyangka jawaban itu.
Di situlah aku akhirnya melihat ego yang selama ini bersembunyi di balik kata pengorbanan.
Bukan ego karena Ibu tidak mencintaiku.
Justru mungkin karena ia mencintaiku terlalu erat sampai sulit membedakan antara menjaga dan memiliki.
“Ibu,” kataku, “aku selalu membutuhkan Ibu.”
Ia menangis.
“Tapi aku nggak selalu membutuhkan Ibu untuk menentukan jalan.”
Air mata jatuh di pipinya.
Aku memegang tangannya.
“Kalau aku memilih sendiri, bukan berarti semua perjuangan Ibu sia-sia. Justru karena Ibu sudah bikin aku kuat, aku berani memilih.”
Ibu tersenyum tipis di antara tangisnya.
“Kamu sekarang pintar ngomong.”
“Dari dulu sebenarnya.”
“Tidak.”
Kami tertawa kecil.
Lalu Ibu berkata sesuatu yang sampai sekarang masih kuingat.
“Orang tua itu aneh, Ka. Waktu anak kecil, kita ingin dia cepat bisa berjalan sendiri. Begitu dia benar-benar bisa berjalan sendiri, kita takut dia memilih jalan yang tidak kita kenal.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
“Anak juga aneh, Bu. Pengen bebas, tapi kalau pulang tetap nyari masakan Ibu.”
Ibu tertawa sambil mengusap air mata.
Hari itu kami membuka semua gambar lamanya.
Aku meminta izin memotret beberapa untuk tugasku.
Ibu awalnya menolak.
“Jelek.”
“Bagus.”
“Sudah tua.”
“Justru itu.”
“Buat apa?”
Aku tersenyum.
“Sulit dijelaskan.”
Ibu menatapku, lalu tertawa.
Setahun kemudian aku berhenti dari pekerjaan lamaku. Aku bekerja di studio kreatif dengan gaji yang pada awalnya lebih kecil. Ibu masih khawatir. Ia masih bertanya soal tabungan, asuransi, dan kapan aku akan punya rumah sendiri.
Ibu tetap Ibu.
Aku juga tetap anaknya.
Bedanya, sekarang kami belajar bahwa cinta tidak selalu harus berbentuk persetujuan.
Kadang Ibu berkata, “Kalau menurut Ibu…”
Lalu ia berhenti dan menambahkan, “Tapi keputusanmu sendiri.”
Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa bagi orang lain.
Bagiku, itu revolusi.
Pada pameran tugas akhir, aku menampilkan sebuah karya berjudul “Warisan yang Tidak Terlihat”. Di tengah ruangan ada dua gambar berdampingan: gambar milik Ibu ketika berusia sembilan belas tahun dan gambar milikku ketika berusia tiga belas tahun.
Di bawahnya kutulis:
“Kita sering mewariskan kepada anak bukan hanya mimpi, tetapi juga ketakutan yang tidak pernah selesai kita hadapi.”
Ibu berdiri lama di depan tulisan itu.
Aku mendekat.
“Marah?”
“Sedikit.”
Aku tertawa.
“Tapi benar.”
Kami berdiri berdampingan.
Beberapa pengunjung berhenti melihat karya kami.
Seorang perempuan bertanya kepada Ibu, “Ibu seniman juga?”
Ibu buru-buru menggeleng.
“Bukan. Cuma dulu suka gambar.”
Aku menyela, “Seniman yang pensiun sebelum sempat mulai.”
Ibu mencubit lenganku.
Malamnya, saat kami pulang, Ibu membawa sebuah buku gambar baru yang kubelikan dari toko museum.
“Buat apa ini?” tanyanya.
“Coba gambar lagi.”
“Umur segini?”
“Memangnya gambar ada batas umur?”
Ibu memandang buku itu.
Lama.
Kemudian memasukkannya ke tas.
Tiga minggu kemudian ia mengirim foto melalui WhatsApp.
Sebuah sketsa bunga bougenvil di depan rumah.
Pesannya hanya satu kalimat:
“Masih jelek, ya?”
Aku tersenyum begitu lebar sampai teman di sebelahku bertanya ada apa.
Aku membalas:
“Bagus, Bu. Lanjut.”
Ibu mengirim emoji jempol.
Sesederhana itu.
Barangkali hubungan orang tua dan anak memang tidak pernah benar-benar selesai dipelajari. Ada cinta yang begitu besar hingga berubah menjadi ketakutan. Ada pengorbanan yang diam-diam meminta pembenaran. Ada anak yang ingin bebas tetapi takut dianggap tidak tahu diri. Ada orang tua yang ingin menjaga tetapi tidak sadar genggamannya terlalu kuat.
Siapa yang salah?
Susah untuk dijelaskan.
Karena ego orang tua tidak selalu datang sebagai bentakan atau larangan. Kadang ia datang sebagai bekal makanan. Sebagai uang sekolah yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Sebagai kalimat “Ibu cuma ingin yang terbaik”. Ia tumbuh di tempat yang sama dengan cinta, sehingga bahkan orang yang memilikinya sering tidak sadar bahwa keduanya telah bercampur.
Dan mungkin, ego seorang anak juga tidak kalah rumit. Kami ingin dipercaya tanpa selalu membuktikan bahwa kami layak dipercaya. Kami ingin dimengerti bahkan ketika kami sendiri belum pandai menjelaskan apa yang kami inginkan.
Aku akhirnya memahami satu hal.
Menjadi dewasa bukan berarti berhenti membutuhkan orang tua.
Menjadi orang tua juga bukan berarti selalu mengetahui jalan terbaik bagi anak.
Kadang cinta yang paling dewasa justru terjadi ketika dua orang yang sama-sama takut kehilangan belajar melonggarkan genggaman.
Tidak melepaskan.
Hanya memberi ruang.
Sebab anak bukan proyek keberhasilan orang tua.
Dan orang tua bukan musuh dari kebebasan anak.
Mereka hanya dua manusia yang saling mencintai, tetapi kadang menggunakan bahasa yang berbeda.
Bahasa yang, sering kali, memang susah untuk dijelaskan.