BARANGKALI AKU PERNAH MENGINGINKAN SESUATU
Dilihat : 3
Di layar laptopku, sebuah lowongan pekerjaan terbuka sejak hampir satu jam yang lalu.
Posisi staf keuangan di sebuah bank. Persyaratannya tidak sulit kupenuhi. Aku berasal dari jurusan Akuntansi, memiliki nilai yang cukup baik, dan akan segera lulus. Ayah bahkan sudah beberapa kali mengingatkanku untuk mencoba melamar ke bank tersebut karena ia mengenal seseorang yang bekerja di sana.
Seharusnya aku senang. Kesempatan seperti ini tidak datang kepada semua orang. Aku tahu banyak lulusan baru yang harus mengirim puluhan lamaran sebelum mendapat panggilan wawancara, sementara aku bahkan sudah memiliki seseorang yang bersedia membantuku membuka jalan.
Namun, sejak tadi, aku hanya membaca halaman yang sama tanpa menekan tombol Lamar.
“Masih cari lowongan?” tanya Dita dari seberang meja.
Aku mengangguk.
“Yang itu lagi?”
“Sepertinya cocok.”
Dita melirik layar laptopku. “Kamu memang tertarik kerja di sana?”
Aku hendak menjawab, tetapi tidak ada kata yang segera keluar. Aku memandang daftar persyaratan di layar, berharap tulisan-tulisan itu bisa memberiku jawaban yang tidak kutemukan dalam diriku sendiri.
“Aku kan memang kuliah Akuntansi,” kataku akhirnya.
“Itu bukan jawaban pertanyaanku, Mel.”
Aku tertawa kecil, berusaha menganggap ucapannya sebagai candaan. “Memangnya harus punya pekerjaan impian?”
“Enggak harus. Tapi masa kamu sama sekali nggak pernah kepikiran pengin melakukan sesuatu?”
Aku menutup halaman lowongan itu.
Aku bisa menyebut pekerjaan dengan gaji besar, perusahaan ternama, atau posisi yang menjanjikan masa depan. Aku tahu jawaban-jawaban itu. Aku hanya tidak tahu mana yang benar-benar berasal dari diriku sendiri.
Setiap kali membayangkan masa depan, aku selalu memulainya dengan memikirkan apa yang akan membuat Ayah tenang, apa yang akan membuat Ibu bangga, dan pilihan apa yang tidak akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.
Aku jarang bertanya apakah aku sendiri akan bahagia menjalaninya.
Sebenarnya, aku pernah menginginkan sesuatu dengan begitu yakin. Jauh sebelum urusan pekerjaan, gaji, dan masa depan menjadi hal-hal yang harus kupikirkan dengan serius.
Waktu itu, aku masih duduk di bangku SMA. Aku punya sebuah buku gambar, sekotak pensil warna, dan keinginan sederhana yang kupikir tidak akan pernah sulit kupertahankan.
***
Aku mulai menyukai desain sejak SMP. Awalnya hanya karena senang melihat gambar dan warna disusun menjadi sesuatu yang menarik. Lama-kelamaan, aku mulai membuat poster untuk kegiatan kelas, mengedit foto teman-teman, dan menghabiskan sore dengan mencoba berbagai aplikasi desain di laptop.
Aku tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang istimewa. Bagiku, itu hanya kegiatan yang membuat waktu berlalu tanpa terasa.
Sampai suatu hari, aku pulang dari pameran pendidikan di sekolah dengan membawa beberapa brosur universitas. Di antara lembaran informasi tentang berbagai jurusan, ada satu brosur yang terus kubuka berulang kali, Desain Komunikasi Visual.
Aku membacanya di kamar, mencatat nama beberapa kampus, lalu mencari tahu mata kuliah dan peluang kerja lulusannya. Semakin banyak yang kutemukan, semakin jelas bayanganku tentang apa yang ingin kulakukan.
Malam itu, setelah makan bersama, aku membawa brosur tersebut ke meja makan. Ayah sedang memotong buah, sedangkan Ibu merapikan piring.
“Ayah, aku mau bicara soal kuliah.”
Ayah mengangkat wajah. “Tentang apa?”
“Aku tertarik masuk Desain Komunikasi Visual.”
Pisau di tangan Ayah berhenti sebentar. Ia mengambil brosur itu, membaca bagian depannya, lalu membalik beberapa halaman.
“Lulusannya kerja apa?”
“Bisa jadi desainer grafis, ilustrator, kerja di agensi kreatif, atau bagian desain di perusahaan. Aku sudah cari tahu, Yah.”
“Cari tahu dari mana?”
“Internet. Aku juga sudah lihat beberapa kampus.”
Ayah meletakkan brosur itu di meja. “Rencana seperti ini sudah kamu pikirkan matang-matang?”
Aku mengangguk. Aku ingin menunjukkan semua informasi yang sudah kukumpulkan, tetapi Ayah lebih dulu melanjutkan.
“Ayah bukan melarang kamu punya minat. Tapi kuliah itu bukan cuma soal suka atau tidak suka. Setelah lulus, kamu harus bisa hidup dari pekerjaanmu. Ayah ingin kamu punya pekerjaan yang jelas.”
“Bidang desain juga bisa jadi pekerjaan, Yah.”
“Bisa, tapi apakah terjamin? Bagaimana kalau nanti susah mencari kerja? Bagaimana kalau penghasilannya tidak cukup?”
Aku mencoba menjelaskan lagi. Aku sudah membaca kisah para desainer, melihat portofolio mahasiswa, dan mencari tahu pekerjaan yang bisa ditekuni setelah lulus. Namun, semakin panjang penjelasanku, semakin banyak kemungkinan buruk yang diajukan Ayah.
“Aku cuma ingin mencoba, Yah.”
Ayah mengembuskan napas. “Ayah sudah bekerja keras supaya kamu punya kesempatan kuliah. Ayah tidak ingin kamu mengambil keputusan yang akhirnya kamu sesali.”
Ibu yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara.
“Ayahmu cuma ingin kamu punya kehidupan yang lebih baik daripada kami. Pikirkan baik-baik, ya, Melva.”
Aku mengangguk. Percakapan itu berakhir ketika Ayah meminta garam, lalu membicarakan berita di televisi seolah kami tidak baru saja membicarakan masa depanku.
Tidak ada yang membentakku. Tidak ada yang merobek brosur itu atau melarangku menyebut nama jurusan tersebut lagi. Setelah makan malam, aku bahkan masih bisa membawa brosur itu kembali ke kamar.
Namun, untuk pertama kalinya, sesuatu yang kusukai terasa seperti persoalan yang harus kupertanggungjawabkan.
Malam itu, aku membuka situs pendaftaran universitas. Ada dua pilihan jurusan yang sudah kusiapkan yaitu Desain Komunikasi Visual dan Akuntansi. Kursor berhenti cukup lama di pilihan pertama.
Dari luar kamar terdengar suara televisi. Ayah tertawa menanggapi acara yang ditontonnya, sementara Ibu mencuci piring di dapur. Rumah terasa biasa saja, tetapi aku mulai membayangkan apa yang akan terjadi jika aku tetap memilih DKV. Aku membayangkan Ayah kecewa, Ibu ikut bersedih, dan makan malam berikutnya berlangsung dalam diam.
Mungkin mereka akan tetap membiayai kuliahku. Mungkin juga mereka akan mencoba menerima pilihanku. Aku tidak benar-benar tahu. Yang kutahu, aku tidak sanggup menghadapi kemungkinan bahwa keputusan itu akan membuat mereka menganggapku tidak tahu berterima kasih atas semua yang telah mereka berikan.
Jadi, kuhapus pilihan DKV dan menggantinya dengan Akuntansi.
Aku menatap layar beberapa saat sebelum menekan tombol kirim.
Tidak ada yang memaksaku memegang tetikus malam itu. Tidak ada yang berdiri di belakangku atau mengancam akan mengambil laptopku. Aku melakukannya sendiri karena sudah bisa menebak jawaban seperti apa yang diharapkan dariku.
Beberapa bulan kemudian, aku diterima di jurusan Akuntansi.
Ayah mencetak pengumuman kelulusanku dan menempelkannya di lemari ruang tengah. Setiap kerabat yang datang selalu diberi tahu bahwa aku diterima di jurusan yang bagus.
“Melva dari dulu memang gampang diatur,” kata Ayah suatu kali kepada seorang paman. “Tidak pernah macam-macam.”
Paman menepuk bahuku. “Bagus itu. Orang tua pasti tahu yang terbaik buat anaknya.”
Aku tersenyum dan menjawab, “Iya, Om.”
Setelah mereka pulang, aku melihat pengumuman yang ditempel di lemari. Salah satu sudut kertasnya terlepas dari selotip. Aku mengambil selotip baru dan menempelkannya kembali, memastikan kertas itu lurus.
Aku tidak ingin sesuatu yang membuat Ayah bangga terlihat berantakan.
Waktu itu, aku belum menyadari bahwa aku mulai melakukan hal yang sama terhadap diriku sendiri.
***
Di kampus, aku menjadi mahasiswa yang bisa diandalkan. Aku mengerjakan tugas tepat waktu, mengingatkan teman-teman tentang tenggat pengumpulan, dan hampir tidak pernah menolak permintaan bantuan. Jika ada anggota kelompok yang kesulitan, aku akan mengambil alih sebagian pekerjaannya. Jika seseorang meminta tolong, aku selalu berusaha mencari cara agar bisa membantu.
Aku menyukai perasaan dibutuhkan. Setidaknya, ketika seseorang meminta bantuanku, aku tahu apa yang harus kulakukan. Ada masalah, ada sesuatu yang bisa kukerjakan, lalu ada seseorang yang merasa terbantu setelahnya. Semuanya terasa jelas.
Berbeda dengan ketika seseorang bertanya tentang diriku sendiri.
Dita sering menggodaku karena kebiasaanku itu.
“Mel, kamu harus belajar bilang tidak, deh. Nanti semua orang kerjaannya minta tolong kamu terus.”
“Kalau aku bisa bantu, kenapa enggak?”
“Karena kamu juga punya urusan sendiri.”
Aku tertawa. “Urusanku masih bisa dikerjakan nanti.”
Dita menggeleng. Ia tidak melanjutkan, mungkin karena sudah tahu aku akan selalu menemukan alasan untuk mengutamakan orang lain.
Suatu sore, ia datang ke perpustakaan membawa informasi pendaftaran kepanitiaan kampus. Sebuah acara mahasiswa sedang mencari anggota untuk divisi kreatif.
“Mel, ikut daftar, yuk. Kamu masuk divisi desain saja.”
Aku tersenyum ketika melihat poster pendaftarannya. Ada beberapa contoh karya dari kepanitiaan tahun sebelumnya. Aku memperhatikan susunan huruf, perpaduan warna, dan ilustrasi yang digunakan.
“Kamu masih ingat aku suka desain?”
“Ya, ingatlah. Dulu kamu pernah bikin poster acara kelas. Bagus banget, tahu. Aku sampai simpan fotonya.”
Dita duduk di sampingku dan membuka formulir pendaftaran di ponselnya.
“Coba saja dulu. Enggak harus langsung jadi desainer profesional.”
Aku membaca persyaratannya. Aku hanya perlu mengisi data diri, melampirkan contoh desain, dan mengikuti wawancara singkat. Tidak ada yang terlalu sulit. Bahkan, aku sudah membayangkan beberapa ide yang mungkin bisa kukerjakan jika diterima.
Untuk beberapa saat, aku merasa seperti diriku yang dulu.
Lalu aku mulai memikirkan hal-hal lain.
Bagaimana jika kegiatan itu mengganggu kuliah? Bagaimana jika nilaiku turun? Bagaimana jika Ayah tahu aku menghabiskan waktu untuk kegiatan desain, lalu bertanya mengapa aku tidak fokus pada jurusan yang sudah kupilih?
Aku belum mendaftar, tetapi sudah sibuk menyusun alasan untuk tidak melakukannya.
“Nanti aku pikirkan dulu, ya,” kataku.
Dita menatapku. “Kamu takut enggak lolos?”
“Bukan.”
“Terus apa?”
Aku melipat ujung kertas yang ada di tanganku. “Lagi banyak tugas.”
“Semua orang juga punya tugas, Mel.”
Aku tidak menjawab.
Dita menarik napas pelan. “Aku cuma heran. Kalau aku minta tolong bikin desain, kamu langsung mau. Kalau ada kesempatan buat kamu sendiri, kamu malah mundur.”
“Aku enggak mundur.”
“Terus?”
Aku ingin menjawab bahwa aku hanya sedang berhati-hati. Bahwa tidak semua hal yang disukai harus dikejar. Bahwa hidup memang menuntut seseorang memilih sesuatu yang lebih masuk akal daripada sekadar menyenangkan hati.
Namun, semua kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang pernah kudengar dari orang lain.
“Aku belum tahu,” jawabku.
Dita tidak memaksaku. Ia hanya mengirimkan tautan pendaftaran itu dan berkata bahwa batas waktunya besok malam.
Malamnya, aku membuka formulir tersebut. Aku mengisi nama, NPM, dan program studi, lalu mulai menulis alasan ingin bergabung di divisi desain. Baru beberapa kalimat, aku berhenti. Aku membaca ulang jawabanku, merasa kalimat-kalimat itu terlalu berani untuk seseorang yang selama ini selalu memilih jalan aman.
Aku menghapusnya.
Setelah itu, kututup formulir dan beralih mengerjakan tugas kuliah.
Keesokan harinya, Dita bertanya apakah aku sudah mendaftar.
“Belum sempat,” jawabku.
Ia mengangguk kecil. “Sayang banget, Mel.”
Hanya itu yang dikatakannya. Ia tidak menuduhku pengecut atau memaksaku menjelaskan alasan. Justru karena ia tidak mendesak, aku tidak punya siapa pun untuk disalahkan.
Aku pulang dari perpustakaan dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Aku tahu kesempatan itu mungkin datang lagi. Aku juga tahu tidak mendaftar bukan akhir dari segalanya.
Namun, aku mulai menyadari sesuatu yang lebih mengganggu daripada kehilangan satu kesempatan, aku selalu bisa menemukan alasan yang masuk akal untuk tidak mencoba sesuatu yang kuinginkan.
Dan setiap kali aku melakukannya, semakin sulit bagiku membedakan mana keputusan yang benar-benar kuambil dan mana keputusan yang kuambil karena takut mengecewakan orang lain.
***
Saat libur semester, aku pulang ke rumah. Pada makan malam pertama, Ayah menanyakan nilai kuliahku.
“IPK berapa?”
“3,78, Yah.”
“Bagus. Pertahankan. Semester depan ambil mata kuliah yang bisa mempercepat kelulusan. Setelah lulus, cari kerja di perusahaan besar. Kalau bisa, masuk bank. Ayah punya kenalan yang bisa membantu.”
“Iya, Yah.”
Ibu tersenyum sambil meletakkan sayur di meja. “Enak ya, punya anak yang tidak perlu disuruh-suruh.”
Ayah tertawa kecil. “Dari dulu Melva memang gampang diatur. Tidak seperti anak orang yang sedikit-sedikit melawan.”
Aku ikut tersenyum sambil mengambil nasi.
Pujian itu seharusnya membuatku senang. Aku tahu orang tuaku bangga kepadaku. Mereka tidak pernah lupa menanyakan kuliahku, memastikan kebutuhanku tercukupi, atau mengingatkanku agar menjaga kesehatan. Mereka bekerja keras agar aku bisa mendapatkan pendidikan yang baik.
Aku tidak pernah menganggap semua itu sebagai hal kecil.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal di dadaku setiap kali Ayah mengatakan bahwa aku gampang diatur. Seolah-olah keberhasilanku bukan hanya diukur dari apa yang kucapai, tetapi juga dari seberapa sedikit kesulitan yang kuberikan kepada mereka.
Ayah menatapku. “Kamu sendiri memang mau kerja di bank, kan?”
Sendok di tanganku berhenti.
Aku melirik Ibu. Ia sedang tersenyum, menunggu jawabanku. Ayah pun tampak yakin bahwa aku akan mengatakan hal yang sama seperti yang baru saja ia sarankan.
Aku ingin mengatakan bahwa aku belum tahu. Bahwa aku belum pernah benar-benar membayangkan diriku bekerja di bank selain sebagai seseorang yang memenuhi harapan Ayah. Bahwa ada bagian dari diriku yang masih ingin mencoba sesuatu yang berbeda.
Namun, aku juga tahu betapa senangnya Ayah ketika rencananya berjalan sesuai harapan.
“Iya, Yah,” jawabku akhirnya.
“Bagus. Ayah tahu kamu bisa membuat keputusan yang benar.”
Aku menunduk dan melanjutkan makan.
Percakapan beralih pada hal lain. Ibu bercerita tentang tetangga yang baru pindah, Ayah membicarakan pekerjaannya, dan aku sesekali menanggapi mereka. Dari luar, tidak ada yang berubah. Aku tetap anak yang mendengarkan, menjawab dengan sopan, dan tidak membuat suasana makan malam menjadi sulit.
Hanya aku yang tahu bahwa ada satu jawaban yang tidak berani kuucapkan.
Malam sebelum kembali ke kota tempatku kuliah, Ibu masuk ke kamar untuk membantuku memasukkan pakaian ke koper. Ia melipat bajuku satu per satu, seperti yang selalu dilakukannya setiap kali aku pulang.
“Kamu bawa obat maag, kan?”
“Sudah, Bu.”
“Uang bulanan masih cukup?”
“Cukup.”
“Kalau kurang, bilang. Jangan sampai kamu kesusahan di sana.”
Aku mengangguk sambil merapikan pakaian di dalam koper. Ibu kemudian duduk di tepi tempat tidur dan memperhatikanku.
“Kamu tahu, kan, Ayahmu sebenarnya sayang sekali sama kamu?”
Tanganku berhenti melipat baju.
“Ibu tahu Ayahmu keras. Tapi dia tidak mau kamu mengalami hidup susah seperti kami. Semua yang dia lakukan itu untuk kamu.”
Aku menatap pakaian di pangkuanku. Aku tahu Ayah bekerja keras. Aku tahu orang tuaku membayar kuliah dan memenuhi kebutuhanku. Aku juga tahu mereka ingin aku hidup lebih baik.
Yang tidak pernah bisa kupahami adalah mengapa aku merasa bersalah setiap kali menginginkan sesuatu yang berbeda dari keinginan mereka.
“Kalau suatu hari nanti kamu sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri, kamu pasti mengerti kenapa orang tua harus tegas,” lanjut Ibu.
Aku ingin bertanya apakah menjadi anak yang baik berarti harus selalu setuju. Aku ingin tahu apakah Ibu pernah menyadari bahwa aku tidak lagi menceritakan hal-hal yang kusukai, atau bahwa setiap kali ditanya tentang keinginan sendiri, aku selalu menjawab tidak tahu.
Namun, Ibu terlihat lelah. Ada rambut putih di dekat pelipisnya yang baru kusadari malam itu. Tangannya masih sibuk melipat pakaian, memastikan tidak ada bagian yang kusut.
Aku tidak ingin membuatnya sedih.
“Iya, Bu. Aku mengerti.”
Ibu mengusap kepalaku. “Anak Ibu memang paling mengerti.”
Setelah Ibu keluar, aku duduk di tepi tempat tidur. Entah mengapa, kalimat itu membuatku teringat pada buku gambar yang kusimpan di laci paling bawah meja belajar.
Buku itu kubeli saat SMA. Sebagian besar halamannya masih kosong karena aku berhenti menggambar setelah masuk kuliah. Aku mengambilnya, menepuk debu tipis di sampulnya, lalu membuka halaman pertama.
Ada gambar rumah kecil dengan jendela lebar, meja dekat jendela, dan seseorang yang sedang menggambar. Di bawah gambar itu, dengan tulisan tanganku sendiri, tertulis
Suatu hari, aku ingin punya ruang untuk melakukan hal yang kusukai.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Aku masih ingat saat menulisnya. Waktu itu, aku membayangkan punya meja kerja sendiri, dinding yang bisa kutempel dengan gambar, dan cukup waktu untuk membuat sesuatu tanpa harus memikirkan apakah kegiatan itu berguna bagi masa depanku.
Aku tidak tahu apakah rumah dalam gambar itu akan pernah menjadi milikku. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku menggambar tanpa merasa harus menyelesaikan sesuatu yang lebih penting.
Aku menutup buku itu, tetapi tidak sanggup memasukkannya kembali ke laci.
Air mataku jatuh begitu saja. Aku segera menutup mulut dengan telapak tangan, takut tangisanku terdengar dari luar kamar.
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan kesedihan itu. Aku punya rumah untuk pulang, orang tua yang membiayai kuliahku, nilai yang baik, dan masa depan yang dianggap menjanjikan. Aku tidak pernah kekurangan makanan atau pakaian.
Lantas, mengapa aku merasa seperti kehilangan sesuatu yang bahkan tidak bisa kusebutkan?
Aku menangis sampai dadaku terasa sesak, lalu menghapus air mata dan memasukkan buku gambar itu kembali ke laci.
Pagi harinya, aku sarapan bersama Ayah dan Ibu seperti biasa. Ayah mengingatkanku untuk rajin belajar, Ibu memeriksa apakah semua barang sudah masuk koper, dan aku mencium tangan mereka sebelum berangkat.
Tidak ada yang tahu apa yang terjadi malam sebelumnya.
Aku pun tidak menceritakannya kepada siapa pun.
***
Menjelang kelulusan, Dita mendapat pekerjaan sebagai desainer di sebuah perusahaan kecil. Ia mengajakku bertemu di taman kampus untuk merayakannya.
“Aku akhirnya dapat kerjaan yang aku suka!” katanya sambil menunjukkan surat penerimaan kerja di ponselnya.
“Selamat, Dit. Aku ikut senang.”
“Aku masih nggak percaya. Dulu aku takut banget nggak bisa hidup dari desain. Sekarang, setidaknya aku bisa mulai dari sini.”
Aku tersenyum. Dita terlihat gugup sekaligus bahagia. Ia tidak tahu apakah pekerjaannya akan mudah atau apakah gajinya akan cukup. Namun, ia tetap memilih mencobanya.
“Kamu sendiri gimana, Mel? Skripsi sebentar lagi selesai, kan?”
“Iya, tinggal revisi.”
“Terus mau kerja di mana?”
Aku mengangkat bahu. “Belum tahu.”
Dita menatapku sebentar. “Bukannya Ayahmu punya kenalan di bank?”
“Punya.”
“Berarti sudah ada rencana?”
Aku mengangguk, meskipun jawaban itu tidak benar-benar menjelaskan apa pun.
Kami terdiam sejenak. Angin menggerakkan daun-daun di atas kepala, sementara beberapa mahasiswa lewat sambil tertawa. Aku memandang Dita yang masih sesekali membuka surat penerimaan kerjanya, seolah ingin memastikan kabar itu benar-benar nyata.
Aku ikut senang melihatnya. Sungguh. Namun, di balik rasa senang itu, ada perasaan lain yang berusaha kusembunyikan. Bukan iri terhadap pekerjaannya, melainkan terhadap keberaniannya mengambil keputusan tanpa harus memastikan semua orang akan menyetujuinya.
“Mel,” panggilnya.
“Hm?”
“Kamu sebenarnya bahagia nggak?”
Aku tertawa kecil. “Pertanyaan macam apa itu?”
“Pertanyaan biasa.”
Aku memalingkan wajah. “Ya, baik-baik saja.”
“Aku enggak tanya kamu baik-baik saja atau enggak.”
Aku tidak menjawab.
Dita menyimpan ponselnya. “Kamu selalu bilang semuanya baik-baik saja. Nilaimu bagus, tugasmu beres, kamu selalu bantu orang. Tapi aku nggak pernah dengar kamu cerita tentang sesuatu yang benar-benar kamu inginkan.”
Aku menatap jalan setapak di depan kami. Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan, tetapi semuanya terasa sulit dimulai.
Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak tahu apakah akan bahagia bekerja di bank. Aku ingin bercerita tentang buku gambar yang masih kusimpan, tentang lowongan pekerjaan desain yang terkadang kubuka diam-diam, dan tentang betapa seringnya aku menutup halaman itu karena merasa tidak pantas menginginkan sesuatu yang berbeda.
“Aku sebenarnya—”
Ponselku bergetar. Nama Ayah muncul di layar.
Aku meminta maaf kepada Dita, lalu mengangkat telepon itu. Ayah bertanya di mana aku berada dan mengingatkanku agar tidak pulang terlalu malam. Setelah itu, ia membicarakan skripsiku dan mengatakan bahwa ia sudah menghubungi seorang kenalan di bank.
“Setelah lulus, kamu harus segera cari kerja. Jangan terlalu lama menganggur. Ayah sudah bantu buka jalan, jadi kamu tinggal serius saja.”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
“Iya, Yah.”
“Jangan lupa makan. Jaga kesehatan.”
“Iya, Yah.”
Telepon berakhir. Aku menatap layar ponsel beberapa saat sebelum memasukkannya ke tas.
Dita masih duduk di sampingku. Ia tidak bertanya siapa yang menelepon atau apa yang dibicarakan. Ia hanya menunggu, memberiku kesempatan untuk melanjutkan kalimat yang tadi terputus.
Namun, keberanianku sudah hilang.
“Sudah, yuk. Aku harus pulang,” kataku.
Dita ikut berdiri. Sebelum kami berpisah, ia menepuk pelan lenganku.
“Mel, kamu enggak harus selalu punya jawaban yang bikin orang lain tenang.”
Aku tersenyum. “Iya. Aku tahu.”
Aku mengucapkannya dengan mudah, seperti biasa. Padahal, aku tidak tahu bagaimana caranya berhenti menjadi orang yang selalu berusaha membuat semua orang tenang.
***
Malam itu, setelah kembali ke kamar kos, aku membuka laptop dan mencari lowongan pekerjaan desain. Ada beberapa posisi untuk lulusan baru. Aku membaca persyaratannya, melihat contoh portofolio, lalu membuka folder berisi desain yang pernah kubuat semasa SMA.
Beberapa hasilnya terlihat sederhana jika dibandingkan dengan karya-karya yang kutemukan di internet. Ada poster kegiatan kelas, ilustrasi kecil, dan beberapa gambar yang bahkan sudah kulupakan. Aku melihat semuanya satu per satu, sesekali tersenyum ketika menemukan desain yang masih kuingat proses pembuatannya.
Aku membuat dokumen baru dan menamainya Portofolio Melva Ariani.
Halaman putih muncul di layar. Aku memilih satu gambar, lalu membatalkannya. Aku mencoba gambar lain, kemudian kembali ke gambar pertama. Hampir satu jam berlalu tanpa ada satu pun yang berhasil kupindahkan ke dokumen itu.
Aku mulai memikirkan kemungkinan gagal, kemungkinan tidak diterima, dan kemungkinan Ayah mengetahui bahwa aku melamar pekerjaan di bidang yang tidak pernah ia sarankan. Aku membayangkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin diajukan kepadaku. Mengapa tidak mencoba bank yang sudah disiapkan? Mengapa mengambil risiko setelah kuliah selama bertahun-tahun? Apa gunanya semua yang sudah dipelajari?
Aku bahkan belum mengirim lamaran, tetapi pikiranku sudah dipenuhi alasan untuk berhenti.
Akhirnya, kututup laptop.
Bukan karena Ayah melarangku. Ia bahkan tidak tahu aku sedang memikirkan semua itu. Tidak ada suara yang meninggi, tidak ada ancaman, dan tidak ada seorang pun yang menyuruhku mengurungkan niat.
Aku hanya tidak sanggup melanjutkan.
Selama bertahun-tahun, aku mendengar bahwa orang tua lebih tahu apa yang baik untuk anaknya. Aku mendengar bahwa pilihan yang aman lebih baik daripada keputusan yang berisiko, bahwa pengorbanan orang tua harus dibalas dengan keberhasilan, dan bahwa menjadi anak yang baik berarti tidak membuat mereka khawatir.
Lama-kelamaan, aku mulai mempercayainya. Aku tidak lagi membutuhkan Ayah untuk mengatakan tidak. Aku sudah belajar melakukannya sendiri.
Aku berbaring dan menatap langit-langit kamar. Besok pagi, aku akan bangun, mandi, menyelesaikan revisi skripsi, lalu menjawab pesan teman-teman. Jika Ayah menelepon, aku akan mengangkatnya. Jika seseorang bertanya tentang rencana setelah lulus, aku akan mengatakan bahwa semuanya sedang berjalan baik.
Mungkin aku akan mendapatkan pekerjaan di bank. Mungkin aku akan menjalani hidup yang selama ini direncanakan untukku. Aku akan bekerja, menerima gaji, membantu orang tua, dan membuat mereka bangga.
Tidak ada yang salah dengan semua itu jika memang aku yang menginginkannya.
Masalahnya, aku tidak tahu apakah aku menginginkannya.
Aku meraih ponsel dan membuka percakapan dengan Dita. Pesan terakhirnya berbunyi, Kalau nanti kamu sudah tahu mau ke mana, kabari aku, ya.
Aku mengetik, Aku sebenarnya ingin mencoba kerja di bidang desain.
Aku membaca kalimat itu beberapa kali. Jantungku berdegup lebih cepat, seolah aku baru saja melakukan sesuatu yang berbahaya. Aku membayangkan Dita akan bertanya mengapa aku tidak pernah menceritakannya. Aku membayangkan harus menjelaskan semua keraguan yang selama ini kusimpan, termasuk alasan yang bahkan tidak sepenuhnya kupahami.
Setelah beberapa detik, kuhapus pesan itu dan meletakkan ponsel di samping bantal.
Aku belum mengirimkannya kepada siapa pun. Bahkan keinginan yang paling sederhana pun masih terasa seperti sesuatu yang harus kusembunyikan.
Di rumah, aku selalu menjadi anak yang membanggakan. Di kampus, aku menjadi teman yang bisa diandalkan. Di mana pun aku berada, orang-orang mengenalku sebagai seseorang yang bertanggung jawab dan tahu apa yang harus dilakukan.
Mereka tidak salah. Aku memang masih menjalani semuanya. Aku tetap bangun setiap pagi, menyelesaikan tugas, tertawa saat teman-temanku bercanda, dan menjawab pertanyaan tentang masa depan dengan senyum yang meyakinkan.
Hanya saja, malam itu aku menyadari sesuatu yang tidak pernah berani kuakui sebelumnya, aku begitu sibuk menjadi anak yang tidak mengecewakan siapa pun, sampai aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi diriku sendiri.
Aku teringat pada gambar rumah kecil dalam buku gambarku. Pada meja dekat jendela, dinding yang ingin kutempel dengan karya-karyaku, dan tulisan yang kubuat ketika masih percaya bahwa suatu hari aku bisa melakukan sesuatu hanya karena aku menyukainya.
Aku pernah menginginkan semua itu. Aku tahu karena aku pernah menuliskannya dengan tanganku sendiri.
Namun, sekarang aku bahkan tidak tahu apakah keinginan itu masih milikku, atau hanya sisa dari seseorang yang pernah menjadi diriku.
Dan yang paling menakutkan bukanlah jika suatu hari Ayah kecewa kepadaku.
Yang paling menakutkan adalah kemungkinan bahwa ketika akhirnya aku bebas menentukan hidupku sendiri, aku tetap tidak tahu harus memilih apa.
Sebab aku tidak ingat kapan terakhir kali aku benar-benar memilih sesuatu untuk diriku sendiri.