BUKAN MEREKA YANG MENENTUKAN, MELAINKAN DIRIKU SENDIRI

Dilihat : 3

Pulang sekolah adalah waktu yang selalu kunantikan. Belajar memang menyenangkan, tetapi bel pulang sekolah juga menyenangkan karena aku bisa beristirahat di rumah. Begitu tiba dan melepas sepatu, kedua adik kembarku langsung menghampiriku.

 

“Kakak, ayo ajari Kavi dan Kavya membaca dan menulis!”

 

“Bukankah kalian sudah belajar di sekolah dan tempat les?”

 

“Belajar sama Kak Kala lebih seru!”

 

“Begitu, ya?”

 

“Iya, Kak! Aku ingin bisa menulis namaku sendiri. Teman-teman bilang namaku bagus. Aku mau bisa menulisnya,” kata Kavi bersemangat.

 

“Aku juga ingin bisa menulis namaku dan membaca buku cerita sendiri!” sambung Kavya.

 

“Baiklah. Tunggu sebentar, ya. Kakak ganti seragam dulu. Kalian siapkan alat tulisnya.”

 

“Siap, Kak!”

 

Kedua adikku belajar dengan tekun. Aku pun senang membantu mereka. Setiap kali mereka berhasil menuliskan nama sendiri, mereka akan menunjukkannya kepadaku dengan wajah berbinar. Aku ikut bangga melihatnya.

 

Sebagai anak sulung, aku selalu diingatkan untuk menjadi contoh yang baik bagi adik-adikku. Ayah dan Ibu berharap aku bisa membimbing mereka, termasuk dalam hal belajar. Terkadang, Kavi dan Kavya melewatkan sesi les karena lebih suka belajar bersamaku. Padahal, Ayah sudah bekerja keras untuk membayar biaya les kami.

 

“Sudah, ya, belajarnya. Nanti kalau sempat, Kakak ajari lagi. Sekarang Kakak harus bersiap berangkat les.”

 

“Iya, Kak!”

 

Sepulang sekolah, kegiatanku belum selesai. Ibu sudah menentukan berbagai les yang harus kuikuti. Ada les sempoa agar aku bisa berhitung dengan benar, mengaji pada sore hari, dan les bahasa Inggris pada malam hari karena Ayah dan Ibu tidak bisa mengajarkannya sendiri kepadaku. Hari-hariku dipenuhi kegiatan, tetapi aku berusaha menjalaninya dengan baik. Aku ingin menjadi anak yang pintar dan membuat mereka bangga.

 

Les-les itu memang membantuku belajar. Namun, untuk pelajaran lainnya, aku harus berusaha sendiri di rumah. Terkadang aku kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah, tetapi Ayah dan Ibu selalu mengingatkanku agar belajar mandiri.

 

Sementara itu, jika Kavi dan Kavya kesulitan mengerjakan tugas, akulah yang diminta membantu mereka.

 

Aku tidak keberatan. Aku menyayangi adik-adikku dan senang melihat mereka memahami sesuatu yang sebelumnya terasa sulit. Hanya saja, terkadang aku juga ingin ada seseorang yang membantuku ketika aku tidak mengerti pelajaran.

 

Satu semester berlalu. Hari pembagian rapor pun tiba.

 

Ayah sengaja mengambil cuti agar bisa datang ke sekolah untuk mengambil raporku. Namun, hasil belajarku kali ini tidak sesuai harapan. Aku tidak berhasil masuk sepuluh besar di kelas.

 

“Ayah sudah merelakan waktu bekerja untuk mengambil rapormu, tetapi kamu bahkan tidak masuk sepuluh besar.”

 

Aku terdiam. Aku pun kecewa pada diriku sendiri. Semester itu, kesehatanku memang kurang baik. Aku beberapa kali harus berobat ke rumah sakit dan bahkan harus mengikuti ujian susulan karena kondisiku tidak memungkinkan untuk mengikuti ujian bersama teman-teman.

 

Namun, semua itu seolah tidak cukup untuk menjelaskan hasil raporku.

 

Kata-kata Ayah terus terngiang selama liburan semester. Aku tidak bisa menikmati waktu istirahat dengan tenang. Aku terus memikirkan apa yang harus kulakukan agar bisa kembali membanggakan mereka.

 

Suatu hari, saat aku kembali berobat ke rumah sakit, Ibu menemaniku. Ketika kami menunggu obat, Ibu bertemu dengan seorang temannya. Mereka mengobrol di ruang tunggu yang cukup sepi.

 

Sebenarnya, Ibu sering melarangku ikut campur dalam percakapan orang dewasa. Namun, suara mereka terdengar jelas. Tanpa sengaja, aku mendengar percakapan itu.

 

“Anakku kali ini mendapat peringkat tiga. Kalau anakmu bagaimana?”

 

“Anakku tidak mendapat peringkat.”

 

Setelah mengambil obat, teman Ibu berpamitan. Ibu kemudian menoleh kepadaku.

 

“Ibu malu kamu tidak mendapat peringkat. Biasanya kamu selalu mendapat peringkat yang bisa Ibu banggakan.”

 

Aku terdiam.

 

Sejak saat itu, aku bertekad untuk belajar lebih giat. Aku tidak ingin membuat Ayah dan Ibu kecewa lagi. Aku kembali masuk tiga besar di kelas.

 

Guruku sering mengatakan hal yang sama saat pembagian rapor.

 

“Kala anak yang pintar, tetapi kurang aktif di kelas. Kalau dia lebih berani menjawab pertanyaan, mungkin dia bisa menjadi juara kelas.”

 

Aku memang pemalu. Ketika guru memberikan pertanyaan, aku lebih sering menjawabnya dalam hati daripada mengangkat tangan. Aku tidak suka menjadi pusat perhatian.

 

Sekolahku memiliki tiga kelas yang masing-masing berisi siswa dengan peringkat satu hingga sepuluh dari kelas asal mereka. Siswa-siswa tersebut kemudian disatukan ke dalam kelas unggulan. Persaingan di kelas itu cukup ketat karena sebagian besar siswanya terbiasa mendapat nilai tinggi.

 

Aku pernah menjadi kandidat peserta lomba siswa berprestasi. Namun, ketika pemilihan peserta dilakukan, aku tidak terpilih karena sebelumnya pernah keluar dari sepuluh besar. Temanku yang akhirnya mewakili sekolah.

 

Meski begitu, aku tidak menyerah. Aku mengikuti lomba mata pelajaran IPA dan berhasil menjadi juara pertama di tingkat kecamatan. Aku pun melanjutkan perlombaan ke tingkat kabupaten dan meraih juara kedua.

 

Prestasi itu membawaku masuk ke SMP favorit melalui jalur prestasi. Ayah dan Ibu bangga, meskipun mereka sempat khawatir karena aku diterima sebagai siswa dengan peringkat terbawah di antara peserta jalur tersebut.

 

Selama SMP, nilaiku cukup baik dan aku kembali masuk tiga besar di kelas. Aku tidak mengikuti perlombaan apa pun saat SMP. Ketika SMA, aku juga mempertahankan peringkat tiga besar dan sempat menjadi kandidat peserta lomba bahasa Inggris.

 

Aku terus belajar, berusaha mempertahankan nilai, dan menjalani apa yang diharapkan dariku. Aku mulai terbiasa mengukur keberhasilanku dari hasil yang bisa kubawa pulang untuk diperlihatkan kepada Ayah dan Ibu.

 

Setelah lulus SMA, Ayah dan Ibu memilihkan jurusan pendidikan untukku. Aku menyetujuinya. Aku memang menyukai kegiatan mengajar adik-adikku. Rasanya menyenangkan ketika mereka akhirnya memahami sesuatu setelah berulang kali kujelaskan. Aku pun membayangkan diriku menjadi seorang guru.

 

Namun, kuliah ternyata lebih sulit daripada yang kubayangkan. Aku pikir semuanya akan seperti sekolah, tetapi aku harus belajar lebih mandiri. Tidak ada tempat les yang bisa kuandalkan untuk setiap mata kuliah. Aku harus mencari bahan sendiri, memahami materi sendiri, dan menyelesaikan tugas-tugas yang terkadang terasa berat.

 

IPK-ku tidak pernah sempurna, meskipun selalu berhasil mencapai angka di atas tiga. Ayah dan Ibu tidak begitu memahami kehidupan perkuliahan karena mereka belum pernah mengalaminya. Namun, mereka tetap bangga ketika aku berhasil menyelesaikan pendidikan dan menjadi sarjana pertama di keluarga kami.

 

Saat hari wisuda tiba, Ayah tersenyum lebar.

 

“Akhirnya ada juga yang bergelar sarjana di keluarga kita. Ayah bangga. Kerja keras Ayah mencari uang selama ini tidak sia-sia.”

 

“Ibu juga bangga,” kata Ibu. “Sekarang, Ibu berharap kamu bisa mengajar di sekolah. Kalau bisa, menjadi PNS atau bekerja di instansi yang jelas dan terjamin.”

 

Aku mengangguk. Saat itu, aku belum memikirkan pekerjaan seperti apa yang benar-benar kuinginkan. Aku hanya ingin segera bekerja dan membuat mereka bangga lagi.

 

Setelah lulus kuliah, aku diterima menjadi guru di sebuah sekolah swasta. Aku cukup senang dengan pekerjaan itu. Ibu juga terlihat bangga melihatku berangkat ke sekolah dengan seragam dan membawa tas berisi perlengkapan mengajar.

 

Setidaknya, salah satu harapannya telah terwujud.

 

Aku memang menyukai anak-anak. Mereka sering menceritakan kejadian lucu dan pengalaman mereka kepadaku saat jam istirahat. Aku senang mendengarkan cerita mereka, bahkan ketika ceritanya melompat dari satu hal ke hal lain. Beberapa anak mengatakan bahwa mereka tidak ingin diajar oleh guru lain.

 

Dulu, aku membayangkan pekerjaan guru hanya tentang mempelajari materi, menyiapkan pelajaran, mengajar, memberikan latihan soal, dan memeriksa pekerjaan siswa. Setelah menjalaninya, aku baru menyadari bahwa menjadi guru juga berarti berhadapan dengan banyak hal di luar kelas.

 

Aku harus berinteraksi dengan kepala sekolah, rekan sesama guru, dan orang tua murid. Sementara itu, aku tidak mudah akrab dengan orang dewasa. Aku lebih sering menghabiskan waktu di kelas daripada di ruang guru. Jika tidak sedang mengajar, aku biasanya memeriksa pekerjaan siswa atau menyiapkan materi berikutnya.

 

Aku juga merasa canggung saat menjadi pembina upacara. Bukan hanya anak-anak yang memperhatikanku, tetapi juga para guru dan kepala sekolah. Ketika pembagian rapor tiba, aku bahkan menyiapkan catatan kecil agar tidak kebingungan saat menjelaskan perkembangan siswa kepada orang tua mereka.

 

Berhadapan dengan orang tua murid pun menjadi tantangan tersendiri. Ada yang berkali-kali menanyakan jam pulang meskipun jadwal sudah dibagikan. Ada yang bertanya tentang seragam hari itu, ada yang ingin mengetahui perkembangan belajar anaknya, dan ada pula yang hanya mengambil rapor lalu langsung pergi. Aku harus belajar menghadapi berbagai macam pertanyaan dan sikap mereka.

 

Semakin lama, aku semakin menyadari bahwa aku tidak nyaman bekerja di lingkungan sekolah. Aku menyukai kegiatan mengajar, tetapi tuntutan di sekitarnya membuatku lelah.

 

Aku mulai memikirkan pilihan lain. Aku ingin tetap mengajar tanpa harus datang pagi dan pulang sore, menjadi pembina upacara, atau berinteraksi dengan begitu banyak orang setiap hari.

 

Setelah mempertimbangkannya dengan saksama, aku memutuskan untuk membuka les di rumah dan menerima murid les privat. Aku berharap bisa mengajar kelompok yang lebih kecil, lebih fokus pada perkembangan setiap anak, dan mengatur jadwalku sendiri. Aku juga bisa menyampaikan laporan perkembangan belajar secara berkala kepada orang tua tanpa harus menghadapi banyak urusan lain.

 

Keputusan itu tidak kuambil secara mendadak. Aku sudah memikirkan cara untuk tetap mendapatkan penghasilan dan memanfaatkan pengalamanku mengajar.

 

Namun, ketika kusampaikan kepada Ibu, tanggapannya tidak seperti yang kuharapkan.

 

“Ibu tidak setuju kalau kamu berhenti mengajar di sekolah.”

 

“Aku merasa tidak nyaman bekerja di sana, Bu. Banyak tuntutan dari berbagai pihak.”

 

“Lalu, setelah berhenti, kamu mau melakukan apa?”

 

“Aku mau membuka les di rumah dan menerima les privat.”

 

“Tetapi, gajimu di sekolah lebih terjamin. Kalau kamu membuka les sendiri, apa penghasilanmu akan cukup untuk memenuhi kebutuhanmu?”

 

“Aku sudah punya pengalaman mengajar. Aku juga bisa mengatur jadwal dan mencari murid sendiri. Aku akan berusaha supaya penghasilanku cukup.”

 

Ibu terdiam sejenak.

 

“Ibu menyekolahkanmu tinggi-tinggi supaya kamu punya masa depan yang baik. Sayang kalau kamu sudah sarjana, tetapi akhirnya hanya mengajar les di rumah.”

 

Aku tidak langsung menjawab. Aku tahu Ibu mengkhawatirkan masa depanku. Ia ingin aku memiliki pekerjaan yang jelas, penghasilan yang stabil, dan kehidupan yang lebih baik daripada yang pernah ia jalani.

 

Aku juga tahu betapa keras Ayah bekerja untuk membiayai pendidikanku. Aku tidak pernah menganggap semua itu sebagai sesuatu yang kecil.

 

Namun, aku tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa menjadi guru les bukan berarti aku menyerah pada pendidikanku. Aku masih ingin mengajar. Aku hanya ingin melakukannya dengan cara yang membuatku bisa bertahan.

 

Tak lama kemudian, Ayah pulang dan mendapati kami sedang berbicara.

 

“Ada apa?”

 

“Kala ingin berhenti mengajar di sekolah,” jawab Ibu.

 

Ayah menoleh kepadaku. “Kamu sudah memikirkan keputusan itu baik-baik?”

 

“Sudah, Yah.”

 

“Kalau begitu, Ayah tidak bisa melarangmu. Kamu sudah dewasa dan harus tahu konsekuensi dari pilihanmu sendiri.”

 

Aku mengangguk. Setidaknya, Ayah tidak memaksaku untuk mengurungkan niat.

 

Ibu tidak mengatakan apa-apa lagi. Namun, dari sikapnya, aku tahu ia masih kecewa. Mungkin ia membayangkan aku akan memiliki pekerjaan yang lebih bergengsi setelah menyelesaikan kuliah. Mungkin ia berharap bisa menceritakan pekerjaanku dengan bangga kepada orang lain, seperti ketika aku masih bersekolah dan membawa pulang rapor dengan peringkat yang baik.

 

Aku tidak bisa mengubah harapan itu dalam satu percakapan.

 

Setelah berhenti dari sekolah, aku mulai menerima murid les di rumah. Hari-hariku kembali dipenuhi buku, pensil, lembar latihan, dan suara anak-anak yang saling berebut ingin menjawab pertanyaan. Bedanya, kali ini aku bisa mengatur jadwalku sendiri. Aku bisa lebih tenang memperhatikan anak yang masih kesulitan membaca atau menemani anak yang berulang kali menghapus jawabannya karena takut salah.

 

Suatu sore, Kavi dan Kavya datang berkunjung. Kavi baru saja menyelesaikan sebuah program yang ingin ia tunjukkan kepadaku. Ia duduk di sampingku sambil menjelaskan cara kerja program buatannya, sesekali tersenyum ketika aku mulai memahami penjelasannya.

 

Sementara itu, Kavya bercerita tentang pengalamannya menjalani program magangnya di perusahaan. Ada hari-hari ketika ia merasa lelah, tetapi ia tetap berusaha menjalani setiap tugasnya dengan baik.

 

Aku mendengarkan cerita mereka sambil tersenyum. Rasanya baru kemarin mereka berlari menghampiriku sepulang sekolah, meminta diajari membaca dan menulis. Sekarang, mereka sudah tumbuh dewasa dan menempuh jalan mereka masing-masing.

 

Hari itu berjalan seperti hari-hari lainnya. Tidak ada penghargaan, tidak ada pengumuman juara, dan tidak ada rapor yang bisa kubawa pulang untuk membuat siapa pun bangga. Hanya ada anak-anak yang perlahan memahami sesuatu yang sebelumnya terasa sulit.

 

Malamnya, Ibu sempat bertanya apakah murid lesku sudah bertambah. Ia masih mengkhawatirkan penghasilanku. Aku menjawab pertanyaannya sebisaku. Ibu mengangguk, tetapi aku tahu ia belum sepenuhnya menerima pilihanku.

 

Dulu, mungkin aku akan menghabiskan malam dengan memikirkan cara agar Ibu kembali bangga. Aku akan mencari pekerjaan lain, mengejar sesuatu yang terlihat lebih baik, lalu berharap semua itu cukup untuk membuatnya puas.

 

Sekarang, aku masih ingin membuat Ayah dan Ibu bangga. Aku masih menyayangi mereka dan tidak pernah melupakan apa yang telah mereka berikan kepadaku. Namun, perlahan aku memahami bahwa rasa sayang tidak harus selalu dibuktikan dengan memenuhi semua harapan mereka.

 

Aku pernah berusaha menjadi anak yang berprestasi, kakak yang bisa diandalkan, dan sarjana yang memiliki pekerjaan sesuai bayangan orang tua. Aku tidak menyesali semua itu. Dari sana, aku belajar banyak hal. Hanya saja, aku tidak ingin menghabiskan seluruh hidupku untuk mengejar ukuran keberhasilan yang bukan sepenuhnya milikku.

 

Mungkin Ibu akan tetap kecewa karena pekerjaanku tidak seperti yang ia bayangkan. Mungkin Ayah pun berharap aku memiliki penghasilan yang lebih besar dan pekerjaan yang lebih pasti. Aku tidak bisa meminta mereka langsung memahami pilihanku.

 

Namun, setiap kali seorang anak berhasil membaca kalimat pertamanya, setiap kali seorang murid pulang dengan wajah lega karena akhirnya mengerti pelajaran, aku tahu ada sesuatu yang berarti dari pekerjaanku.

 

Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti Ayah dan Ibu akan benar-benar bangga pada pilihanku. Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin menunggu jawaban itu untuk merasa cukup.

 

Aku ingin tetap menjadi anak yang menyayangi orang tuanya, kakak yang menyayangi adik-adiknya, dan seseorang yang bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.

 

Sebab, aku tidak harus selalu menjadi kebanggaan orang lain untuk bisa bangga pada diriku sendiri.