CORONAVIRUS, Sars - Mers - Covid-19

Penulis: Prof. drh H.R. Wasito, M.Sc., Ph.D.; Prof. drh. Hj. Hastari Wuryastuti, M.Sc., Ph.D. | Tahun Terbit: 2020

Rp. 104,000,-  Diskon 20%

Rp. 83,200,-

Jumlah
:
Berat Satuan
: 320gr
Dilihat
116 x
Terkirim
0 x
Kondisi
Baru
Min. Beli
1

TOTALRp 83,200,-


Produk ini juga tersedia di marketplace

New Release - Corona Virus (Sars, Mers, Covid-19) Kategori(Sub): Keluarga (Kesehatan) ISBN: 978-623-7267-31-7 Penulis: Prof. drh H.R. Wasito, M.Sc., Ph.D.; Prof. drh. Hj. Hastari Wuryastuti, M.Sc., Ph.D. Ukuran⁄Halaman: 16x23 cm² ⁄ x+116 halaman Edisi⁄Cetakan: I, 1st Published Tahun Terbit: 2020 Berat: 164 gram Harga: Rp 104.000,- Sinopsis: Munculnya wabah coronavirus baru dan ganas yang dikenal dengan nama SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19, yaitu: penyakit pneumonia berat yang terjadi pada awal Desember 2019 di Provinsi Wuhan, Cina dan telah mewabah di hampir seluruh penjuru dunia, menyadarkan kita bahaya coronavirus terhadap kesehatan masyarakat global. Pada hewan ternak dan unggas, coronavirus, pada umumnya, akan menyebabkan penyakit pada saluran pernapasan dan pencernaan yang berat dan bersifat fatal (mematikan), terutama pada ayam, babi, kucing dan hewan mamalia yang lainnya. Coronavirus merupakan virus RNA, seperti halnya virus flu burung, mempunyai kemampuan reaksi silang hospes via genetic shift atau genetic reassortment. Artinya, virus RNA, coronavirus dapat cepat mengalami mutasi dan rekombinasi menjadi bentuk coronavirus baru yang sangat patogenik yang memungkinkan terjadinya penularan pada manusia. Sebagai contoh, misalnya wabah SARS-related coronavirus pada 2002 di Cina dan MERS pada 2012 di Arab Saudi dianggap berasal dari hewan, kelelawar. Berbagai macam galur coronavirus patogenik pada hewan ternak, termasuk unggas dan satwa liar dibahas dalam rangka mewujudkan kepedulian kesehatan lingkungan atau ekosistem sehingga kemungkinan mewabahnya penyakit zoonotik dapat dihindari secara optimal. Diagnosis infeksi coronavirus perlu dilakukan secara cepat, tepat dan akurat, serta aman mengingat, bahwa novel coronavirus yang terbentuk akibat reaksi silang hospes, misalnya SARS-CoV-2 bersifat sangat menular dan ganas. Imunositopatologis sediaan apus dengan spesimen sputum sangat memungkinkan untuk dikembangkan dan diaplikasikan dalam peneguhan diagnosis novel coronavirsu, misalnya COVID-16 infeksi novel coronaviorus cepat, akurat dan aman. Virus, coronavirus hidup, tumbuh dan berkembang biak dalam sitoplasma sel.(intrasitoplasmik). Sampai saat ini, belum ada obat, maupun vaksin untuk pencegahannya. Dengan demikian, untuk penangkal infeksi coronavirus, tampaknya, perlu dipertimbangkan pengembangan dan pengaplikasian ramuan plasma nutfah herbal tradisional yang sudah teruji berkhasiat antiviral dan antibakterial yang diolah sedemikian rupa didasarkan pada pendekatan bioteknologi modern. Penyakit viral akibat virus flu burung atau avian influenza virus (AIV) pada unggas, merupakan penyakit zoonotik yang telah tersebar luas di dunia. Pada awalnya, AIV yang disebabkan oleh AIV subtipe H5N1 mewabah di Asia Tenggara pada akhir 2003 yang selanjutnya wabah AIV tersebut merebak ke negara-negara lain. Di Indonesia, AIV subtipe H5N1 tersebut bersifat sangat ganas (highly pathogenic avian influenza virus H5N1) (AIV H5N1 HPAI). Berdasarkan pengamatan penulis, sejak 2006 sampai sekarang, AIV yang bersirkulasi di Indonesia, pada umumnya, sudah berubah menjadi AIV subtipe H5N1 yang bersifat tidak ganas (low pathogenic avian influenza virus H5N1 (AIV H5N1 LPAI). Unggas yang terinfeksi AIV H5N1 LPAI tampak normal (sehat), tidak menunjukkan gejala klinis, tetapi merupakan sumber AIV yang secara terus-menerus akan mngeluarkan dan menularkan AIV pada unggas lain. Jika terjadi gejala klinis maka yang terlihat adalah penururunan produksi telur, Infeksi AIV dapat menular dari unggas ke unggas lain yang peka dan menyebabkan banyak kematian pada unggas akibat adanya resiko mutasi yang disebut antigenic drift pada AIV H5N1 LPAI menjadi AIV H5N1 HPAI. AIV H5N1 LPAI juga dapat mengalami reaksi silang hospes (genetic shift atau genetic reassortment) yang memungkinkan AIV dapat menular ke manusia. Pada kejadian wabah penyakit pada unggas di lapangan, jika terjadi ayam sakit ataupun mati, pada umumnya, diakibatkan oleh infeksi campuran antara AIV dengan Escherichia coli, Newcastle disease virus, infectious bronchitis virus, infectious bursal disease maupun aspergillus. Mengingat, bahwa AIV telah menyatu dengan unggas di Indonesia dan beraksi sebagai penyebab utama penyakit viral dan sekaligus pemicu terjadinya infeksi sekunder, maka perlu upaya aplikasi produk dalam bentuk jasa dan barang berbasis bioteknologi modern yang mampu mendeteksi dini AIV dan mampu mencegah ikatan AIV dengan receptor (asam sialat) hospes, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mengaktifasi sel T, sekaligus antibakteri Gram positif dan Gram negatif, serta antitoksin. Produk berbasis bioteknologi modern anti AIV juga diharapkan mampu menginaktivasi AIV yang sudah menginfeksi dan masuk ke sel hospes. Selain itu, kondisi dalam tubuh ayam perlu diperkuat dengan pemberian elektrolit, vitamin E, selenium, multivitamin. Untuk mengatasi hal itu maka kondisi stres perlu diminimalisir dan kesehatan/kebersihan perlu diperketat. Harga Buku Zona 1 (Pulau Jawa, Bali, NTB, Lampung, Palembang) : Rp. 104.000 Harga Buku Zona 2 (Aceh, Medan, Pekanbaru, Padang, Batam, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, NTT) :Rp. 114.500 Harga Buku Zona 3 (Maluku, Papua) :Rp.130.000
See More Books