DI BALIK DIAM YANG TAK PERNAH DIDENGAR
Dilihat : 1183
“Kadang, seorang anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Ia hanya membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan.”
Caylin tumbuh di sebuah rumah yang dari luar terlihat baik-baik saja. Rumah itu besar, meja makannya selalu terisi, seragam sekolahnya selalu tersedia, dan buku-bukunya lengkap. Tidak pernah ada kekurangan yang benar-benar terlihat oleh mata orang lain. Namun, ada satu hal yang perlahan-lahan hilang dari rumah itu, yaitu suara Caylin. Bukan karena ia tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan. Melainkan karena sejak kecil, ia belajar bahwa pendapatnya tidak terlalu penting. Papanya adalah seseorang yang percaya bahwa masa depan seorang anak harus dibentuk dengan disiplin yang keras.
“Nilaimu harus bagus.”
“Kamu harus masuk sekolah terbaik.”
“Jangan banyak bermain.”
“Belajar dulu, urusan yang lain nanti.”
“Jangan mengecewakan orang tua.”
Kalimat-kalimat itu telah menjadi suara yang menemani masa kecil Caylin.
Sementara Mamanya lebih banyak diam. Bukan karena tidak sayang, tetapi karena terlalu sering memilih untuk tidak ikut campur.
Ketika Caylin ingin bercerita, Mama sibuk.
Ketika Caylin ingin mengeluh, Mama hanya menjawab singkat:
“Sudahlah, ikuti saja.”
Ketika Caylin menangis, tidak ada yang benar-benar bertanya mengapa. Mama dan papanya hanya berpikir bahwa menangis adalah hal yang biasa bagi seorang anak-anak.
“Namanya juga anak-anak”.
“Nanti juga berhenti”.
Tak ada dekapan, tak ada yang benar-benar duduk bersama dengan dirinya.
Anak kecil itu dipaksa untuk menjadi dewasa oleh keadaan, padahal sebenarnya ia bahkan belum mampu memahami dan mendefinisikan perasaannya sendiri. Pengabaian demi pengabaian terus dialaminya. Lama-kelamaan, Caylin berhenti bercerita. Ia belajar menyimpan semuanya seorang diri.
Sejak kecil, Caylin seperti robot yang telah diprogram.
Bangun.
Sekolah.
Belajar.
Les.
Pulang.
Belajar lagi.
Tidur.
Lalu mengulanginya keesokan hari.
Tidak ada ruang untuk bertanya:
“Sebenarnya kamu mau apa?”
Tidak ada yang bertanya:
“Apa kamu bahagia?”
Bahkan hampir tidak pernah ada yang bertanya:
“Bagaimana kabarmu hari ini?”
“Apa kamu baik-baik saja?”
Caylin akhirnya memahami satu hal.
Di rumah itu, ia boleh menjadi anak yang berprestasi.
Tetapi ia tidak tahu apakah ia boleh menjadi dirinya sendiri. Karena setiap kali ia mencoba menyampaikan keinginannya, jawaban yang diterimanya hampir selalu sama.
“Papa tahu apa yang terbaik untuk kamu.”
Bahkan sekalipun Caylin di peluk, itu hanya untuk hati mereka tenang. Untuk mereka tidak merasa bersalah dan terlebih, keinginan mereka di penuhi.
Dan karena kalimat itu terus diulang sejak kecil, Caylin akhirnya berhenti mempertanyakan apa yang terbaik untuk dirinya.
Ia hanya menurut, bukan karena setuju tetapi, karena lelah.
Ketika memasuki SMA Caylin mulai sering berada di luar rumah, bukan untuk melakukan hal-hal buruk. Bukan juga karena salah pergaulan, dan juga bukan karena ia membenci keluarganya.
Ia hanya ingin bernapas.
Sekolah terasa melelahkan, rumah terasa lebih melelahkan lagi. Maka setelah pulang sekolah, Caylin sering duduk di taman, perpustakaan, kedai kecil, atau tempat-tempat sederhana lainnya. Ia hanya ingin menikmati beberapa jam tanpa mendengar tuntutan.
Tanpa mendengar suara yang mengatakan bahwa nilainya harus lebih tinggi.
Tanpa mendengar pertanyaan mengapa ia belum belajar?
Tanpa merasa dirinya selalu kurang.
Karena itulah ia sering pulang terlambat. Dan setiap kali pulang terlambat, pertengkaran kembali terjadi.
“Kenapa kamu selalu kelayapan?”
“Papa menyekolahkan kamu supaya belajar, bukan untuk berkeliaran!”
Caylin berdiri di hadapan papanya, hanya terdiam.
Tidak membantah.
Ia hanya menunduk; seperti biasa.
Ada begitu banyak kata di kepalanya.
“Aku tidak kelayapan.”
“Aku cuma ingin tenang.”
“Aku capek.”
“Aku cuman ingin Papa mendengarkan aku sekali saja.”
Namun tidak satu pun yang keluar, karena sejak kecil Caylin telah belajar bahwa menjelaskan sering kali hanya membuat keadaan semakin buruk. Jadi ia memilih diam dan diam itu perlahan berubah menjadi tembok. Di dalam kamar, Caylin sering menangis tanpa suara. Ia menutup mulut dengan bantal agar tidak ada yang mendengar. Kemudian ia berdoa:
“ Tuhan... aku capek.”
Tidak ada jawaban.
“Kalau Engkau benar-benar ada, kenapa semuanya seperti ini?”
Keadaan tetap sunyi.
“Kenapa aku harus terus kuat?”
Tetap tidak ada suara.
Untuk pertama kalinya, Caylin merasa Tuhan pun diam.
Ia pernah marah kepada Tuhan, pernah merasa doanya tidak didengar, pernah berpikir bahwa mungkin tidak ada gunanya lagi percaya. Tetapi setiap kali pikirannya hampir menyerah, selalu ada satu hal kecil yang menahannya, yaitu keyakinan bahwa mungkin Tuhan belum selesai.
Meskipun dengan air mata, ia berkata:
“Kalau aku masih harus berjalan, tolong kuatkan kaki ku untuk terus berjalan.”
“Seperti Engkau yang tidak pernah menyerah denganku, aku pun tidak akan menyerah”
Suatu hari, Papa membuat keputusan.
Caylin akan mendapatkan guru privat tambahan.
Nilai akademiknya harus semakin tinggi.
Tidak boleh turun.
Tidak boleh banyak menghabiskan waktu di luar rumah.
Papa menganggap keputusan itu sebagai bentuk perhatian.
Baginya, semakin banyak les berarti semakin dekat dengan masa depan yang ia inginkan untuk anaknya. Namun ia tidak tahu bahwa bagi Caylin, keputusan itu terasa seperti pintu terakhir yang ditutup. Guru privat tersebut dipercaya sepenuhnya oleh keluarganya. Tidak ada yang menyangka bahwa orang yang datang ke rumah untuk mengajar justru menjadi seseorang yang menyakiti Caylin.
Ketika Caylin berusia delapan belas tahun, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan terjadi.
Ia menjadi korban kekerasan seksual.
Dan setelah itu, hidupnya berubah.
Pelaku mengancamnya agar tidak mengatakan apa pun.
Caylin kembali melakukan sesuatu yang telah ia lakukan sejak kecil.
Ia diam.
Bukan karena ia tidak terluka.
Bukan karena ia tidak ingin melawan.
Tetapi karena ketakutan telah membuatnya membeku.
Ancaman terhadap keluarganya membuatnya semakin takut.
Malam itu, Caylin duduk sendirian di kamarnya.
Tangannya gemetar.
Air matanya jatuh.
Namun ia tetap tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya menatap langit-langit kamar, lalu berkata dengan lirih:
“Tuhan... aku harus cerita kepada siapa?”
Hari-hari setelahnya menjadi semakin berat.
Caylin mulai merasa tubuhnya tidak baik-baik saja. Demam datang dan pergi; pagi hari ia merasa sedikit membaik; siang hari tubuhnya terasa seperti normal; sore hari panas itu kembali; malamnya ia berkeringat dingin dan merasa tubuhnya begitu lemah. Sesekali napasnya terasa pendek dan seolah berhenti sesaat. Caylin ketakutan tetapi sekali lagi, ia tidak menceritakannya kepada siapa pun. Sampai suatu pagi, diam-diam ia pergi ke rumah sakit.
Ia tidak memberi tahu Papa.
Tidak memberi tahu Mama.
Ia hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Setelah diperiksa, dokter tidak menemukan tanda bahwa demam tersebut disebabkan oleh penyakit fisik seperti yang Caylin bayangkan. Dokter berbicara kepadanya dengan tenang.
“Tubuhmu mungkin sedang memberikan respons terhadap tekanan yang sangat berat.”
Caylin terdiam.
“Ini bisa berkaitan dengan kecemasan yang berat. Apa kamu sedang mengalami banyak tekanan?” Pertanyaan sederhana itu membuat dada Caylin sesak. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, seseorang bertanya bukan tentang nilainya.
Bukan tentang prestasinya.
Bukan tentang kesalahannya.
Tetapi tentang keadaannya.
Caylin menunduk.
Air matanya jatuh.
Dan untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari sesuatu. Selama ini, bukan berarti aku lemah. Tubuhku hanya sedang berteriak karena aku terlalu lama memaksanya diam.
Dokter membantunya mendapatkan penanganan yang sesuai dan memberi obat untuk membantu menenangkan kondisinya. Namun obat bukan satu-satunya perjalanan yang harus ditempuh Caylin. Ia harus belajar menghadapi luka yang selama ini disembunyikannya.
Perlahan-lahan, Caylin mulai mencari pertolongan yang aman. Ia belajar bahwa apa yang terjadi kepadanya bukan kesalahannya. Ia belajar bahwa diam karena ketakutan bukan berarti ia menyetujui apa pun. Ia belajar bahwa, menjadi korban bukan berarti seluruh hidupnya harus selamanya didefinisikan oleh apa yang dilakukan orang lain kepadanya; dan yang paling sulit,
Caylin belajar mengampuni.
Bukan melupakan.
Bukan membenarkan.
Bukan mengatakan bahwa apa yang terjadi tidak menyakitkan, tetapi ia lebih memilih dirinya sendiri untuk tidak terus hidup dalam luka yang sama.
Mengiklaskan yang terjadi, dan tidak mempermasalahkannya lagi.
Ia belajar mengampuni pelaku, bukan demi membebaskan pelaku dari tanggung jawab, melainkan demi membebaskan hatinya sendiri dari kebencian yang terus menggerogoti.
Kemudian ia belajar mengampuni Papa.
Laki-laki yang terlalu sibuk membentuk masa depan anaknya sampai lupa bertanya apakah anaknya masih sanggup berjalan menuju masa depan itu.
Dan ia belajar mengampuni Mama.
Perempuan yang terlalu sering diam ketika seharusnya bertanya.
Namun ada satu orang yang paling sulit untuk Caylin ampuni yaitu, dirinya sendiri. Karena selama bertahun-tahun ia bertanya,
“Kenapa aku tidak melawan?”
“Kenapa aku diam?”
“Kenapa aku tidak bercerita?”
Sampai suatu hari ia menangis di hadapan Tuhan.
“Aku tidak ingin membenci diriku sendiri lagi.”
Untuk pertama kalinya, Caylin tidak meminta Tuhan mengubah masa lalunya. Ia hanya meminta Tuhan mengajarinya menerima dirinya.
Malam itu, Caylin membuka jendela kamarnya.
Udara malam masuk perlahan.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus berlari ke mana pun.
Ia hanya duduk.
Kemudian berdoa.
“Tuhan, aku pernah mengira Engkau diam.”
Air matanya jatuh.
“Aku pernah marah kepada-Mu.”
Ia menarik napas.
“Aku pernah berpikir bahwa Engkau meninggalkanku.”
Sunyi.
Namun kali ini, sunyi itu tidak lagi terasa menakutkan.
“Aku masih belum mengerti kenapa semua ini harus terjadi.”
Ia memejamkan mata.
“Aku juga belum tahu bagaimana masa depanku.”
Lalu ia tersenyum kecil.
“Tapi aku mau belajar percaya lagi.”
Caylin tidak tiba-tiba sembuh.
Tidak semua lukanya hilang dalam satu malam.
Tidak semua masalah keluarganya selesai.
Papanya belum langsung berubah.
Mamanya belum tiba-tiba menjadi orang yang sangat memahami.
Masa lalu juga tidak bisa dihapus.
Tetapi ada sesuatu yang berubah.
Caylin tidak lagi ingin hidup sebagai robot, ia mulai mengenal dirinya sendiri.
Mulai berani mengatakan apa yang ia rasakan. Mulai belajar berkata “tidak”.
Mulai memahami bahwa dirinya bukan sekadar nilai di rapor.
Bukan sekadar kebanggaan keluarga.
Bukan sekadar anak yang harus memenuhi impian orang tuanya.
Ia adalah manusia.
Ia punya hati.
Ia punya mimpi.
Ia punya batas.
Ia berhak didengar.
Dan ia berhak hidup.
Bertahun-tahun kemudian, ketika Caylin mengingat masa lalunya, ia tidak lagi hanya melihat seorang gadis yang hancur. Ia melihat seorang anak yang pernah bertahan dengan cara yang ia tahu, seorang gadis yang menangis dalam diam.
Seorang anak yang pernah mempertanyakan Tuhan.
Seorang manusia yang pernah hampir kehilangan harapan.
Namun tetap memilih untuk bangun keesokan harinya.
Caylin akhirnya mengerti bahwa terkadang pertolongan Tuhan tidak selalu datang dalam bentuk mukjizat yang langsung mengubah keadaan.
Kadang pertolongan itu datang dalam bentuk pemahaman untuk merespon dengan benar,
“Mungkin saja orang dewasa itu tumbuh dengan luka yang tak pernah di dengar sehingga menjadikannya pendengar yang buruk.”
Ia juga mengerti terkadang pertolongan Tuhan itu datang melalui seseorang yang mau mendengarkan.
Pertolongan Tuhan datang melalui keberanian, untuk pergi mencari bantuan.
Melalui kesempatan untuk mengatakan kebenaran.
Melalui kekuatan kecil untuk bangun sekali lagi.
Dan terkadang...
Pertolongan itu hadir dalam bentuk hati yang perlahan-lahan kembali percaya.
Caylin menatap langit sore, kemudian berkata dalam hati,
“Aku tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.”
Ia menarik nafas.
“Tapi aku bisa memilih bagaimana aku akan melanjutkan hidupku.”
Ia tersenyum.
Bukan karena hidupnya telah sempurna. Melainkan karena akhirnya ia tahu — dirinya tidak harus sempurna untuk layak dicintai. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Caylin tidak lagi berjalan hanya untuk memenuhi impian orang lain. Ia berjalan untuk menemukan dirinya sendiri bersama Tuhan yang dahulu ia kira diam.
Ternyata...
Tuhan tidak pernah benar-benar diam dalam hidupnya. Mungkin selama ini, ketika Caylin merasa sedang berjalan sendirian, Tuhan diam-diam sedang memberinya kekuatan untuk mengambil satu langkah lagi; dan satu langkah lagi; dan demi selangkah lagi. Sampai akhirnya ia tiba di tempat yang tidak pernah ia bayangkan. Bukan kehidupan tanpa luka, tetapi kehidupan di mana luka itu tidak lagi mengendalikan dirinya,
Caylin selamat.
Bukan karena hidupnya mudah. Tetapi karena setelah berkali-kali kehilangan alasan untuk percaya, ia tetap memilih untuk percaya. Dan terkadang, itulah bentuk keberanian yang paling sunyi, tetap berharap ketika belum melihat alasan untuk berharap. Selesai.